<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>elvbr</title>
    <link>https://elvbr-wp.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Fri, 15 May 2026 11:20:47 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Ellana, dan pengaduannya</title>
      <link>https://elvbr-wp.writeas.com/ellana-dan-pengaduannya?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[h4✎__Mingyu as Kalandra, The Bodyguard/h4&#xA;&#xA;•••&#xA;&#xA;“Katanya sushinya udah habis?”&#xA;&#xA;Bukan hanya pipi yang mengembung oleh satu potong lagi sushi salmon yang masuk ke dalam mulutnya, tetapi juga mulut yang masih aktif mengunyah itu tunjukkan cemberutnya sebagai sambutan untuk Kalandra. !--more--&#xA;&#xA;“Enak, tau!”&#xA;&#xA;Enak, sampai Ellana tidak bisa berhenti mengambilnya. Mau bagaimana lagi? Kalau disuguhkan segudang sushi pun sepertinya Ellana akan sanggup-sanggup saja menghabiskannya dalam waktu semalam.&#xA;&#xA;Dan Ellana yang selalu antusias dengan makanan kesukaannya, merupakan pemandangan menggemaskan di mata Kalandra sehingga begitu saja ibu jarinya tak lagi menahan diri; mengusap bibir yang dijejaki sisa shoyu dari santapan yang baru saja masuk, barulah dia ambilkan beberapa lembar tisu untuk sang nona.&#xA;&#xA;“Papa mana?”&#xA;&#xA;Ellana bertanya di bawah usapan tisu dari tangan Kalandra, kerjapan matanya terlalu mencolok tunjukkan betapa dirinya tidak punya ide kalau sebenarnya dia sedang tersesat kalau saja Kalandra tidak menemukannya.&#xA;&#xA;“Papa kamu udah ke hall di lantai bawah. Pertemuan sama koleganya di sana.”&#xA;&#xA;“Ish, terus aku ditinggalin di sini?”&#xA;&#xA;“Biar kamu bisa makan sushi sepuasnya.”&#xA;&#xA;Ellana menunjukkan cengirannya sebelum berjinjit untuk berbisik di dekat telinga Kalandra, “Aku udah ambil 18 potong. Nggak dimarahin, kan?”&#xA;&#xA;“Yang ada kamu nambah-nambahin kerjaan chef-nya.” &#xA;&#xA;Toyoran kecil di kening Ellana datang dari telunjuk Kalandra. Membuatnya kembali tunjukkan cemberut sementara Kalandra lekas tunjukkan senyum mengapresiasi untuk chef khusus yang memang ditugaskan membuat sushi secara langsung. &#xA;&#xA;Bukan suatu hal mengejutkan lagi kalau acara besar awal tahun di sini selalu menyajikan pesta  megah dan mewah. Setidaknya suguhan yang satu ini berhasil menggerakkan Ellana untuk keluar dari kamar dan mau bertemu sapa dengan orang-orang yang dikatakan kenalan papanya walau harus berakhir dengan kesan tidak menyenangkan.&#xA;&#xA;“Itu,” Ellana dengan yakin menunjuk seseorang yang berjarak beberapa meja dari tempatnya berdiri, “Orang yang ngerobekin baju aku,” lalu Ellana menunjukkan gaun merah muda pudarnya yang sudah tertoreh sobekan cukup besar di bagian pinggang sampai ke bawah pinggulnya.&#xA;&#xA;Dengan santainya, Ellana memberi lihat betapa sobekan itu berhasil menunjukkan kulit putih pucatnya sampai dalaman berwarna senada. Tanpa dia sadari kalau itu memancing kekesalan Kalandra sehingga tanpa banyak berpikir dia lepaskan jas hitam formalnya untuk disampirkan ke pundak kecil Ellana yang terbuka, menutupi aurat yang tak semestinya diperlihatkan apalagi padanya itu.&#xA;&#xA;“Padahal baru kali ini aku pesen khusus ke Tante Nesya buat hari ini. Tapi malah dirusakin sama orang jelek!” dumal Ellana. “Dia selengkat kaki aku jadinya aku jatuh terus sobek kayak gini. Tapi kayaknya aku mulai gendutan karena gaunnya jadi gampang sobek, ya?”&#xA;&#xA;Kalandra masih terdiam. Mengamati bagaimana ekspresi Ellana berubah-ubah. Dari kesal, lalu bingung, lalu berubah kesal lagi, lalu sedikit merenung, hanya kerjapan matanya yang tidak sedikitpun mengubah keluguannya di tiap menuturkan aduannya pada Kalandra.&#xA;&#xA;“Kamu kebanyakan makan sushi.”&#xA;&#xA;“Ish!” Ellana dan raut cemberutnya pun tidak berubah. “Kalau gitu habis ini aku makan sashimi aja!”&#xA;&#xA;Bahkan, sampai Kalandra sudah dibuat campur aduk oleh tingkahnya, Ellana masih dengan mudahnya menggamit lengan Kalandra untuk mengajaknya pergi.&#xA;&#xA;Satu gelas minuman soda merah Kalandra ambil ketika Ellana memilih mengambil air putih. Kalau gadis itu meneguknya sampai habis, Kalandra tidak menyesapnya sedikitpun. Karena sesungguhnya, dia gunakan itu sebagai alibinya untuk menendang kaki laki-laki yang sangat kebetulan melewatinya, membuatnya tersandung bahkan jatuh secara memalukan sampai minuman di tangannya jatuh menumpahinya.&#xA;&#xA;“Are you okay?” dan Kalandra menambahkannya  dengan minuman soda merah di tangannya yang terulur, menyirami wajah yang dia terka berusia tak jauh darinya. “Sorry, I didn&#39;t realize my hands were not enough to give a help.”&#xA;&#xA;“The hell!!” tentu saja, dia marah bukan kepalang. Merah padam tanda malu langsung menyebar di muka ketimurannya. Dia berdiri dalam keadaan sudah berantakan, berlaga garang. “Are you nuts?! You did it on purpose!!”&#xA;&#xA;“Did I? I thought I was just walking past you then you suddenly fell.”&#xA;&#xA;“What a bullshit! I know that you tripped me, asshole!!”&#xA;&#xA;Oh, sampai di sini, Kalandra mulai mengerti jenis watak yang tertanam dalam diri laki-laki ini. Menjadi bahan bakar kemarahannya lantaran Ellana harus merasakan sikap kasarnya sebelum ini. &#xA;&#xA;“And I know you tripped her until her special dress is not feasible for worn again.” Kalandra membalas dengan tenang namun, memperingati, “You should apologize to her.”&#xA;&#xA;Laki-laki itu terbahak, menarik perhatian lebih banyak pengunjung pesta di tempat ini sampai desas-desus mulai terdengar. Sontak saja, umpatan yang Kalandra kenali asalnya itu melantun cepat bersama ayunan tangan yang secara mengejutkan pula, berhasil Kalandra tangkap. Lalu satu tangan lainnya dengan mulus dia lepaskan dari genggaman Ellana untuk selangkah lebih maju mengambil ancang-ancang, ketika dia lebih dulu memuntir kencang kepalan tangan laki-laki itu agar dia kunci dengan kuat di punggung yang tidak terlihat kebugarannya itu sampai empunya memekik kesakitan.&#xA;&#xA;“Menurut lo, gimana reaksi bokap lo kalau tahu anaknya habis ngelecehin anak dari koleganya di sini?” Kalandra bertanya di dekat telinga laki-laki itu, mengejutkannya kalau ternyata dia sudah tahu siapa dia sebenarnya.&#xA;&#xA;“G-gue cuma nyapa dia! Gue nggak ngapa-ngapain!”&#xA;&#xA;“Jadi lo mau bilang kalau dia bohong?”&#xA;&#xA;“Enggak! Gue yang bohong! Gue udah insult dia! Gue bikin dia jatuh karena udah nolak ajakan gue tadi! Gue minta maaf!”&#xA;&#xA;“Minta maafnya ke dia.” &#xA;&#xA;Lalu Kalandra menarik laki-laki itu agar menghadap langsung pada Ellana yang sudah tercenung. Tidak mengira bahwa Kalandra berhasil membuat laki-laki yang sebelumnya tampak teramat pongah itu kini menciut seperti tikus terjepit perangkap.&#xA;&#xA;“M-maaf! Maaf!”&#xA;&#xA;“Yang benar.”&#xA;&#xA;“Iya, maaf! Maafin gue, ya? Maaf karena udah buat lo jatuh tadi.”&#xA;&#xA;Alih-alih membalas, Ellana memilih mundur lantaran sudah kepalang kesal hanya dengan melihat wajah yang kini sengaja dibuat memelas. Tahu jenis reaksi itu, maka Kalandra jauhkan laki-laki itu dari hadapannya sebelum dia lepaskan dalam satu sentakan keras, lalu memposisikan dirinya melindungi Ellana seraya membetulkan kemeja putihnya yang sudah terkena bercak soda dari aksinya tadi.&#xA;&#xA;“Nggak semua orang bisa lo perlakuan seenaknya hanya karena lo merasa punya kuasa atas nama bokap lo.” Kalandra membuat jeda untuk melangkah maju, yang mana dia harus menahan untuk tidak merotasikan matanya melihat laki-laki itu sontak mundur menciut, “Ubah sikap kurang ajar lo itu sebelum bokap lo sendiri yang bikin lo nggak bisa apa-apa nanti.”&#xA;&#xA;Barulah Kalandra mundur, meraih tangan Ellana untuk mengajaknya pergi dari kekacauan yang ternyata sudah menjadi pusat perhatian seluruh tamu di ballroom ini.&#xA;&#xA;Namun, secara mengejutkan Ellana kembali hanya demi menendang tulang kering laki-laki itu sampai terdengar erang kesakitan menggema.&#xA;&#xA;“Buat kamu yang udah ngerobekin baju aku. Ini bikinnya susah, tau! Harganya bahkan lebih mahal dari baju kamu!”&#xA;&#xA;Barulah Ellana berbalik pagi dengan kaki menghentak-hentak, kali ini dialah yang menggenggam tangan Kalandra, menariknya keluar dari tempat ini diiringi desas-desus para saksi yang terpukau atas insiden tersebut.&#xA;&#xA;“Tahu dari mana kalau baju dia enggak lebih mahal dari kamu?”&#xA;&#xA;Barulah Kalandra bersuara mencairkan suasana setelah berhasil keluar dari sana, mengambil alih tangan Ellana agar tidak lagi terburu-buru.&#xA;&#xA;“Aku tahu merk-nya. Harganya sekitar 12 juta. Tapi kelihatan norak di dia. Papa malah jauh lebih keren.”&#xA;&#xA;Jawaban yang masih bersungut-sungut itu malah sedikit menghibur Kalandra. Butuh waktu bagi Ellana untuk bisa menenangkan diri, dan Kalandra memaklumi itu.&#xA;&#xA;“Kalau punya kamu?”&#xA;&#xA;“Dua puluh,” tapi itu bukan lagi suatu kebanggaan bagi Ellana. “Gara-gara dia, aku jadi cuma bisa pake sekali. Padahal Tante Nesya udah susah-susah bikinnya.”&#xA;&#xA;“Nanti kita konsultasi ke Tante Nesya. Siapa tahu bisa dibetulin.”&#xA;&#xA;Hanya dengan begitu, suasana hati Ellana nampak berubah. Seakan-akan yang disesalinya itu sudah berlalu dengan berkata, “Nanti jadi ke akuarium, kan?”&#xA;&#xA;Namun, Kalandra anggap itu hal melegakan sebab nonanya tidak perlu berlama-lama berkutat dengan kemarahannya.&#xA;&#xA;“Iya, jadi.”&#xA;&#xA;“Habis itu ke museum es krim!”&#xA;&#xA;“Iya.”&#xA;&#xA;“Besok ke Universal Studio, ya!”&#xA;&#xA;“Kalau kamu nggak capek.”&#xA;&#xA;“Nggak bakal capek!”&#xA;&#xA;Dan segala celotehan Ellana di tiap langkahnya yang sudah Kalandra tanggapi dengan senyuman, adalah pemandangan yang tanpa mereka tahu akan ditangkap oleh mata jeli Rajendra.&#xA;&#xA;Bagaimana putrinya itu berlari-lari kecil mengikuti helaan genggaman Kalandra disertai ocehan yang samar-samar terdengar dari tempatnya muncul melalui eskalator, bagaimana Kalandra menekan tombol elevator lalu mengajak putrinya masuk masih disertai tingkahnya yang menakjubkan, adalah adegan yang tidak disangka akan menbuat Rajendra tersenyum di sela obrolannya bersama para kolega.&#xA;&#xA;Setidaknya, Rajendra semakin yakin bahwa putrinya sudah berada di genggaman yang tepat.&#xA;&#xA;Walau beliau belum tahu kalau di balik pintu elevator yang mulai membawa kedua muda-mudi itu kembali ke tempat semula, masih ada Ellana dengan kejutan yang terkadang masih perlu Kalandra adaptasikan.&#xA;&#xA;“Kalan, aku udah bilang ke Tante Nesya biar nanti bikinin aku baju pengantin.”&#xA;&#xA;— :)]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h4>✎__Mingyu as Kalandra, The Bodyguard</h4>

<p>•••</p>

<p>“Katanya sushinya udah habis?”</p>

<p>Bukan hanya pipi yang mengembung oleh satu potong lagi sushi salmon yang masuk ke dalam mulutnya, tetapi juga mulut yang masih aktif mengunyah itu tunjukkan cemberutnya sebagai sambutan untuk Kalandra. </p>

<p>“Enak, tau!”</p>

<p><em>Enak,</em> sampai Ellana tidak bisa berhenti mengambilnya. Mau bagaimana lagi? Kalau disuguhkan segudang sushi pun sepertinya Ellana akan sanggup-sanggup saja menghabiskannya dalam waktu semalam.</p>

<p>Dan Ellana yang selalu antusias dengan makanan kesukaannya, merupakan pemandangan menggemaskan di mata Kalandra sehingga begitu saja ibu jarinya tak lagi menahan diri; mengusap bibir yang dijejaki sisa shoyu dari santapan yang baru saja masuk, barulah dia ambilkan beberapa lembar tisu untuk sang nona.</p>

<p>“Papa mana?”</p>

<p>Ellana bertanya di bawah usapan tisu dari tangan Kalandra, kerjapan matanya terlalu mencolok tunjukkan betapa dirinya tidak punya ide kalau sebenarnya dia sedang tersesat kalau saja Kalandra tidak menemukannya.</p>

<p>“Papa kamu udah ke <em>hall</em> di lantai bawah. Pertemuan sama koleganya di sana.”</p>

<p>“Ish, terus aku ditinggalin di sini?”</p>

<p>“Biar kamu bisa makan sushi sepuasnya.”</p>

<p>Ellana menunjukkan cengirannya sebelum berjinjit untuk berbisik di dekat telinga Kalandra, “Aku udah ambil 18 potong. Nggak dimarahin, kan?”</p>

<p>“Yang ada kamu nambah-nambahin kerjaan chef-nya.”</p>

<p>Toyoran kecil di kening Ellana datang dari telunjuk Kalandra. Membuatnya kembali tunjukkan cemberut sementara Kalandra lekas tunjukkan senyum mengapresiasi untuk chef khusus yang memang ditugaskan membuat sushi secara langsung.</p>

<p>Bukan suatu hal mengejutkan lagi kalau acara besar awal tahun di sini selalu menyajikan pesta  megah dan mewah. Setidaknya suguhan yang satu ini berhasil menggerakkan Ellana untuk keluar dari kamar dan mau bertemu sapa dengan orang-orang yang dikatakan <em>kenalan papanya</em> walau harus berakhir dengan kesan tidak menyenangkan.</p>

<p>“Itu,” Ellana dengan yakin menunjuk seseorang yang berjarak beberapa meja dari tempatnya berdiri, “Orang yang ngerobekin baju aku,” lalu Ellana menunjukkan gaun merah muda pudarnya yang sudah tertoreh sobekan cukup besar di bagian pinggang sampai ke bawah pinggulnya.</p>

<p>Dengan santainya, Ellana memberi lihat betapa sobekan itu berhasil menunjukkan kulit putih pucatnya sampai dalaman berwarna senada. Tanpa dia sadari kalau itu <em>memancing</em> kekesalan Kalandra sehingga tanpa banyak berpikir dia lepaskan jas hitam formalnya untuk disampirkan ke pundak kecil Ellana yang terbuka, menutupi <em>aurat</em> yang tak semestinya diperlihatkan apalagi padanya itu.</p>

<p>“Padahal baru kali ini aku pesen khusus ke Tante Nesya buat hari ini. Tapi malah dirusakin sama orang jelek!” dumal Ellana. “Dia selengkat kaki aku jadinya aku jatuh terus sobek kayak gini. Tapi kayaknya aku mulai gendutan karena gaunnya jadi gampang sobek, ya?”</p>

<p>Kalandra masih terdiam. Mengamati bagaimana ekspresi Ellana berubah-ubah. Dari kesal, lalu bingung, lalu berubah kesal lagi, lalu sedikit merenung, hanya kerjapan matanya yang tidak sedikitpun mengubah keluguannya di tiap menuturkan aduannya pada Kalandra.</p>

<p>“Kamu kebanyakan makan sushi.”</p>

<p>“Ish!” Ellana dan raut cemberutnya pun tidak berubah. “Kalau gitu habis ini aku makan sashimi aja!”</p>

<p>Bahkan, sampai Kalandra sudah dibuat campur aduk oleh tingkahnya, Ellana masih dengan mudahnya menggamit lengan Kalandra untuk mengajaknya pergi.</p>

<p>Satu gelas minuman soda merah Kalandra ambil ketika Ellana memilih mengambil air putih. Kalau gadis itu meneguknya sampai habis, Kalandra tidak menyesapnya sedikitpun. Karena sesungguhnya, dia gunakan itu sebagai alibinya untuk menendang kaki laki-laki yang sangat kebetulan melewatinya, membuatnya tersandung bahkan jatuh secara memalukan sampai minuman di tangannya jatuh menumpahinya.</p>

<p>“<em>Are you okay?</em>” dan Kalandra menambahkannya  dengan minuman soda merah di tangannya yang terulur, menyirami wajah yang dia terka berusia tak jauh darinya. “<em>Sorry, I didn&#39;t realize my hands were not enough to give a help.</em>”</p>

<p>“<em>The hell!!</em>” tentu saja, dia marah bukan kepalang. Merah padam tanda malu langsung menyebar di muka ketimurannya. Dia berdiri dalam keadaan sudah berantakan, berlaga garang. “<em>Are you nuts?! You did it on purpose!!</em>”</p>

<p>“<em>Did I? I thought I was just walking past you then you suddenly fell.</em>”</p>

<p>“<em>What a bullshit! I know that you tripped me, asshole!!</em>”</p>

<p>Oh, sampai di sini, Kalandra mulai mengerti jenis watak yang tertanam dalam diri laki-laki ini. Menjadi bahan bakar kemarahannya lantaran Ellana harus merasakan sikap kasarnya sebelum ini.</p>

<p>“<em>And I know you tripped her until her special dress is not feasible for worn again.</em>” Kalandra membalas dengan tenang namun, memperingati, “<em>You should apologize to her.</em>”</p>

<p>Laki-laki itu terbahak, menarik perhatian lebih banyak pengunjung pesta di tempat ini sampai desas-desus mulai terdengar. Sontak saja, umpatan yang Kalandra kenali asalnya itu melantun cepat bersama ayunan tangan yang secara mengejutkan pula, berhasil Kalandra tangkap. Lalu satu tangan lainnya dengan mulus dia lepaskan dari genggaman Ellana untuk selangkah lebih maju mengambil ancang-ancang, ketika dia lebih dulu memuntir kencang kepalan tangan laki-laki itu agar dia kunci dengan kuat di punggung yang tidak terlihat kebugarannya itu sampai empunya memekik kesakitan.</p>

<p>“Menurut lo, gimana reaksi bokap lo kalau tahu anaknya habis ngelecehin anak dari koleganya di sini?” Kalandra bertanya di dekat telinga laki-laki itu, mengejutkannya kalau ternyata dia sudah tahu siapa dia sebenarnya.</p>

<p>“G-gue cuma nyapa dia! Gue nggak ngapa-ngapain!”</p>

<p>“Jadi lo mau bilang kalau dia bohong?”</p>

<p>“Enggak! Gue yang bohong! Gue udah <em>insult</em> dia! Gue bikin dia jatuh karena udah nolak ajakan gue tadi! Gue minta maaf!”</p>

<p>“Minta maafnya ke dia.”</p>

<p>Lalu Kalandra menarik laki-laki itu agar menghadap langsung pada Ellana yang sudah tercenung. Tidak mengira bahwa Kalandra berhasil membuat laki-laki yang sebelumnya tampak teramat pongah itu kini menciut seperti tikus terjepit perangkap.</p>

<p>“M-maaf! Maaf!”</p>

<p>“Yang benar.”</p>

<p>“Iya, maaf! Maafin gue, ya? Maaf karena udah buat lo jatuh tadi.”</p>

<p>Alih-alih membalas, Ellana memilih mundur lantaran sudah kepalang kesal hanya dengan melihat wajah yang kini sengaja dibuat memelas. Tahu jenis reaksi itu, maka Kalandra jauhkan laki-laki itu dari hadapannya sebelum dia lepaskan dalam satu sentakan keras, lalu memposisikan dirinya melindungi Ellana seraya membetulkan kemeja putihnya yang sudah terkena bercak soda dari aksinya tadi.</p>

<p>“Nggak semua orang bisa lo perlakuan seenaknya hanya karena lo merasa punya kuasa atas nama bokap lo.” Kalandra membuat jeda untuk melangkah maju, yang mana dia harus menahan untuk tidak merotasikan matanya melihat laki-laki itu sontak mundur menciut, “Ubah sikap kurang ajar lo itu sebelum bokap lo sendiri yang bikin lo nggak bisa apa-apa nanti.”</p>

<p>Barulah Kalandra mundur, meraih tangan Ellana untuk mengajaknya pergi dari kekacauan yang ternyata sudah menjadi pusat perhatian seluruh tamu di <em>ballroom</em> ini.</p>

<p>Namun, secara mengejutkan Ellana kembali hanya demi menendang tulang kering laki-laki itu sampai terdengar erang kesakitan menggema.</p>

<p>“Buat kamu yang udah ngerobekin baju aku. Ini bikinnya susah, tau! Harganya bahkan lebih mahal dari baju kamu!”</p>

<p>Barulah Ellana berbalik pagi dengan kaki menghentak-hentak, kali ini dialah yang menggenggam tangan Kalandra, menariknya keluar dari tempat ini diiringi desas-desus para saksi yang terpukau atas insiden tersebut.</p>

<p>“Tahu dari mana kalau baju dia enggak lebih mahal dari kamu?”</p>

<p>Barulah Kalandra bersuara mencairkan suasana setelah berhasil keluar dari sana, mengambil alih tangan Ellana agar tidak lagi terburu-buru.</p>

<p>“Aku tahu merk-nya. Harganya sekitar 12 juta. Tapi kelihatan norak di dia. Papa malah jauh lebih keren.”</p>

<p>Jawaban yang masih bersungut-sungut itu malah sedikit menghibur Kalandra. Butuh waktu bagi Ellana untuk bisa menenangkan diri, dan Kalandra memaklumi itu.</p>

<p>“Kalau punya kamu?”</p>

<p>“Dua puluh,” tapi itu bukan lagi suatu kebanggaan bagi Ellana. “Gara-gara dia, aku jadi cuma bisa pake sekali. Padahal Tante Nesya udah susah-susah bikinnya.”</p>

<p>“Nanti kita konsultasi ke Tante Nesya. Siapa tahu bisa dibetulin.”</p>

<p>Hanya dengan begitu, suasana hati Ellana nampak berubah. Seakan-akan yang disesalinya itu sudah berlalu dengan berkata, “Nanti jadi ke akuarium, kan?”</p>

<p>Namun, Kalandra anggap itu hal melegakan sebab <em>nonanya</em> tidak perlu berlama-lama berkutat dengan kemarahannya.</p>

<p>“Iya, jadi.”</p>

<p>“Habis itu ke museum es krim!”</p>

<p>“Iya.”</p>

<p>“Besok ke Universal Studio, ya!”</p>

<p>“Kalau kamu nggak capek.”</p>

<p>“Nggak bakal capek!”</p>

<p>Dan segala celotehan Ellana di tiap langkahnya yang sudah Kalandra tanggapi dengan senyuman, adalah pemandangan yang tanpa mereka tahu akan ditangkap oleh mata jeli Rajendra.</p>

<p>Bagaimana putrinya itu berlari-lari kecil mengikuti helaan genggaman Kalandra disertai ocehan yang samar-samar terdengar dari tempatnya muncul melalui eskalator, bagaimana Kalandra menekan tombol elevator lalu mengajak putrinya masuk masih disertai tingkahnya yang menakjubkan, adalah adegan yang tidak disangka akan menbuat Rajendra tersenyum di sela obrolannya bersama para kolega.</p>

<p>Setidaknya, Rajendra semakin yakin bahwa putrinya sudah berada di genggaman yang tepat.</p>

<p>Walau beliau belum tahu kalau di balik pintu elevator yang mulai membawa kedua muda-mudi itu kembali ke tempat semula, masih ada Ellana dengan kejutan yang terkadang masih perlu Kalandra adaptasikan.</p>

<p>“Kalan, aku udah bilang ke Tante Nesya biar nanti bikinin aku baju pengantin.”</p>

<p>— :)</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://elvbr-wp.writeas.com/ellana-dan-pengaduannya</guid>
      <pubDate>Sat, 22 Mar 2025 13:16:19 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>To love, and to cherish....</title>
      <link>https://elvbr-wp.writeas.com/to-love-and-to-cherish?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[h4✎__Dokyeom as Arthur, The Hidden Prince  - Pt.22/h4&#xA;&#xA;•••&#xA;&#xA;Aku tahu bahwa perjuanganku tidak akan berhenti di sini saja.&#xA;&#xA;Ketika kakiku kembali memijak pelataran kastilnya, bisa kurasakan betapa tanganku mulai berkeringat dingin. Rasanya sama seperti saat aku mendatangi tempat ini untuk kali pertama demi memenuhi wasiat itu. !--more--&#xA;&#xA;Walau sambutan penuh hangat kudapatkan dari para penghuni kastil, termasuk Sir Felix yang menunjukkan senyum sopan bermurah hati, aku tidak lantas merasakan lega yang kuinginkan.&#xA;&#xA;“Yang Mulia Ratu Margaret menunggu kepulangan Anda sekalian.”&#xA;&#xA;Karena pemberitahuan dari Sir Nicholas menjadi alasanku untuk terus menyembunyikan senyumku.&#xA;&#xA;Aku bisa melihat bagaimana Arthur menengokku; membawa tanganku agar bergelayut di lengannya lalu menangkupnya dengan tangan besar hangatnya. Dia berbicara melalui gesturnya, melalui usapan kecilnya, bahwa aku akan baik-baik saja di sampingnya.&#xA;&#xA;Langkah kaki kami bagai menggema bersama beberapa pasang sepatu yang mengikuti di belakang. Sir Nicholas bersama Sir Felix dengan kompak membukakan pintu ruang pertemuan agar kami masuk tanpa mereka. Memberi privasi bagi kami untuk berhadapan langsung dengan Ratu Margaret yang telah menunggu bersama secangkir teh yang baru saja disesapnya.&#xA;&#xA;Manik tegasnya seketika menangkapku. Ada pandangan menilai di sana, dan mungkin, ada ketidaksenangan yang sedang ia sembunyikan di balik sorot netralnya bagai tidak terpengaruh oleh kehadiranku kembali kemari.&#xA;&#xA;“Istana begitu gaduh semenjak ditinggalkan olehmu, Arthur. Apa yang membuatmu begitu lama membawanya pulang?”&#xA;&#xA;“Dia butuh waktu untuk memutuskan kembali kemari setelah apa yang sudah istana perbuat kepadanya. Aku rasa itu ganjaran yang pantas bagiku dan kalian untuk diterima.”&#xA;&#xA;Seketika aku menundukkan pandangan. Merasa tidak kuasa untuk sekadar menegur Arthur karena sudah bicara cukup lancang pada sang ratu, pada ibunya.&#xA;&#xA;“Lantas, apa yang ingin kau lakukan dengan berita kalian yang sudah tersebar luas ini? Kau ingin melempar semua masalah ini kepadaku? Aku tidak pernah mengajarkanmu untuk lari dari masalah terlebih kau sudah menyandang status sebagai seorang pangeran, Arthur.”&#xA;&#xA;“Alasan mengapa kami harus menjalin hubungan secara diam-diam adalah karena wasiat istana. Jadi bukankah sudah semestinya bila istana, termasuk kau, bertanggung jawab atas kegaduhan ini, Yang Mulia Ratu?”&#xA;&#xA;Denting cangkir yang diletakkan cukup tegas di atas meja itu berhasil menyentakku. Melalui balik bulu mata, aku menyaksikan Ratu Margaret berdiri dari duduknya dan seketika aura tegang mengental di sekitar kami. Atau mungkin ini hanya aku yang merasakannya.&#xA;&#xA;Ratu Margaret tidak lekas bicara, sehingga aku bisa merasakan tatapannya bagai tengah melubangi kepalaku yang tertunduk dalam. Tetapi, itu tidak bertahan lama ketika embus napas beratnya terdengar jelas menggema di ruangan ini.&#xA;&#xA;“Jadi, apakah ini keputusanmu? Kau ingin mengaku bahwa kau sudah menikah dan akan memiliki anak? Di saat tidak ada sedikitpun dari kita yang berencana untuk membongkar semua ini dalam waktu dekat?”&#xA;&#xA;“Tidakkah itu jauh lebih baik dibandingkan membiarkan bola api yang sudah dilempar semakin membesar karena kami tidak berkata jujur? Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang pernah kau perbuat padaku di masa lalu, Ibu. Aku tidak mau menyembunyikan istri dan anakku hanya karena ingin menjaga nama baik istana dan kerajaan.”&#xA;&#xA;Saat itu juga, aku mengangkat pandanganku untuk mendongak kepadanya. Menatapnya dengan sorot tidak percaya akan apa yang baru saja kudengar darinya. Terlebih aku merasakan bagaimana tangannya yang terus menangkup milikku yang gemetaran berpegangan di lengannya, aku merasa bahwa dia menyuruhku untuk tetap diam dan membiarkan hanya dirinya yang berbicara....&#xA;&#xA;“Aku rasa jika kalian terlalu lama membiarkan ini mengendap, tidakkah itu sama saja seperti menganggap pernikahan kami adalah aib? Di saat seharusnya ini merupakan momen sakral yang bisa didoakan oleh semua orang agar tidak ada lagi kesialan seperti ini.”&#xA;&#xA;Ketika kuberanikan diri untuk menatap Ratu Margaret, aku mencelus menyaksikan reaksi yang terpapar di wajah ayunya. Mata tegasnya bergetar akan ketidaksiapan. Bibirnya menipis menahan sesuatu yang hendak mencuat hingga rahangnya mengetat keras. &#xA;&#xA;Ratu Margaret tampak kehabisan kata.&#xA;&#xA;Aku sedikit mengerti bahwa ucapan Arthur pastinya telah menyinggung perasaannya. Aku bahkan dapat melihat adanya luka yang berusaha beliau sembunyikan melalui palingan wajah untuk mengatur napasnya sejenak. &#xA;&#xA;Dan aku sedikit tahu..., bahwa mungkin, ini bukanlah keadaan yang ia sendiri pun inginkan terjadi....&#xA;&#xA;“Very well.”&#xA;&#xA;Ratu Margaret akhirnya bersuara. Secara mengejutkan, tidak melakukan perlawanan dan masih dengan keanggunannya, beliau berjalan ke arah kami lalu berhenti beberapa langkah di hadapan kami. Di hadapanku.&#xA;&#xA;“Take care of your wife. And the baby—” Ia menatapku lurus tanpa gentar. Menggantungkan kalimatnya beberapa saat sebelum ia tutup dengan lugas, “Don&#39;t ever let us down by taking the baby away, again, Princess Bella. They will be the heir to this kingdom.”&#xA;&#xA;Setelah mengatakan demikian, Ratu Margaret melangkah tegap melewati kami. Masih dengan dagu menegak tinggi sampai wujudnya keluar dari ruangan ini. Menyisakan diriku yang terpaku oleh kebingungan mengalir deras di sekujur tubuhku yang masih menegang.&#xA;&#xA;Apa maksud dari ucapannya barusan? Mengapa Ratu Margaret berkata seakan-akan ia mulai menerimaku?&#xA;&#xA;“Bella.”&#xA;&#xA;Apa maksud dari mereka akan menjadi pewaris dari kerajaan ini? Bukankah..., bukankah aku dan bayi ini tidak diterima olehnya...? Bukankah dia tidak sudi bila aku tetap berada di—&#xA;&#xA;“Bella? Hey.”&#xA;&#xA;Fokusku seakan baru saja kembali entar dari mana. Membuatku tersadar bahwa Arthur telah menangkup wajahku dengan kelembutannya, memberi tatapan sekaligus senyum meneduhkan yang justru semakin membingungkanku.&#xA;&#xA;“Apa maksud dari ucapannya, Arthur...?”&#xA;&#xA;Bukan jawaban langsung yang Arthur berikan. Melainkan kecupan lembut di keningku yang sempatkan aku memejam sebelum kembali bertemu tatap dengannya.&#xA;&#xA;“It means we are going to the palace.” Dia mengatakannya dalam gumam rendah, bersama jemarinya membawa surai rambutku ke balik telinga. “As the royal prince with his princess.”&#xA;&#xA;Aku menggeleng tidak mengerti. “Saya kira kita akan tetap di sini atau justru kembali ke Avon.”&#xA;&#xA;Dia tertawa kecil seakan-akan ucapanku begitu lucu untuk didengarnya. Apalagi setelahnya, dia memelukku dengan lembut, menghirup napas di sisi kepalaku dan kurasakan bibirnya berlabuh di sana.&#xA;&#xA;“We’ll go there when we get a long holiday. But now, we will start a new chapter in the palace.”&#xA;&#xA;Aku masih harus mencerna semua ini ketika dia melepas rangkulan untuk kemudian menggenggam kedua tanganku. Obsidian gelapnya menyelamiku begitu dalam, begitu lekat sebagaimana dengan bibirnya mulai menciumi punggung tanganku.&#xA;&#xA;“Bella.”&#xA;&#xA;“Arthur....”&#xA;&#xA;Panggil kami secara bersamaan. Di mana selanjutnya, Arthur mengecup bibirku seakan meminta agar aku memberinya kesempatan lebih dulu.&#xA;&#xA;“Sejak awal kau menginjakkan kakimu di sini, kau sudah menjadi bagian dari kerajaan ini, Bella. Dan ini akan menjadi permulaan yang pastinya tidak akan mudah terlebih aku mungkin akan membuatmu kewalahan. Tapi bisakah kau berjanji satu hal kepadaku?”&#xA;&#xA;Dia membuat jeda hanya untuk menatapku dengan sorot yang membuatku tak kuasa untuk menolaknya. Apalagi kedua tangannya tak henti menggenggam milikku, dengan ibu jarinya mengelusi tiap punggung tanganku.&#xA;&#xA;“Please, promise me that you will always be by my side. Whatever situation we face in the future, please stay with me, forever. Because I will no longer hesitate to run after you if you try to run away again.”&#xA;&#xA;Aku menggigit bibirku mendengar ucapan seriusnya, tetapi juga diiringi sirat lucu kala mengucapkan beberapa kata terakhirnya. Seakan-akan dia tengah berkelakar di tengah keseriusannya. Dan aku tidak dapat menyembunyikan senyumku lebih lama.&#xA;&#xA;“I mean it. I’m not joking since I&#39;ve had enough of being left by you for this long.” Dia menekankan bersama lengkungan manis di bibirnya. “And I’ve told you, no one can take you from me, Bella. Not even this kingdom. So If you leave me, again, of course I’ll definitely take you back to me.”&#xA;&#xA;“Arthur....”&#xA;&#xA;“Promise me, Bella.”&#xA;&#xA;Dia berusaha mendesak yang itu justru membuatku tak dapat menahan haru. Ada permohonan mendalam di tiap kata yang dia lontarkan kepadaku dan aku tahu bahwa dia sungguh-sungguh dan tulus.&#xA;&#xA;Betapa dia tidak ingin kehilanganku lagi. Sebagaimana denganku yang juga tidak ingin kehilangan dirinya.&#xA;&#xA;“I promise,” ujarku pelan, tetapi penuh dengan keyakinan beserta hatiku turut berjanji kepadanya. “And I promise to always love you. So please promise me to do the same, please promise me to love our baby. No matter how our situation may be.”&#xA;&#xA;Dia kembali mencium punggung tanganku. Tatapannya tak sedikitpun berpaling dariku. Bahkan ketika dia mengucapkan, “For better, for worse, for richer, for poorer, in sickness and in health,” kemudian dia merengkuh pipiku kembali, untuk memberikan kecup kecilnya di kelopak mataku. “To love and to cherish.” Lalu hidung bangirnya menyapa milikku. “This is my solemn vow to you, Bella. And I&#39;ve sworn to never break it no matter what.”&#xA;&#xA;Seharusnya aku menangis terharu. Seharusnya aku membalas janji ikrarnya yang dia ulangi dan masih terasa kuatnya menggetarkan hati seperti di kali pertama dia mengutarakannya di altar dulu.&#xA;&#xA;Tetapi aku malah bereaksi sebaliknya. Membuatnya harus terkesiap kaget kala aku membekap mulutku atas mual yang tiba-tiba datang. Sertamerta, seakan sama-sama tahu, baik tanganku maupun tangannya kontan mendekap perutku.&#xA;Seharusnya aku sudah melewati morning sickness-ku hari ini. Tetapi, entah mengapa gejala ini harus kembali di saat yang tidak semestinya. &#xA;&#xA;“Bella, are you okay?”&#xA;&#xA;Aku mendongak padanya yang telah berganti menatapku khawatir. Sehingga yang kukatakan selanjutnya adalah, “I think Cheesecake is too nervous....”&#xA;&#xA;Menimbulkan tawa kecil merdu dari Arthur yang sertamerta mendekapku dengan erat. Untuk kesekian kalinya, dia memberi ciuman di kepalaku; penuh kasih sayang, penuh cinta, sebagaimana dengan tutur katanya yang tak luput menunjukkan betapa aku begitu berharga untuknya.&#xA;&#xA;“We should make it comfortable in this house,” bisiknya meyakinkan, “They will be our proud heir in this kingdom. Just as I am so proud to have you.”&#xA;&#xA;Jika ini memang sudah waktunya bagiku untuk berbahagia, maka aku akan menerimanya.&#xA;&#xA;Jika setelah ini pun aku harus menerima rintangan yang mungkin akan membuatku menangis penuh lelah lagi, aku tetap akan menerimanya. &#xA;&#xA;Jika pada akhirnya kami tetap akan disembunyikan oleh dunia, itu tetap tidak apa-apa.&#xA;&#xA;Sebab aku akan tetap bersamanya.&#xA;&#xA;Aku tetap akan menggenggam tangannya, bahkan mendekap raganya dengan sangat nyata.&#xA;&#xA;Itu sudah lebih dari apa yang selama ini kusemogakan.&#xA;&#xA;Pada janji dan sumpah yang telah kami ikrarkan, aku bertekad untuk melanggengkannya dalam cinta yang terus tumbuh. Layaknya bunga-bunga tiada henti bermekaran di hati yang telah kudedikasikan padanya.&#xA;&#xA;Pada Arthur, pangeranku yang mulai dikenal oleh dunia, aku berjanji akan selalu mencintaimu sampai kapanpun.&#xA;&#xA;•••&#xA;&#xA;—the end :)]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h4>✎__Dokyeom as Arthur, The Hidden Prince  - Pt.22</h4>

<p>•••</p>

<p>Aku tahu bahwa perjuanganku tidak akan berhenti di sini saja.</p>

<p>Ketika kakiku kembali memijak pelataran kastilnya, bisa kurasakan betapa tanganku mulai berkeringat dingin. Rasanya sama seperti saat aku mendatangi tempat ini untuk kali pertama demi memenuhi wasiat itu. </p>

<p>Walau sambutan penuh hangat kudapatkan dari para penghuni kastil, termasuk Sir Felix yang menunjukkan senyum sopan bermurah hati, aku tidak lantas merasakan lega yang kuinginkan.</p>

<p>“Yang Mulia Ratu Margaret menunggu kepulangan Anda sekalian.”</p>

<p>Karena pemberitahuan dari Sir Nicholas menjadi alasanku untuk terus menyembunyikan senyumku.</p>

<p>Aku bisa melihat bagaimana Arthur menengokku; membawa tanganku agar bergelayut di lengannya lalu menangkupnya dengan tangan besar hangatnya. Dia berbicara melalui gesturnya, melalui usapan kecilnya, bahwa aku akan baik-baik saja di sampingnya.</p>

<p>Langkah kaki kami bagai menggema bersama beberapa pasang sepatu yang mengikuti di belakang. Sir Nicholas bersama Sir Felix dengan kompak membukakan pintu ruang pertemuan agar kami masuk tanpa mereka. Memberi privasi bagi kami untuk berhadapan langsung dengan Ratu Margaret yang telah menunggu bersama secangkir teh yang baru saja disesapnya.</p>

<p>Manik tegasnya seketika menangkapku. Ada pandangan menilai di sana, dan mungkin, ada ketidaksenangan yang sedang ia sembunyikan di balik sorot netralnya bagai tidak terpengaruh oleh kehadiranku kembali kemari.</p>

<p>“Istana begitu gaduh semenjak ditinggalkan olehmu, Arthur. Apa yang membuatmu begitu lama membawanya pulang?”</p>

<p>“Dia butuh waktu untuk memutuskan kembali kemari setelah apa yang sudah istana perbuat kepadanya. Aku rasa itu ganjaran yang pantas bagiku dan kalian untuk diterima.”</p>

<p>Seketika aku menundukkan pandangan. Merasa tidak kuasa untuk sekadar menegur Arthur karena sudah bicara cukup lancang pada sang ratu, <em>pada ibunya.</em></p>

<p>“Lantas, apa yang ingin kau lakukan dengan <em>berita kalian</em> yang sudah tersebar luas ini? Kau ingin melempar semua masalah ini kepadaku? Aku tidak pernah mengajarkanmu untuk lari dari masalah terlebih kau sudah menyandang status sebagai seorang <em>pangeran,</em> Arthur.”</p>

<p>“Alasan mengapa kami harus menjalin hubungan secara diam-diam adalah karena wasiat istana. Jadi bukankah sudah semestinya bila istana, <em>termasuk kau,</em> bertanggung jawab atas kegaduhan ini, <em>Yang Mulia Ratu?</em>”</p>

<p>Denting cangkir yang diletakkan cukup tegas di atas meja itu berhasil menyentakku. Melalui balik bulu mata, aku menyaksikan Ratu Margaret berdiri dari duduknya dan seketika aura tegang mengental di sekitar kami. Atau mungkin ini hanya aku yang merasakannya.</p>

<p>Ratu Margaret tidak lekas bicara, sehingga aku bisa merasakan tatapannya bagai tengah melubangi kepalaku yang tertunduk dalam. Tetapi, itu tidak bertahan lama ketika embus napas beratnya terdengar jelas menggema di ruangan ini.</p>

<p>“Jadi, apakah ini keputusanmu? Kau ingin mengaku bahwa <em>kau sudah menikah dan akan memiliki anak</em>? Di saat tidak ada sedikitpun dari <em>kita</em> yang berencana untuk membongkar semua ini dalam waktu dekat?”</p>

<p>“Tidakkah itu jauh lebih baik dibandingkan membiarkan bola api yang sudah dilempar semakin membesar karena kami tidak berkata jujur? Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang pernah kau perbuat padaku di masa lalu, <em>Ibu. Aku tidak mau menyembunyikan istri dan anakku hanya karena ingin menjaga nama baik istana dan kerajaan.</em>”</p>

<p>Saat itu juga, aku mengangkat pandanganku untuk mendongak kepadanya. Menatapnya dengan sorot tidak percaya akan apa yang baru saja kudengar darinya. Terlebih aku merasakan bagaimana tangannya yang terus menangkup milikku yang gemetaran berpegangan di lengannya, aku merasa bahwa dia menyuruhku untuk tetap diam dan membiarkan hanya dirinya yang berbicara....</p>

<p>“Aku rasa jika kalian terlalu lama membiarkan ini mengendap, tidakkah itu sama saja seperti menganggap <em>pernikahan kami adalah aib?</em> Di saat seharusnya ini merupakan <em>momen sakral</em> yang bisa didoakan oleh semua orang agar tidak ada lagi kesialan seperti ini.”</p>

<p>Ketika kuberanikan diri untuk menatap Ratu Margaret, aku mencelus menyaksikan reaksi yang terpapar di wajah ayunya. Mata tegasnya bergetar akan ketidaksiapan. Bibirnya menipis menahan sesuatu yang hendak mencuat hingga rahangnya mengetat keras.</p>

<p><em>Ratu Margaret tampak kehabisan kata.</em></p>

<p>Aku sedikit mengerti bahwa ucapan Arthur pastinya telah menyinggung perasaannya. Aku bahkan dapat melihat adanya luka yang berusaha beliau sembunyikan melalui palingan wajah untuk mengatur napasnya sejenak.</p>

<p>Dan aku sedikit tahu..., bahwa mungkin, ini bukanlah keadaan yang ia sendiri pun inginkan terjadi....</p>

<p>“<em>Very well.</em>”</p>

<p>Ratu Margaret akhirnya bersuara. Secara mengejutkan, tidak melakukan perlawanan dan masih dengan keanggunannya, beliau berjalan ke arah kami lalu berhenti beberapa langkah di hadapan kami. Di hadapanku.</p>

<p>“<em>Take care of your wife. And the baby—</em>” Ia menatapku lurus tanpa gentar. Menggantungkan kalimatnya beberapa saat sebelum ia tutup dengan lugas, “<em>Don&#39;t ever let us down by taking the baby away, again, Princess Bella. They will be the heir to this kingdom.</em>”</p>

<p>Setelah mengatakan demikian, Ratu Margaret melangkah tegap melewati kami. Masih dengan dagu menegak tinggi sampai wujudnya keluar dari ruangan ini. Menyisakan diriku yang terpaku oleh kebingungan mengalir deras di sekujur tubuhku yang masih menegang.</p>

<p><em>Apa maksud dari ucapannya barusan? Mengapa Ratu Margaret berkata seakan-akan ia mulai menerimaku?</em></p>

<p>“Bella.”</p>

<p><em>Apa maksud dari mereka akan menjadi pewaris dari kerajaan ini? Bukankah..., bukankah aku dan bayi ini tidak diterima olehnya...? Bukankah dia tidak sudi bila aku tetap berada di—</em></p>

<p>“<em>Bella? Hey.</em>”</p>

<p>Fokusku seakan baru saja kembali entar dari mana. Membuatku tersadar bahwa Arthur telah menangkup wajahku dengan kelembutannya, memberi tatapan sekaligus senyum meneduhkan yang justru semakin membingungkanku.</p>

<p>“Apa maksud dari ucapannya, Arthur...?”</p>

<p>Bukan jawaban langsung yang Arthur berikan. Melainkan kecupan lembut di keningku yang sempatkan aku memejam sebelum kembali bertemu tatap dengannya.</p>

<p>“<em>It means we are going to the palace.</em>” Dia mengatakannya dalam gumam rendah, bersama jemarinya membawa surai rambutku ke balik telinga. “<em>As the royal prince with his princess.</em>”</p>

<p>Aku menggeleng tidak mengerti. “Saya kira kita akan tetap di sini atau justru kembali ke Avon.”</p>

<p>Dia tertawa kecil seakan-akan ucapanku begitu lucu untuk didengarnya. Apalagi setelahnya, dia memelukku dengan lembut, menghirup napas di sisi kepalaku dan kurasakan bibirnya berlabuh di sana.</p>

<p>“<em>We’ll go there when we get a long holiday. But now, we will start a new chapter in the palace.</em>”</p>

<p>Aku masih harus mencerna semua ini ketika dia melepas rangkulan untuk kemudian menggenggam kedua tanganku. Obsidian gelapnya menyelamiku begitu dalam, begitu lekat sebagaimana dengan bibirnya mulai menciumi punggung tanganku.</p>

<p>“Bella.”</p>

<p>“Arthur....”</p>

<p>Panggil kami secara bersamaan. Di mana selanjutnya, Arthur mengecup bibirku seakan meminta agar aku memberinya kesempatan lebih dulu.</p>

<p>“Sejak awal kau menginjakkan kakimu di sini, kau sudah menjadi bagian dari kerajaan ini, Bella. Dan ini akan menjadi permulaan yang pastinya tidak akan mudah terlebih aku mungkin akan membuatmu kewalahan. Tapi bisakah kau berjanji satu hal kepadaku?”</p>

<p>Dia membuat jeda hanya untuk menatapku dengan sorot yang membuatku tak kuasa untuk menolaknya. Apalagi kedua tangannya tak henti menggenggam milikku, dengan ibu jarinya mengelusi tiap punggung tanganku.</p>

<p>“<em>Please, promise me that you will always be by my side. Whatever situation we face in the future, please stay with me, forever. Because I will no longer hesitate to run after you if you try to run away again.</em>”</p>

<p>Aku menggigit bibirku mendengar ucapan seriusnya, tetapi juga diiringi sirat lucu kala mengucapkan beberapa kata terakhirnya. Seakan-akan dia tengah berkelakar di tengah keseriusannya. Dan aku tidak dapat menyembunyikan senyumku lebih lama.</p>

<p>“<em>I mean it. I’m not joking since I&#39;ve had enough of being left by you for this long.</em>” Dia menekankan bersama lengkungan manis di bibirnya. “<em>And I’ve told you, no one can take you from me, Bella. Not even this kingdom. So If you leave me, again, of course I’ll definitely take you back to me.</em>”</p>

<p>“<em>Arthur....</em>”</p>

<p>“<em>Promise me, Bella.</em>”</p>

<p>Dia berusaha mendesak yang itu justru membuatku tak dapat menahan haru. Ada permohonan mendalam di tiap kata yang dia lontarkan kepadaku dan aku tahu bahwa dia sungguh-sungguh dan tulus.</p>

<p>Betapa dia tidak ingin kehilanganku lagi. Sebagaimana denganku yang juga tidak ingin kehilangan dirinya.</p>

<p>“<em>I promise,</em>” ujarku pelan, tetapi penuh dengan keyakinan beserta hatiku turut berjanji kepadanya. “<em>And I promise to always love you. So please promise me to do the same, please promise me to love our baby. No matter how our situation may be.</em>”</p>

<p>Dia kembali mencium punggung tanganku. Tatapannya tak sedikitpun berpaling dariku. Bahkan ketika dia mengucapkan, “<em>For better, for worse, for richer, for poorer, in sickness and in health,</em>” kemudian dia merengkuh pipiku kembali, untuk memberikan kecup kecilnya di kelopak mataku. “<em>To love and to cherish.</em>” Lalu hidung bangirnya menyapa milikku. “<em>This is my solemn vow to you, Bella. And I&#39;ve sworn to never break it no matter what.</em>”</p>

<p>Seharusnya aku menangis terharu. Seharusnya aku membalas janji ikrarnya yang dia ulangi dan masih terasa kuatnya menggetarkan hati seperti di kali pertama dia mengutarakannya di altar dulu.</p>

<p>Tetapi aku malah bereaksi sebaliknya. Membuatnya harus terkesiap kaget kala aku membekap mulutku atas mual yang tiba-tiba datang. Sertamerta, seakan sama-sama tahu, baik tanganku maupun tangannya kontan mendekap perutku.
Seharusnya aku sudah melewati <em>morning sickness</em>-ku hari ini. Tetapi, entah mengapa gejala ini harus kembali di saat yang tidak semestinya.</p>

<p>“<em>Bella, are you okay?</em>”</p>

<p>Aku mendongak padanya yang telah berganti menatapku khawatir. Sehingga yang kukatakan selanjutnya adalah, “<em>I think Cheesecake is too nervous....</em>”</p>

<p>Menimbulkan tawa kecil merdu dari Arthur yang sertamerta mendekapku dengan erat. Untuk kesekian kalinya, dia memberi ciuman di kepalaku; penuh kasih sayang, <em>penuh cinta,</em> sebagaimana dengan tutur katanya yang tak luput menunjukkan betapa aku begitu berharga untuknya.</p>

<p>“<em>We should make it comfortable in this house,</em>” bisiknya meyakinkan, “<em>They will be our proud heir in this kingdom. Just as I am so proud to have you.</em>”</p>

<p>Jika ini memang sudah waktunya bagiku untuk berbahagia, maka aku akan menerimanya.</p>

<p>Jika setelah ini pun aku harus menerima rintangan yang mungkin akan membuatku menangis penuh lelah lagi, aku tetap akan menerimanya.</p>

<p>Jika pada akhirnya kami tetap akan disembunyikan oleh dunia, itu tetap tidak apa-apa.</p>

<p>Sebab aku akan tetap bersamanya.</p>

<p>Aku tetap akan menggenggam tangannya, bahkan mendekap raganya dengan sangat nyata.</p>

<p>Itu sudah lebih dari apa yang selama ini kusemogakan.</p>

<p>Pada janji dan sumpah yang telah kami ikrarkan, aku bertekad untuk melanggengkannya dalam cinta yang terus tumbuh. Layaknya bunga-bunga tiada henti bermekaran di hati yang telah kudedikasikan padanya.</p>

<p><em>Pada Arthur, pangeranku yang mulai dikenal oleh dunia, aku berjanji akan selalu mencintaimu sampai kapanpun.</em></p>

<p>•••</p>

<p>—<em>the end</em> :)</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://elvbr-wp.writeas.com/to-love-and-to-cherish</guid>
      <pubDate>Sat, 09 Nov 2024 13:21:06 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Will you come home with me?</title>
      <link>https://elvbr-wp.writeas.com/will-you-come-home-with-me?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[h4✎__Dokyeom as Arthur, The Hidden Prince  - Pt.22/h4&#xA;&#xA;•••&#xA;&#xA;“Mengapa Anda melakukannya?”&#xA;&#xA;“Because I’ve desperately missed you?”&#xA;&#xA;Jawaban yang diiringi tanda tanya itu berhasil membuatku mendengkus kecil. Apalagi selanjutnya, dia berikan kecupan manis di punggung tanganku yang memang sedari tadi terus digenggamnya.&#xA;&#xA;“Anda pasti sudah tahu resikonya. Bahkan sekarang sepertinya semua orang sudah tahu siapa saya karena wajah kita saat bersama sudah tersebar.” !--more--&#xA;&#xA;Rasanya sudah lama sekali aku tidak mendapatkan ketenangan ini. Padahal, aku sedang menuangkan kekhawatiranku atas berita yang belum lama ini kubaca. Aku yakin, istana kerajaan pun sedang panik atas terbongkarnya kebersamaan kami....&#xA;&#xA;Tapi mungkin karena sekarang aku berada di pelukannya, berbaring bersamanya yang mendekapku penuh kehangatan, aku tidak merasakan kecemasan yang bahkan sempat membuat perutku mual ingin muntah.&#xA;&#xA;“Aku tidak lagi memikirkan soal resiko karena aku hanya ingin mencarimu. Menurutmu apakah aku akan rela melakukan hal senekat itu jika bukan karena aku terlalu menginginkanmu?”&#xA;&#xA;Pertanyaan yang berhasil membuatku mendongak padanya. Bertemu dengan obsidian gelapnya yang membuatku berdesir karena aku masih mampu melihat sirat rindu di sana.&#xA;&#xA;Dia begitu merindukanku. Sama besarnya denganku yang begitu merindukannya....&#xA;&#xA;“Anda baru saja dinobatkan sebagai pangeran, Arthur. Semua masyarakat sedang menaruh perhatian dan antusiasnya pada Anda. Saya khawatir jika Anda berbuat gegabah seperti ini justru akan merugikan Anda juga.”&#xA;&#xA;“Then you want me to let you go far away where I can no longer reach you?” balasnya dengan sedikit kerutan di keningnya. “Aku tidak ingin menyesal lebih jauh hanya karena aku lebih mementingkan reputasiku dibandingkan kepergianmu, Bella.”&#xA;&#xA;Dia menarik napas begitu dalam, mengeratkan pelukannya kepadaku, menjelaskan secara tersirat bagaimana dia sungguh-sungguh dalam menahanku menjauh. Menahan kami menjauh. Sebab tangan lainnya beralih memeluk perutku dengan hati-hati.&#xA;&#xA;“Aku sudah cukup tersiksa dengan mendengar keputusanmu di malam itu. Aku berusaha melupakan itu, menganggap kau tidak pernah mengatakan hal itu dengan membiarkanmu pergi, dengan alasan memberimu waktu untuk menenangkan diri. Tapi ternyata aku menemukan kenyataan bahwa aku tidak bisa bersabar lebih lama.&#xA;&#xA;“I realized that I can’t lose you. I realized that my reputation is useless if I can&#39;t be with you. So I did everything to get you back even if I have to make everyone go crazy because of me. Even if I have to leave the kingdom after this.”&#xA;&#xA;Dia menggeleng pelan sembari menyatukan kening kami, memejam dalam hela napasnya kala hidung bangirnya menyentuh pipiku, menghiduku lamat-lamat.&#xA;&#xA;“I love you.” Dia mengucapkannya—lagi..., “And I will sacrifice anything to always love you closely like this. Because I&#39;m not the type of man who can give up his love for something else.”&#xA;&#xA;Bibirku mengulum senyum atas ucapannya yang membuatku membuncah akan haru. Rasanya sudah lama sekali aku merasakan sensasi ini. Bagaimana dia tersenyum di sela ucapan penuh artinya, lalu mengecup bibirku perlahan sehingga aku terpejam hanyut, merayuku dalam sentuhan yang begitu kurindukan sehingga aku kembali berbunga-bunga.&#xA;&#xA;Aku menyadari betapa dia berusaha berjuang di sini. Di tengah gempuran kewajibannya yang kini telah menjadi sorotan satu negara, dia tengah berjuang untuk tetap bisa menggenggam pernikahan ini. Dengan seluruh hatinya.&#xA;&#xA;Aku menyadari bahwa dia pun tengah menanggung resiko atas keputusannya dalam mengejarku sampai sejauh ini. Sehingga aku tidak mungkin lagi mengelak bahwa sesungguhnya, dia tengah memperjuangkan aku untuk kembali kepadanya.&#xA;&#xA;Karenanya, bukankah akan terdengar jahat jika aku menolaknya?&#xA;&#xA;Di samping rasa takutku, di samping rasa maluku atas masa lalu keluargaku, aku tidak dapat menampik bahwa cintaku padanya jauh lebih besar dari segala kekhawatiranku.&#xA;&#xA;Sejauh apapun aku berusaha berlari, sekeras apapun aku berusaha menjauh, aku tidak bisa mengelak bahwa aku menginginkan dirinya, lebih dari apapun.&#xA;&#xA;Mungkin jika dunia tidak mendukung kami, aku juga bersedia melarikan diri bersamanya. Aku bersedia tinggal di ujung dunia di mana tidak ada satupun yang peduli pada keberadaan kami, asalkan kami tinggal bersama.&#xA;&#xA;Kini aku mengerti maksud dari cinta itu gila. Aku mengerti arti dari cinta itu buta.&#xA;&#xA;Karena cintaku kepadanya membuatku berpikir bahwa tidak apa-apa jika aku kehilangan segalanya. Asalkan aku tetap bersamanya. Bersama bayi kami yang akan terus tumbuh di sini....&#xA;&#xA;“I can still be a florist for us.”&#xA;&#xA;Ucapanku yang begitu tiba-tiba ternyata berhasil mengundang kekeh kecil darinya yang baru saja melepas cumbuan. Napas hangatnya beradu denganku, menyapuku dalam sensasi yang membuatku melilit kesenangan sehingga begitu saja aku mengejar bibirnya agar kembali bertaut.&#xA;&#xA;“And I can still be a fencing coach or farmer.” Dia tersenyum melihatku turut terkekeh atas balasannya. “Don’t get me wrong, I have a lot of land in this country and it can fulfill your needs for a lifetime.”&#xA;&#xA;Entah apa yang lucu dari ucapannya, tetapi aku malah semakin tertawa yang membuat keningnya semakin berkerut walau dihiasi senyum sembari berkata, “I’m not joking, Bella. I will not be poor just because I am no longer a prince.”&#xA;&#xA;Ya, aku percaya padanya. Tetapi aku bahkan tidak berpikir hingga sejauh itu.&#xA;&#xA;Aku merasa teramat senang hanya karena dia pun berusaha membuktikan bahwa dia sangat ingin bersamaku. Dan itu lebih dari cukup bagiku untuk kembali mencium bibirnya yang terus melengkung manis. Setelah sekian lama aku tidak menyaksikan keindahan itu.&#xA;&#xA;Dan mungkin, kerinduan kami akan terus meluap tiada henti, bila saja ketukan halus dari pintu kamar yang sudah menjadi tempatku tinggal ini tidak menginterupsi kami.&#xA;&#xA;“Pangeran Arthur, aku harap kau tidak selamanya mengurung Princess Bella karena dia dan bayinya membutuhkan energi lebih banyak sebelum pulang bersamamu! Ini sudah waktunya makan malam!”&#xA;&#xA;Seruan Madam Lily di luar sana berhasil membuat kami terkekeh-kekeh. Aku yakin ini bukan hanya hormonku yang turut meluap-luap setelah sekian lama aku tidak bersentuhan dengannya. Tetapi juga karena aku telah menemukan kembali bahagia yang sempat menghilang begitu lama.&#xA;&#xA;“Will you come home with me tomorrow, My Princess?”&#xA;&#xA;Tanganku mengelusi rahangnya yang mengambang di atasku. Merasakan adanya jambang mulai tumbuh samar-samar di sana dan dengan lancangnya, aku mulai membayangkan bagaimana rasanya jika aku yang mencukurnya.&#xA;&#xA;“Take me home,” pintaku nyaris berbisik. “Take us home with you, Arthur.”&#xA;&#xA; —:)]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h4>✎__Dokyeom as Arthur, The Hidden Prince  - Pt.22</h4>

<p>•••</p>

<p>“Mengapa Anda melakukannya?”</p>

<p>“<em>Because I’ve desperately missed you?</em>”</p>

<p>Jawaban yang diiringi tanda tanya itu berhasil membuatku mendengkus kecil. Apalagi selanjutnya, dia berikan kecupan manis di punggung tanganku yang memang sedari tadi terus digenggamnya.</p>

<p>“Anda pasti sudah tahu resikonya. Bahkan sekarang sepertinya semua orang sudah tahu siapa saya karena wajah kita saat bersama sudah tersebar.” </p>

<p>Rasanya sudah lama sekali aku tidak mendapatkan ketenangan ini. Padahal, aku sedang menuangkan kekhawatiranku atas berita yang belum lama ini kubaca. Aku yakin, istana kerajaan pun sedang panik atas terbongkarnya kebersamaan kami....</p>

<p>Tapi mungkin karena sekarang aku berada di pelukannya, <em>berbaring bersamanya yang mendekapku penuh kehangatan,</em> aku tidak merasakan kecemasan yang bahkan sempat membuat perutku mual ingin muntah.</p>

<p>“Aku tidak lagi memikirkan soal resiko karena aku hanya ingin mencarimu. Menurutmu apakah aku akan rela melakukan hal senekat itu jika bukan karena aku terlalu menginginkanmu?”</p>

<p>Pertanyaan yang berhasil membuatku mendongak padanya. Bertemu dengan obsidian gelapnya yang membuatku berdesir karena aku masih mampu melihat sirat rindu di sana.</p>

<p><em>Dia begitu merindukanku. Sama besarnya denganku yang begitu merindukannya....</em></p>

<p>“Anda baru saja dinobatkan sebagai pangeran, Arthur. Semua masyarakat sedang menaruh perhatian dan antusiasnya pada Anda. Saya khawatir jika Anda berbuat gegabah seperti ini justru akan merugikan Anda juga.”</p>

<p>“<em>Then you want me to let you go far away where I can no longer reach you?</em>” balasnya dengan sedikit kerutan di keningnya. “Aku tidak ingin menyesal lebih jauh hanya karena aku lebih mementingkan reputasiku dibandingkan kepergianmu, Bella.”</p>

<p>Dia menarik napas begitu dalam, mengeratkan pelukannya kepadaku, menjelaskan secara tersirat bagaimana dia sungguh-sungguh dalam menahanku menjauh. <em>Menahan kami menjauh.</em> Sebab tangan lainnya beralih memeluk perutku dengan hati-hati.</p>

<p>“Aku sudah cukup tersiksa dengan mendengar keputusanmu di malam itu. Aku berusaha melupakan itu, menganggap kau tidak pernah mengatakan hal itu dengan membiarkanmu pergi, dengan alasan memberimu waktu untuk menenangkan diri. Tapi ternyata aku menemukan kenyataan bahwa aku tidak bisa bersabar lebih lama.</p>

<p>“<em>I realized that I can’t lose you. I realized that my reputation is useless if I can&#39;t be with you. So I did everything to get you back even if I have to make everyone go crazy because of me. Even if I have to leave the kingdom after this.</em>”</p>

<p>Dia menggeleng pelan sembari menyatukan kening kami, memejam dalam hela napasnya kala hidung bangirnya menyentuh pipiku, menghiduku lamat-lamat.</p>

<p>“<em>I love you.</em>” Dia mengucapkannya—<em>lagi...,</em> “<em>And I will sacrifice anything to always love you closely like this. Because I&#39;m not the type of man who can give up his love for something else.</em>”</p>

<p>Bibirku mengulum senyum atas ucapannya yang membuatku membuncah akan haru. Rasanya sudah lama sekali aku merasakan sensasi ini. Bagaimana dia tersenyum di sela ucapan penuh artinya, lalu mengecup bibirku perlahan sehingga aku terpejam hanyut, merayuku dalam sentuhan yang begitu kurindukan sehingga aku kembali berbunga-bunga.</p>

<p>Aku menyadari betapa dia berusaha berjuang di sini. Di tengah gempuran kewajibannya yang kini telah menjadi sorotan satu negara, dia tengah berjuang untuk tetap bisa menggenggam pernikahan ini. Dengan seluruh hatinya.</p>

<p>Aku menyadari bahwa dia pun tengah menanggung resiko atas keputusannya dalam mengejarku sampai sejauh ini. Sehingga aku tidak mungkin lagi mengelak bahwa sesungguhnya, <em>dia tengah memperjuangkan aku untuk kembali kepadanya.</em></p>

<p>Karenanya, bukankah akan terdengar jahat jika aku menolaknya?</p>

<p>Di samping rasa takutku, di samping rasa maluku atas masa lalu keluargaku, aku tidak dapat menampik bahwa cintaku padanya jauh lebih besar dari segala kekhawatiranku.</p>

<p>Sejauh apapun aku berusaha berlari, sekeras apapun aku berusaha menjauh, aku tidak bisa mengelak bahwa aku menginginkan dirinya, <em>lebih dari apapun.</em></p>

<p>Mungkin jika dunia tidak mendukung kami, aku juga bersedia melarikan diri bersamanya. Aku bersedia tinggal di ujung dunia di mana tidak ada satupun yang peduli pada keberadaan kami, asalkan kami tinggal bersama.</p>

<p>Kini aku mengerti maksud dari <em>cinta itu gila.</em> Aku mengerti arti dari <em>cinta itu buta.</em></p>

<p>Karena cintaku kepadanya membuatku berpikir bahwa tidak apa-apa jika aku kehilangan segalanya. <em>Asalkan aku tetap bersamanya. Bersama bayi kami yang akan terus tumbuh di sini....</em></p>

<p>“<em>I can still be a florist for us.</em>”</p>

<p>Ucapanku yang begitu tiba-tiba ternyata berhasil mengundang kekeh kecil darinya yang baru saja melepas cumbuan. Napas hangatnya beradu denganku, menyapuku dalam sensasi yang membuatku melilit kesenangan sehingga begitu saja aku mengejar bibirnya agar kembali bertaut.</p>

<p>“<em>And I can still be a fencing coach or farmer.</em>” Dia tersenyum melihatku turut terkekeh atas balasannya. “<em>Don’t get me wrong, I have a lot of land in this country and it can fulfill your needs for a lifetime.</em>”</p>

<p>Entah apa yang lucu dari ucapannya, tetapi aku malah semakin tertawa yang membuat keningnya semakin berkerut walau dihiasi senyum sembari berkata, “<em>I’m not joking, Bella. I will not be poor just because I am no longer a prince.</em>”</p>

<p>Ya, aku percaya padanya. Tetapi aku bahkan tidak berpikir hingga sejauh itu.</p>

<p>Aku merasa teramat senang hanya karena dia pun berusaha membuktikan bahwa dia sangat ingin bersamaku. Dan itu lebih dari cukup bagiku untuk kembali mencium bibirnya yang terus melengkung manis. <em>Setelah sekian lama aku tidak menyaksikan keindahan itu.</em></p>

<p>Dan mungkin, kerinduan kami akan terus meluap tiada henti, bila saja ketukan halus dari pintu kamar yang sudah menjadi tempatku tinggal ini tidak menginterupsi kami.</p>

<p><em>“Pangeran Arthur, aku harap kau tidak selamanya mengurung Princess Bella karena dia dan bayinya membutuhkan energi lebih banyak sebelum pulang bersamamu! Ini sudah waktunya makan malam!”</em></p>

<p>Seruan Madam Lily di luar sana berhasil membuat kami terkekeh-kekeh. Aku yakin ini bukan hanya hormonku yang turut meluap-luap setelah sekian lama aku tidak bersentuhan dengannya. Tetapi juga karena aku telah menemukan kembali <em>bahagia</em> yang sempat menghilang begitu lama.</p>

<p>“<em>Will you come home with me tomorrow, My Princess?</em>”</p>

<p>Tanganku mengelusi rahangnya yang mengambang di atasku. Merasakan adanya jambang mulai tumbuh samar-samar di sana dan dengan lancangnya, aku mulai membayangkan bagaimana rasanya jika aku yang mencukurnya.</p>

<p>“<em>Take me home,</em>” pintaku nyaris berbisik. “<em>Take us home with you, Arthur.</em>”</p>

<p> —:)</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://elvbr-wp.writeas.com/will-you-come-home-with-me</guid>
      <pubDate>Sat, 09 Nov 2024 13:04:15 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>In the midst of the chaos</title>
      <link>https://elvbr-wp.writeas.com/in-the-midst-of-the-chaos?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[h4✎__Whistle from The Beast - Panel 13/h4&#xA;&#xA;Kali ini, rubik dua kali dua menjadi temannya selama menunggu lampu lalu lintas berubah hijau. Ada getaran panjang terasa di saku jaketnya, tetapi seperti biasa, Dewa abaikan. !--more--&#xA;&#xA;Sebab dia lebih merasa terganggu oleh ketidakberhasilannya dalam menyelesaikan rubik termudahnya, lantaran lampu hijau lebih dulu menyala terang. Sehingga dia simpan kembali benda kecil itu sebelum melajukan motornya dengan tenang.&#xA;&#xA;Kaca helm sengaja tak dia tutup demi merasakan sepoi angin malam yang mulai sedikit sejuk. Hal yang sangat disayangkan bahwa dia baru bisa merasakan sensasi ini di kala langit sudah gelap gulita. &#xA;&#xA;Namun ada yang lebih disayangkan baginya bahwa dia harus menahan diri untuk tidak melempar ponselnya yang kembali bergetar di sakunya.&#xA;&#xA;Mengikuti rute yang sama, dia berbelok keluar dari jalan besar menuju jalan pintas. Di mana sepi mulai dirasa atas waktu yang mulai larut malam. Setidaknya begitulah yang dia pikirkan di awal mula.&#xA;&#xA;Sebelum lajunya terpaksa dia hentikan. Ketika melihat pada persimpangan di depan sana, muncul gerombolan motor bersamaan orang-orang berlarian melintas disertai seruan keras saling bersahutan. Memberi pertanda tak baik baginya untuk tetap melaju ke depan.&#xA;&#xA;“Ah, berengsek. Siapa yang nyari perkara jam segini?” decaknya sebelum menutup kaca helmnya, menderukan motornya bersiap untuk menerobos.&#xA;&#xA;Niatnya diurungkan atas gerak matanya terlalu cepat menyisir sekitar.  Menemukan sesuatu yang membuatnya langsung mengumpat begitu menyadari siapa yang tengah dilihatnya kini.&#xA;&#xA;Hal yang membuat Dewa marah tanpa bisa dia sendiri cegah adalah melihat adanya orang terjebak di tengah kericuhan. Mungkin karena beberapa kali dia menyaksikan hal sama, egonya langsung menyuruhnya untuk membiarkan di kala bertentangan dengan nalurinya yang masih waras.&#xA;&#xA;Apalagi mendengar pertarungan di kejauhan sana mulai sengit dan menakutkan, ditambah lemparan batu yang tiba-tiba jatuh di dekatnya, Dewa tak lagi berpikir panjang untuk turun dari motor dan berlari menghampiri. &#xA;&#xA;Kali ini, Dewa tidak membiarkan sosok itu terjebak di sana selamanya.&#xA;Maka satu tepukan di bahu berhasil mengejutkan gadis itu hingga dia terperanjat jatuh dan menyeret tubuhnya mundur. Bila ketakutan terpatri sangat jelas di wajahnya yang sudah pucat pasi, kontras sekali dengan Dewa yang sedikit terkejut begitu menyaksikan rupa yang dirasa tidaklah asing di ingatannya.&#xA;&#xA;Bunyi teriakan bercampur benturan demi benturan yang membuat telinga ngilu itu pastinya semakin menakuti. Lantas Dewa melepas helmnya, menunjukkan wajahnya untuk gadis yang perlu dia berikan keputusan cepat.&#xA;&#xA;“Kalau lo nggak mau ketahuan ada di sini, ikut gue sekarang.”&#xA;&#xA;—to be continued&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h4>✎__Whistle from The Beast - Panel 13</h4>

<p>Kali ini, rubik dua kali dua menjadi temannya selama menunggu lampu lalu lintas berubah hijau. Ada getaran panjang terasa di saku jaketnya, tetapi seperti biasa, Dewa abaikan. </p>

<p>Sebab dia lebih merasa terganggu oleh ketidakberhasilannya dalam menyelesaikan rubik termudahnya, lantaran lampu hijau lebih dulu menyala terang. Sehingga dia simpan kembali benda kecil itu sebelum melajukan motornya dengan tenang.</p>

<p>Kaca helm sengaja tak dia tutup demi merasakan sepoi angin malam yang mulai sedikit sejuk. Hal yang sangat disayangkan bahwa dia baru bisa merasakan sensasi ini di kala langit sudah gelap gulita.</p>

<p>Namun ada yang lebih disayangkan baginya bahwa dia harus menahan diri untuk tidak melempar ponselnya yang kembali bergetar di sakunya.</p>

<p>Mengikuti rute yang sama, dia berbelok keluar dari jalan besar menuju jalan pintas. Di mana sepi mulai dirasa atas waktu yang mulai larut malam. Setidaknya begitulah yang dia pikirkan di awal mula.</p>

<p>Sebelum lajunya terpaksa dia hentikan. Ketika melihat pada persimpangan di depan sana, muncul gerombolan motor bersamaan orang-orang berlarian melintas disertai seruan keras saling bersahutan. Memberi pertanda tak baik baginya untuk tetap melaju ke depan.</p>

<p>“<em>Ah, berengsek.</em> Siapa yang nyari perkara jam segini?” decaknya sebelum menutup kaca helmnya, menderukan motornya bersiap untuk menerobos.</p>

<p>Niatnya diurungkan atas gerak matanya terlalu cepat menyisir sekitar.  Menemukan sesuatu yang membuatnya langsung mengumpat begitu menyadari siapa yang tengah dilihatnya kini.</p>

<p>Hal yang membuat Dewa marah tanpa bisa dia sendiri cegah adalah melihat adanya orang terjebak di tengah kericuhan. Mungkin karena beberapa kali dia menyaksikan hal sama, egonya langsung menyuruhnya untuk membiarkan di kala bertentangan dengan nalurinya yang <em>masih waras.</em></p>

<p>Apalagi mendengar <em>pertarungan</em> di kejauhan sana mulai sengit dan menakutkan, ditambah lemparan batu yang tiba-tiba jatuh di dekatnya, Dewa tak lagi berpikir panjang untuk turun dari motor dan berlari menghampiri.</p>

<p>Kali ini, Dewa tidak membiarkan sosok itu terjebak di sana selamanya.
Maka satu tepukan di bahu berhasil mengejutkan gadis itu hingga dia terperanjat jatuh dan menyeret tubuhnya mundur. Bila ketakutan terpatri sangat jelas di wajahnya yang sudah pucat pasi, kontras sekali dengan Dewa yang sedikit terkejut begitu menyaksikan rupa yang dirasa tidaklah asing di ingatannya.</p>

<p>Bunyi teriakan bercampur benturan demi benturan yang membuat telinga ngilu itu pastinya semakin menakuti. Lantas Dewa melepas helmnya, menunjukkan wajahnya untuk gadis yang perlu dia berikan keputusan cepat.</p>

<p>“Kalau lo nggak mau ketahuan ada di sini, ikut gue sekarang.”</p>

<p>—<em>to be continued</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://elvbr-wp.writeas.com/in-the-midst-of-the-chaos</guid>
      <pubDate>Sat, 26 Oct 2024 12:03:05 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>In the middle of the night</title>
      <link>https://elvbr-wp.writeas.com/in-the-middle-of-the-night?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[h4✎__Whistle from The Beast - Panel 1/h4&#xA;&#xA;Istilah kota yang tak pernah tidur memang selalu tersemat di belakang nama Jakarta. Tepat di sudut kota metropolitan bagian barat, kala dentang waktu yang menandakan hari telah berganti, raungan saling bersahutan itu justru mulai membelah sunyinya jalanan tengah malam. !--more--&#xA;&#xA;Dua motor besar melaju kencang menerjang jalan besar kota. Satu-dua mobil mereka lewati secepat angin, bahkan bunyi klakson yang menegur pun sudah tertinggal sangat jauh di belakang sana. Mereka saling mengejar, saling mendahului, bahkan tak pelak berusaha saling menghalangi demi menyabet posisi pertama di pertaruhan kali ini.&#xA;&#xA;Pada persimpangan tujuan, keduanya sama-sama berbelok tajam menyeberang sisi jalan, deru mesin kian mengaum bergabung dengan dinginnya udara yang sebenarnya tak seberapa. Bundaran yang menjadi penentu memisahkan mereka. Satu menuju simpang kanan pada area yang melewati depan sebuah mall, satu lagi menuju latar belakang gedung mall yang bersisian dengan deretan ruko yang telah tutup.&#xA;&#xA;Dia berbelok lagi ke jalanan lebih kecil, menjadi jalan pintasnya yang tembus melewati gedung sekolah dan mempertemukannya kembali ke jalan raya, memberi ruang sedikit lebih jauh dari sang lawan yang baru muncul di belakangnya. Tanpa lewatkan kesempatan, pedal gas kian diperdalam dan tiada keraguan baginya berbelok tajam sekali lagi memasuki area akhir.&#xA;&#xA;Di ujung sana, kerumunan mulai bersorak menyambutnya, membuka jalan sebagai garis akhir dan menjadikannya orang pertama yang menembusnya. Nyaris setengah dari mereka bergegas menghampirinya yang telah berputar balik, menyambutnya dengan ucapan selamat sekaligus namanya yang dielu-elukan kencang.&#xA;&#xA;“Dewa! Dewa! Dewa!”&#xA;&#xA;Jeritan pun kian riuh sebagaimana dirinya lekas membuka full face helmet hitamnya. Memberi kesempatan baginya pamerkan seringai penuh bangga atas keberhasilannya untuk kesekian kali. Juga memberi penghargaan untuk orang-orang yang sertamerta menghujani rangkulan juga pelukan penuh bangga padanya.&#xA;&#xA;“Hidup Jaguar Neon!!”&#xA;&#xA;Seruan yang mewakili lima kaleng bir untuk bersulang. Membuka pesta kecil mereka di sepetak ruang berluaskan tak seberapa. Tapi jauh lebih dari cukup bagi mereka untuk merayakan pencapaian yang sekali lagi mendongkrak nama mereka.&#xA;&#xA;“Anjir, masih lucu aja pake Jaguar Neon,” celetukan pria dengan kaus hitam yang kian mencetak lengan kekarnya, mengundang tawa lainnya.&#xA;&#xA;“Siapa yang ngide begitu, ya? Kayaknya dulu bilang biar nggak serem-serem amat tapi malah jadi kayak slogan permen warna-warni gini.”&#xA;&#xA;“Eh, bagus, kan? Sekarang malah orang-orang pada deketin kita karena namanya lucu tapi isinya orang-orang keren. Noh, barusan nambah lagi pada mau gabung setelah liat si Dewa main.”&#xA;&#xA;Sosok yang baru saja disebut namanya hanya tersenyum sembari meneguk birnya dengan santai. Lalu mendapat rangkulan dari si mata bulan sabit bila tengah semringah seperti sekarang ini.&#xA;&#xA;“Mau nambah anggota, nggak?”&#xA;&#xA;“Enggak,” jawaban kompak dari empat lainnya membuat Edgar berdecak kecewa.&#xA;&#xA;“Sepi, anjir. Yang lain gengnya makin nambah, masa kita segini-segini aja? Katanya mau makin terkenal?”&#xA;&#xA;“Lo doang kali, yang pengen terkenal. Biar cewek-cewek lo nambah lagi,” tembak Bilal dihiasi sinis khasnya.&#xA;&#xA;“Terkenal nggak harus banyak-banyakan anggota. Yang penting orang-orang tau kalau kita ada kelasnya.” Tirta menimpal dengan tenangnya, lalu menyumpal mulutnya dengan satu potong pizza berlumur keju yang mulai dingin. “Lagian juga gue introvert.”&#xA;&#xA;“Lo mah bukan introvert tapi males ketemu orang baru,” cibir Edgar yang malah disetujui oleh Tirta sendiri dengan kedikan bahu.&#xA;&#xA;“Wa, Mala nyariin lo, tuh. Nyuruh lo baca chat-nya.”&#xA;&#xA;Suara Morgan sedikitnya memecah ketenangan mereka dalam pesta kecil ini. Tiga lainnya disusul Morgan sontak menggeleng-gelengkan kepala atas jawaban yang keluar dari mulut Dewa.&#xA;&#xA;“Bilang aja gue udah tidur.”&#xA;&#xA;“Kebiasaan, njing,” caci Bilal yang tentunya tidak memberi pengaruh.&#xA;&#xA;“Gue emang mau tidur,” sebab Dewa membalas tanpa rasa bersalah seraya bangun dari duduknya untuk pamit, “Gue numpang tidur, ya.”&#xA;&#xA;“Dih, beneran? Baru jam segini?”&#xA;&#xA;“Capek, Bro. Tenaga gue habis buat tadi.”&#xA;&#xA;Selanjutnya kekehan bercampur cibiran dari mereka menghujani Dewa yang tanpa perlu menunggu jawaban lekas pergi dari lingkaran. Riuh canda tawa mereka seketika teredam begitu Dewa menutup pintu kamar yang ada di bangunan ini. &#xA;&#xA;Jaket kulit hitam dia tanggalkan untuk dilempar ke dekat sofa, sedang dia melempar tubuhnya pada sofa setelah menukar ponselnya dengan sebuah rubik sebagai teman sebelum tidurnya.&#xA;&#xA;Satu kali putaran sebagai pengamatan sebelum kedua tangannya mulai menyusun satu demi satu warna agar berkumpul di tiap sisinya. Tak butuh waktu lama baginya untuk menyelesaikan teka-teki kubus tiga kali tiga tersebut, secepat itu pula dia letakkan kembali ke semula dengan embusan jenuh. Barulah menutup kedua matanya.&#xA;&#xA;Mengabaikan ponselnya yang menyala-nyala di dekat rubik tersebut, tak berniat menjawab panggilannya.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h4>✎__Whistle from The Beast - Panel 1</h4>

<p>Istilah kota yang tak pernah tidur memang selalu tersemat di belakang nama Jakarta. Tepat di sudut kota metropolitan bagian barat, kala dentang waktu yang menandakan hari telah berganti, raungan saling bersahutan itu justru mulai membelah sunyinya jalanan tengah malam. </p>

<p>Dua motor besar melaju kencang menerjang jalan besar kota. Satu-dua mobil mereka lewati secepat angin, bahkan bunyi klakson yang menegur pun sudah tertinggal sangat jauh di belakang sana. Mereka saling mengejar, saling mendahului, bahkan tak pelak berusaha saling menghalangi demi menyabet <em>posisi pertama</em> di <em>pertaruhan</em> kali ini.</p>

<p>Pada persimpangan tujuan, keduanya sama-sama berbelok tajam menyeberang sisi jalan, deru mesin kian mengaum bergabung dengan dinginnya udara yang sebenarnya tak seberapa. Bundaran yang menjadi penentu memisahkan mereka. Satu menuju simpang kanan pada area yang melewati depan sebuah mall, satu lagi menuju latar belakang gedung mall yang bersisian dengan deretan ruko yang telah tutup.</p>

<p>Dia berbelok lagi ke jalanan lebih kecil, menjadi jalan pintasnya yang tembus melewati gedung sekolah dan mempertemukannya kembali ke jalan raya, memberi ruang sedikit lebih jauh dari sang lawan yang baru muncul di belakangnya. Tanpa lewatkan kesempatan, pedal gas kian diperdalam dan tiada keraguan baginya berbelok tajam sekali lagi memasuki area <em>akhir.</em></p>

<p>Di ujung sana, kerumunan mulai bersorak menyambutnya, membuka jalan sebagai garis akhir dan menjadikannya orang pertama yang menembusnya. Nyaris setengah dari mereka bergegas menghampirinya yang telah berputar balik, menyambutnya dengan ucapan selamat sekaligus namanya yang dielu-elukan kencang.</p>

<p><em>“Dewa! Dewa! Dewa!”</em></p>

<p>Jeritan pun kian riuh sebagaimana dirinya lekas membuka <em>full face helmet</em> hitamnya. Memberi kesempatan baginya pamerkan seringai penuh bangga atas keberhasilannya untuk kesekian kali. Juga memberi penghargaan untuk orang-orang yang sertamerta menghujani rangkulan juga pelukan penuh bangga padanya.</p>

<p>“Hidup Jaguar Neon!!”</p>

<p>Seruan yang mewakili lima kaleng bir untuk bersulang. Membuka pesta kecil mereka di sepetak ruang berluaskan tak seberapa. Tapi jauh lebih dari cukup bagi mereka untuk merayakan pencapaian yang sekali lagi mendongkrak <em>nama mereka.</em></p>

<p>“Anjir, masih lucu aja pake Jaguar Neon,” celetukan pria dengan kaus hitam yang kian mencetak lengan kekarnya, mengundang tawa lainnya.</p>

<p>“Siapa yang ngide begitu, ya? Kayaknya dulu bilang biar nggak serem-serem amat tapi malah jadi kayak slogan permen warna-warni gini.”</p>

<p>“Eh, bagus, kan? Sekarang malah orang-orang pada deketin kita karena namanya lucu tapi isinya orang-orang keren. Noh, barusan nambah lagi pada mau gabung setelah liat si Dewa main.”</p>

<p>Sosok yang baru saja disebut namanya hanya tersenyum sembari meneguk birnya dengan santai. Lalu mendapat rangkulan dari si mata bulan sabit bila tengah semringah seperti sekarang ini.</p>

<p>“Mau nambah anggota, nggak?”</p>

<p>“Enggak,” jawaban kompak dari empat lainnya membuat Edgar berdecak kecewa.</p>

<p>“Sepi, anjir. Yang lain gengnya makin nambah, masa kita segini-segini aja? Katanya mau makin terkenal?”</p>

<p>“Lo doang kali, yang pengen terkenal. Biar cewek-cewek lo nambah lagi,” tembak Bilal dihiasi sinis khasnya.</p>

<p>“Terkenal nggak harus banyak-banyakan anggota. Yang penting orang-orang tau kalau kita ada kelasnya.” Tirta menimpal dengan tenangnya, lalu menyumpal mulutnya dengan satu potong pizza berlumur keju yang mulai dingin. “Lagian juga gue <em>introvert.</em>”</p>

<p>“Lo mah bukan <em>introvert</em> tapi males ketemu orang baru,” cibir Edgar yang malah disetujui oleh Tirta sendiri dengan kedikan bahu.</p>

<p>“Wa, Mala nyariin lo, tuh. Nyuruh lo baca <em>chat</em>-nya.”</p>

<p>Suara Morgan sedikitnya memecah ketenangan mereka dalam pesta kecil ini. Tiga lainnya disusul Morgan sontak menggeleng-gelengkan kepala atas jawaban yang keluar dari mulut Dewa.</p>

<p>“Bilang aja gue udah tidur.”</p>

<p>“Kebiasaan, njing,” caci Bilal yang tentunya tidak memberi pengaruh.</p>

<p>“Gue emang mau tidur,” sebab Dewa membalas tanpa rasa bersalah seraya bangun dari duduknya untuk pamit, “Gue numpang tidur, ya.”</p>

<p>“Dih, beneran? Baru jam segini?”</p>

<p>“Capek, <em>Bro.</em> Tenaga gue habis buat tadi.”</p>

<p>Selanjutnya kekehan bercampur cibiran dari mereka menghujani Dewa yang tanpa perlu menunggu jawaban lekas pergi dari lingkaran. Riuh canda tawa mereka seketika teredam begitu Dewa menutup pintu kamar yang ada di bangunan ini.</p>

<p>Jaket kulit hitam dia tanggalkan untuk dilempar ke dekat sofa, sedang dia melempar tubuhnya pada sofa setelah menukar ponselnya dengan sebuah rubik sebagai teman sebelum tidurnya.</p>

<p>Satu kali putaran sebagai pengamatan sebelum kedua tangannya mulai menyusun satu demi satu warna agar berkumpul di tiap sisinya. Tak butuh waktu lama baginya untuk menyelesaikan teka-teki kubus tiga kali tiga tersebut, secepat itu pula dia letakkan kembali ke semula dengan embusan jenuh. Barulah menutup kedua matanya.</p>

<p>Mengabaikan ponselnya yang menyala-nyala di dekat rubik tersebut, tak berniat menjawab panggilannya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://elvbr-wp.writeas.com/in-the-middle-of-the-night</guid>
      <pubDate>Sat, 26 Oct 2024 11:59:27 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>ti amo</title>
      <link>https://elvbr-wp.writeas.com/ti-amo?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[h4epilogue/h4&#xA;&#xA;•••&#xA;&#xA;“Kau sungguh akan pergi?” !--more--&#xA;&#xA;Baru saja mengenakan celana, Seungcheol menoleh untuk mendapati Sera yang baru selesai mengenakan gaun tidurnya. Hanya melalui sorot tak rela ditinggalkan, Seungcheol sudah tergerak untuk mendekat meraih tangan yang belum lama ini membuatnya menggeram panas dan hilang kendali entah berapa kali.&#xA;&#xA;Sampai dia nyaris melupakan keharusannya untuk segera pergi memenuhi masalah yang harus dia tuntaskan.&#xA;&#xA;“I have to go to Sicily. It won&#39;t be long. I&#39;ll be back tomorrow.”&#xA;&#xA;Bersama janjinya, Seungcheol membawa tangan-tangan Sera untuk dia berikan kecupan hangat, sebagaimana dengan tatapannya yang tak lelah untuk mengamati lekat rupa sang puan.&#xA;&#xA;“Kau harus segera kembali,” ucap Sera meragu. Sebab ia melanjutkan, “Kembalilah dengan bersih supaya aku bisa langsung memelukmu.”&#xA;&#xA;Mengerti maksud Seranya, Seungcheol tersenyum lalu mengangguk memastikan bahwa dia akan mengabulkan permintaannya. Karena sesungguhnya Seungcheol selalu memastikan dirinya tidak lagi pulang dalam keadaan berantakan. Apalagi beraromakan anyir yang mampu menakutkan Sera.&#xA;&#xA;Namun di balik permintaan Sera kali ini, Seungcheol memahami bahwa perempuannya mengharapkan dirinya kembali dalam keadaan selamat, bersih tanpa luka, barang setitikpun.&#xA;&#xA;Karena bagaimanapun, Sera masih lebih takut dirinya tidak dapat menggenggam Seungcheol lagi….&#xA;&#xA;“I will come back safely,” tukasnya bersamaan kedua tangannya menghela lembut Sera agar masuk ke dekapannya. “And promise me to always take care while I&#39;m away.”&#xA;&#xA;Kali ini Sera yang mengangguk di pelukannya. Berkata, “Dino Lee akan menjagaku dengan baik di sini.”&#xA;&#xA;Menimbulkan dengkus kecil Seungcheol sebelum dia tanamkan kecup gemas di bawah telinga Sera. “You really trying to take away my patience, aren&#39;t you?”&#xA;&#xA;“Aku hanya sedang berusaha menerima keadaanku yang harus mengandalkannya karena kau akan pergi.”&#xA;&#xA;Seranya masih bisa memutarbalikkan ucapannya. Dengan caranya yang tak dapat Seungcheol pungkiri bahwa itu sungguh atraktif baginya.&#xA;&#xA;Sehingga Seungcheol hadiahkan ciuman lembut di bibir Sera yang lekas tersenyum menerima. Hanyut dalam pagutan yang merayunya agar terus menetap dan memeluk puannya sepanjang waktu. Sebelum akhirnya dia putuskan untuk merelakan kehangatan ini demi menjalankan tugasnya.&#xA;&#xA;“I love you.”&#xA;&#xA;Mengembangkan senyum indah Sera untuk kemudian dia berikan satu lagi kecupan mesra di bibir prianya. Membalas tak kalah tulus.&#xA;&#xA;“Ti amo.”&#xA;&#xA;—fin :)&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h4>epilogue</h4>

<p>•••</p>

<p>“Kau sungguh akan pergi?” </p>

<p>Baru saja mengenakan celana, Seungcheol menoleh untuk mendapati Sera yang baru selesai mengenakan gaun tidurnya. Hanya melalui sorot tak rela ditinggalkan, Seungcheol sudah tergerak untuk mendekat meraih tangan yang belum lama ini membuatnya menggeram panas dan hilang kendali entah berapa kali.</p>

<p>Sampai dia nyaris melupakan keharusannya untuk segera pergi memenuhi masalah yang harus dia tuntaskan.</p>

<p>“<em>I have to go to Sicily. It won&#39;t be long. I&#39;ll be back tomorrow.</em>”</p>

<p>Bersama janjinya, Seungcheol membawa tangan-tangan Sera untuk dia berikan kecupan hangat, sebagaimana dengan tatapannya yang tak lelah untuk mengamati lekat rupa sang puan.</p>

<p>“Kau harus segera kembali,” ucap Sera meragu. Sebab ia melanjutkan, “Kembalilah dengan bersih supaya aku bisa langsung memelukmu.”</p>

<p>Mengerti maksud Seranya, Seungcheol tersenyum lalu mengangguk memastikan bahwa dia akan mengabulkan permintaannya. Karena sesungguhnya Seungcheol selalu memastikan dirinya tidak lagi pulang dalam keadaan <em>berantakan.</em> Apalagi beraromakan anyir yang mampu menakutkan Sera.</p>

<p>Namun di balik permintaan Sera kali ini, Seungcheol memahami bahwa perempuannya mengharapkan dirinya kembali dalam keadaan selamat, bersih tanpa luka, barang setitikpun.</p>

<p>Karena bagaimanapun, Sera masih lebih takut dirinya tidak dapat menggenggam Seungcheol lagi….</p>

<p>“<em>I will come back safely,</em>” tukasnya bersamaan kedua tangannya menghela lembut Sera agar masuk ke dekapannya. “<em>And promise me to always take care while I&#39;m away.</em>”</p>

<p>Kali ini Sera yang mengangguk di pelukannya. Berkata, “Dino Lee akan menjagaku dengan baik di sini.”</p>

<p>Menimbulkan dengkus kecil Seungcheol sebelum dia tanamkan kecup gemas di bawah telinga Sera. “<em>You really trying to take away my patience, aren&#39;t you?</em>”</p>

<p>“Aku hanya sedang berusaha menerima keadaanku yang harus mengandalkannya karena kau akan pergi.”</p>

<p>Seranya masih bisa memutarbalikkan ucapannya. Dengan caranya yang tak dapat Seungcheol pungkiri bahwa itu sungguh <em>atraktif</em> baginya.</p>

<p>Sehingga Seungcheol hadiahkan ciuman lembut di bibir Sera yang lekas tersenyum menerima. Hanyut dalam pagutan yang merayunya agar terus menetap dan memeluk puannya sepanjang waktu. Sebelum akhirnya dia putuskan untuk merelakan kehangatan ini demi menjalankan tugasnya.</p>

<p>“<em>I love you.</em>”</p>

<p>Mengembangkan senyum indah Sera untuk kemudian dia berikan satu lagi kecupan mesra di bibir prianya. Membalas tak kalah tulus.</p>

<p>“<em>Ti amo.</em>”</p>

<p>—<em>fin</em> :)</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://elvbr-wp.writeas.com/ti-amo</guid>
      <pubDate>Sat, 19 Oct 2024 17:04:22 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Because I do love you....</title>
      <link>https://elvbr-wp.writeas.com/because-i-do-love-you?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[h4✎__Dokyeom as Arthur, The Hidden Prince  - Pt.21/h4&#xA;&#xA;•••&#xA;&#xA;“Arthur...?”&#xA;&#xA;Hanya dengan menyebut namanya dalam lirih, hatiku bergetar kuat dan aku semakin tidak terselamatkan. !--more--&#xA;&#xA;Mimpi yang selalu membuatku sesak menahan rindu di tiap malam, kini terkabulkan dengan cara tak terduga. Aku tidak siap untuk bereaksi akan kehadirannya yang begitu tiba-tiba. &#xA;&#xA;Begitu nyata. Sehingga aku kehilangan cara untuk bernapas selama meyakinkan diri bahwa pria yang berdiri beberapa langkah dariku itu memanglah dia.&#xA;&#xA;“You little wayward.”&#xA;&#xA;Kalimat pertama yang menggema sebagai sapaan. Sebutan yang tak kusangka akan membuatku berdebar karena rindu mendengarnya. Mendengar suara beratnya yang tenang namun bagai menyimpan beribu arti di tiap kata yang ia ucapkan.&#xA;&#xA;“You always frustrate me even by just expecting your answer.”&#xA;&#xA;Begitu banyak hal yang ingin sekali kukatakan, tetapi aku hanya terdiam kelu atas tatapannya yang menajam sekaligus lembut kepadaku. Obsidian gelapnya yang redup itu seakan turut berbicara, turut menyalurkan isi hatinya....&#xA;&#xA;“Do you hate me that much that you don’t even want to answer my longing for you?”&#xA;&#xA;Aku tidak mampu menjawabnya.&#xA;&#xA;Pikiranku terlalu kosong selain seruan bagiku untuk kembali menghindar. Berdengung di kepalaku yang lekas menggerakkanku untuk berbalik badan.&#xA;&#xA;“You are not allowed to run away again, Bella.”&#xA;&#xA;Aku berhenti, hanya untuk menahan napasku mendengar suara beratnya mengalun penuh keseriusan. Penuh teguran. Namun aku kembali menguatkan tekad untuk melanjutkan langkahku tanpa berniat berbalik kepadanya.&#xA;&#xA;“I command you to stop right there.”&#xA;&#xA;Seketika, kaki-kakiku seakan patuh pada titahan tegas itu. Kali ini aku tercekat akan kecemasan yang melejit hanya mendengar ketukan langkah pasti yang mendekati punggungku. Memberi peringatan agar aku tidak sedikitpun bergerak lagi.&#xA;&#xA;“A-Anda tidak seharusnya berada di sini....”&#xA;&#xA;Aku berhasil bersuara, dibersamai debar jantungku yang mulai mengencang dentamannya lantaran merasakan keberadaannya yang mungkin hanya beberapa langkah di belakangku.&#xA;&#xA;“Did I scare you that much? Or did my royal name make you unwilling to look at me until you chose to run away again?”&#xA;&#xA;Aku tidak sanggup menjawabnya. Mataku memejam menahan perih yang terlalu cepat merebak. Aku berusaha menarik napas yang tak disangka akan menunjang perih di dada, sebab aku berusaha mengatakan, “Bukankah saya sudah mengatakan bahwa saya ingin berpisah dari Anda?”&#xA;&#xA;“Dan kau berpikir aku akan mengabulkannya?”&#xA;&#xA;“Ya...,” getar suaraku terlalu jelas menunjukkan ketidakyakinan. “Saya menantikan jawaban Anda, tetapi Anda tidak kunjung mengirimnya pada saya.”&#xA;&#xA;“Bukankah sudah jelas kalau itu adalah jawabanku? Atau haruskah kuperjelas padamu sekarang bahwa aku tidak ingin berpisah darimu?”&#xA;&#xA;Lagi, aku tercekat atas tanggapan lugasnya. Seperti tidak memberi ruang bagiku untuk membantahnya di saat aku merasa tidak lagi berhak untuk menerima jawabannya. Setelah apa yang sudah aku lewati bersama kenyataan pahit yang membuatku bahkan tak sanggup membayangkan kakiku akan kembali memijak dunianya.&#xA;&#xA;“Saya sudah tidak pantas untuk kembali ke tempat Anda, Arthur.”&#xA;&#xA;“Kalau begitu apakah aku harus keluar dari sana supaya kau tidak lagi berpikir demikian?”&#xA;&#xA;“Arthur, Anda juga tahu bahwa keluarga saya sudah—”&#xA;&#xA;“Jika kau masih menggunakan itu sebagai alasan, Bella,” dia memotongku dengan cepat, “Aku juga akan mengutuk keluargaku karena sudah membuatku berada di sini. Aku akan mengutuk mereka semua karena sudah membuatku harus kehilanganmu hanya karena menyalahkanmu di saat seharusnya mereka yang paling disalahkan di sini.”&#xA;&#xA;Aku menahan napasku mendengar ucapannya yang memberat. Adanya kecewa teramat kental di tiap lontaran kalimatnya sehingga aku merasa tak patut membantahnya.&#xA;&#xA;“Aku hadir karena kesalahan mereka, Bella. Aku bahkan jauh tidak pantas berada di sini jika kau ingin mengukur sejauh apa dosa yang sudah mereka lakukan. Jadi bukankah seharusnya aku yang dibuang di sini? Bukankah seharusnya aku yang kau salahkan karena sudah membuatmu menderita seperti ini?”&#xA;&#xA;Seketika, aku berbalik untuk mendapatinya yang berdiri hanya sejauh tiga langkah dariku. Mendapati sorot matanya yang sertamerta menangkap milikku dengan sorot terluka.&#xA;&#xA;Terlalu menyakitkan untuk turut menyayatku teramat dalam.&#xA;&#xA;“Ini bukan soal Anda. Ini soal saya yang sudah membuat keluarga Anda—”&#xA;&#xA;“Of course it&#39;s about you and me. It&#39;s about us who have to bear the sins they don&#39;t want to admit so you have to leave me like this. Don&#39;t you think how cruel they are to make us suffer all this then make you leave when I’ve wanted you? When I’ve needed you this damn much until it’s like killing me slowly, Bella?”&#xA;&#xA;Mulutku terbuka kelu mendengar gemetar suaranya yang sedikit meninggi, penuh emosional sehingga berhasil menohokku. Hatiku bagai tercabik melihatnya menatapku dengan sorot berkaca-kaca, menahan sakit yang baru kusadari bahwa sesungguhnya, dia pun turut hancur di sini.&#xA;&#xA;Dia pun turut terpuruk oleh keadaan. Tetapi aku terlalu tenggelam dalam rasa sakitku tanpa lagi peduli bahwa sesungguhnya dia juga telah jatuh seperti aku....&#xA;&#xA;“I need you, Bella. I need you to keep breathing amidst all the pressure that comes to me. But you chose to leave because all of this is also my fault. What can I do to get you back, then? What can I do to let you know that I’m getting more suffering because you chose to leave me?”&#xA;&#xA;Kali ini aku menggigit kuat bibirku yang nyaris mencuatkan isakan. Aku tidak kuasa bertahan di tengah tatapannya yang mulai menunjukkan keputusasaan. Menunjukkan derita yang aku sendiri tahu betapa menyiksanya itu. &#xA;&#xA;Karena sesungguhnya, kami harus sama-sama berpijak di atas tanah yang siap menggugurkan kami ke dalam jurang mati rasa bersamaan.&#xA;&#xA;“Maafkan saya....”&#xA;&#xA;“Then don’t leave me. Don’t run away from me and come back to me. Even though I have to give up my throne, my titles, my everything, I will throw them away as long as you come back to me.”&#xA;&#xA;Aku menggeleng pelan. Tidak siap dengan desakannya yang terlalu berlumurkan permohonan. Membuatku tidak sanggup melakukan pilihan untuk menolaknya.&#xA;&#xA;“Saya tidak bisa membuat Anda harus merelakan semua itu hanya untuk saya, Arthur.”&#xA;&#xA;“Do you love me, Bella?”&#xA;&#xA;Pertanyaan tiba-tiba yang membuat tenggorokanku semakin perih. Sebagaimana dengan mataku yang kian merebak menyakitkan terlebih dia kembali mengajukan pertanyaan sama.&#xA;&#xA;“Do you love me? Or have you ever loved me?”&#xA;&#xA;“Arthur, saya mohon—”&#xA;&#xA;“Because I do love you.”&#xA;&#xA;Untuk sesaat, segalanya di sekitarku bagai berhenti.&#xA;&#xA;“I love you, Bella.”&#xA;&#xA;Sesaat, aku merasakan jantungku tak berdetak sebagaimana dengan diriku lupa untuk bernapas mendengar pengakuannya yang kupikir itu hanya akan selamanya menjadi anganku.&#xA;&#xA;“I love you. So much. So damn much until it hurts me since I can’t hold you. I love you even since I tried to not love you. I have loved you since I tried to hate this marriage but I can’t help it because everything about you makes me fall this crazy. I desperately want you.”&#xA;&#xA;Entah sejak kapan air mataku sudah mengalir jatuh. Menyaksikan bagaimana dia mengungkapkan segalanya tanpa jeda dan penuh frustasi hingga serak suaranya berhiaskan getar merana. &#xA;&#xA;Betapa dia sungguh-sungguh mengutarakan untuk bersikeras menghancurkan pendirianku, sehingga aku melebur dalam tangis yang tak lagi dapat kubendung.&#xA;&#xA;“So tell me if you love me too. Tell me I&#39;m not the only one who’s in love here. Tell me if I still can hold you. If you don’t—” Aku bisa mendengar cekat suaranya kala menjeda. Aku bisa melihatnya memejam kuat untuk rela mengatakannya, “If you don’t love me, I promise to leave from here  and I will not look for you again.”&#xA;&#xA;Bahwa mungkin kami juga sama-sama tahu, bahwa itu bukanlah pilihan yang ingin diwujudkan. &#xA;&#xA;Bahwa tidak ada satupun dari kami yang menginginkan pilihan terburuk itu sungguh-sungguh terjadi. &#xA;&#xA;Oleh karenanya, aku benar-benar runtuh dalam tangis menyerah, tertunduk bersama isakan yang tak lagi terbendung lantaran akupun tak rela ini berakhir dengan cara setragis ini.&#xA;&#xA;“I do....”&#xA;&#xA;Aku memutuskan menyerah untuk bertahan dengan keteguhanku.&#xA;&#xA;“I do love you, too, Arthur....”&#xA;&#xA;Menyerah untuk melarikan diri dari kenyataan bahwa akupun membutuhkannya. Menginginkannya tetap bersamaku dan terus menggenggamku.&#xA;&#xA;“I love you..., maybe from the first time I saw you in your garden. Or maybe from the first time you kissed me. I&#39;ve fallen in love with you and I can&#39;t hold back this feeling anymore since I&#39;ve been immersed in this marriage.”&#xA;&#xA;Pandanganku mengabur oleh air mataku yang tumpah teramat deras. Oleh rasa yang mati-matian kupendam namun kini kucurahkan bersama sesak teramat pedih di dada.&#xA;&#xA;“I do love you and it hurts me, a lot, Arthur.... I love you so much it hurts, and I—”&#xA;&#xA;Aku tak dapat menyelesaikan pengakuanku. &#xA;&#xA;Semuanya terjadi begitu cepat, dia mendekat dalam langkah lebar, lebih cepat dari kedipan mataku, merangkum wajahku untuk kemudian satu kecupan hadir tepat di bibirku yang bergetar hebat, membungkam isakanku melalui ciuman dalam yang seketika menghanyutkanku pada terjangan emosi membuncah.&#xA;&#xA;Pada akhirnya, aku patut mengakui bahwa aku tidak dapat lari darinya. Katakan bahwa aku memanglah lemah. Sebab hanya dengan satu kecupan darinya, hatiku luluh lantak dengan membalas tiap gerak sapuannya yang merindu.&#xA;&#xA;“I love you...,” dia berbisik tepat di bibirku, “Sincerely,” mengucapkannya lagi untuk kemudian mengecup sudut bibirku, “And deeply,” lalu kembali menciumku, sembari ibu jarinya mengusapi air mataku yang tiada henti mengalir. “I love you like I need to breathe, Bella....”&#xA;&#xA;Aku bahkan tidak sanggup untuk menghitungnya. Seakan sudah begitu lama dia ingin mengatakannya, sehingga kini dia menghujaniku dengan tiga kata magis yang membuatku tak lagi meragu untuk memeluknya, membalasnya.&#xA;&#xA;“I need you, Bella. I want—and I will make everything right for us. I want to keep you with me so please don&#39;t leave me again. I can’t lose you. I can’t lose both of you. I want you, I want us so please....”&#xA;&#xA;Aku tidak ingin mendengarnya memohon terlalu jauh. Tidak ingin menyiksa dirinya maupun diriku lebih banyak lagi. Sehingga kini giliranku yang mengecupnya, beberapa kali, di mana aku merasakan balasannya yang tak kalah mendamba, tak kalah merindu.&#xA;&#xA;Di mana itu berhasil membawa angin segar di benakku. Layaknya gelombang oase yang menerjangku begitu besar sehingga aku ingin seterusnya terhanyut oleh kelegaan ini.&#xA;&#xA;“I know....” ucapku seraya menyatukan kening kami. “I want you and I want us as well, Arthur. I love you....”&#xA;&#xA;Ingin sekali diriku mendekapnya seerat yang kubisa. Menghirup seluruh dirinya yang ternyata masihlah sama seperti yang kuingat. Mengabadikan raup napasnya di sisi kepalaku yang teramat jelas mengatakan betapa dia membutuhkanku.&#xA;&#xA;Namun aku terpaksa menarik diri dengan rintihan pelan. Merasakan nyeri tiba-tiba hadir melingkupi hingga spontan aku memegangi perutku. Di mana tidak kukira akan mendapatkan reaksi cepat darinya berupa rangkulan kuat di bahuku dan ikut menangkup perutku.&#xA;&#xA;“What’s wrong? Are you hurt?”&#xA;&#xA;Aku perlu mengatur napasku, berusaha tetap tenang membiarkan keram yang muncul berlangsung sebagaimana yang telah aku alami semenjang ia tumbuh.&#xA;&#xA;“Cheesecake,” ujarku sembari mencari sorot matanya. “The baby ate too much strawberry cheesecake earlier.”&#xA;&#xA;Tanpa kuduga, dia melontarkan kekeh kecil sembari mengeratkan dekapannya padaku. Memberi kecupan penuh kasih di dahiku, sebelum bibirnya berlabuh di pelipisku sembari berbisik, “Cheesecake,” dan mulai mengelusi perutku. “We should prepare a lot for our cheesecake.”&#xA;&#xA;“Perlu Anda tahu bahwa dia sudah sebesar sweet potato.”&#xA;&#xA;“We’ll still call it cheesecake.”&#xA;&#xA;Menjadi giliranku yang terkekeh bersama sisa-sisa tangisku. Kini aku tidak lagi mengelak, tidak lagi mendorongnya menjauh. Sebab aku tidak ingin membohongi diri terlalu lama.&#xA;&#xA;Aku sangat mencintainya.&#xA;&#xA;“Sebentar lagi saya akan mengetahui jenis kelaminnya.”&#xA;&#xA;Dan aku tidak akan melepaskannya lagi.&#xA;&#xA;“We have to see it together.”&#xA;&#xA;Kali ini..., aku sungguh berjanji.&#xA;&#xA;“Together....”&#xA;&#xA;—:)]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h4>✎__Dokyeom as Arthur, The Hidden Prince  - Pt.21</h4>

<p>•••</p>

<p>“Arthur...?”</p>

<p>Hanya dengan menyebut namanya dalam lirih, hatiku bergetar kuat dan aku semakin tidak terselamatkan. </p>

<p>Mimpi yang selalu membuatku sesak menahan rindu di tiap malam, kini terkabulkan dengan cara tak terduga. Aku tidak siap untuk bereaksi akan kehadirannya yang begitu tiba-tiba.</p>

<p><em>Begitu nyata.</em> Sehingga aku kehilangan cara untuk bernapas selama meyakinkan diri bahwa pria yang berdiri beberapa langkah dariku itu memanglah dia.</p>

<p>“<em>You little wayward.</em>”</p>

<p>Kalimat pertama yang menggema sebagai sapaan. Sebutan yang tak kusangka akan membuatku berdebar karena rindu mendengarnya. Mendengar suara beratnya yang tenang namun bagai menyimpan beribu arti di tiap kata yang ia ucapkan.</p>

<p>“<em>You always frustrate me even by just expecting your answer.</em>”</p>

<p>Begitu banyak hal yang ingin sekali kukatakan, tetapi aku hanya terdiam kelu atas tatapannya yang menajam sekaligus lembut kepadaku. Obsidian gelapnya yang redup itu seakan turut berbicara, turut menyalurkan isi hatinya....</p>

<p>“<em>Do you hate me that much that you don’t even want to answer my longing for you?</em>”</p>

<p>Aku tidak mampu menjawabnya.</p>

<p>Pikiranku terlalu kosong selain seruan bagiku untuk kembali menghindar. Berdengung di kepalaku yang lekas menggerakkanku untuk berbalik badan.</p>

<p>“<em>You are not allowed to run away again, Bella.</em>”</p>

<p>Aku berhenti, hanya untuk menahan napasku mendengar suara beratnya mengalun penuh keseriusan. <em>Penuh teguran.</em> Namun aku kembali menguatkan tekad untuk melanjutkan langkahku tanpa berniat berbalik kepadanya.</p>

<p>“<em>I command you to stop right there.</em>”</p>

<p>Seketika, kaki-kakiku seakan patuh pada titahan tegas itu. Kali ini aku tercekat akan kecemasan yang melejit hanya mendengar ketukan langkah pasti yang mendekati punggungku. Memberi peringatan agar aku tidak sedikitpun bergerak lagi.</p>

<p>“A-Anda tidak seharusnya berada di sini....”</p>

<p>Aku berhasil bersuara, dibersamai debar jantungku yang mulai mengencang dentamannya lantaran merasakan keberadaannya yang mungkin hanya beberapa langkah di belakangku.</p>

<p>“<em>Did I scare you that much? Or did my royal name make you unwilling to look at me until you chose to run away again?</em>”</p>

<p>Aku tidak sanggup menjawabnya. Mataku memejam menahan perih yang terlalu cepat merebak. Aku berusaha menarik napas yang tak disangka akan menunjang perih di dada, sebab aku berusaha mengatakan, “Bukankah saya sudah mengatakan bahwa saya ingin berpisah dari Anda?”</p>

<p>“Dan kau berpikir aku akan mengabulkannya?”</p>

<p>“Ya...,” <em>getar suaraku terlalu jelas menunjukkan ketidakyakinan.</em> “Saya menantikan jawaban Anda, tetapi Anda tidak kunjung mengirimnya pada saya.”</p>

<p>“Bukankah sudah jelas kalau itu adalah jawabanku? Atau haruskah kuperjelas padamu sekarang bahwa <em>aku tidak ingin berpisah darimu?</em>”</p>

<p>Lagi, aku tercekat atas tanggapan lugasnya. Seperti tidak memberi ruang bagiku untuk membantahnya di saat aku merasa tidak lagi berhak untuk menerima jawabannya. Setelah apa yang sudah aku lewati bersama kenyataan pahit yang membuatku bahkan tak sanggup membayangkan kakiku akan kembali memijak dunianya.</p>

<p>“Saya sudah tidak pantas untuk kembali ke tempat Anda, Arthur.”</p>

<p>“Kalau begitu apakah aku harus keluar dari sana supaya kau tidak lagi berpikir demikian?”</p>

<p>“Arthur, Anda juga tahu bahwa keluarga saya sudah—”</p>

<p>“Jika kau masih menggunakan itu sebagai alasan, Bella,” dia memotongku dengan cepat, “Aku juga akan mengutuk keluargaku karena sudah membuatku berada di sini. Aku akan <em>mengutuk mereka semua</em> karena sudah membuatku harus kehilanganmu hanya karena menyalahkanmu di saat seharusnya mereka yang paling disalahkan di sini.”</p>

<p>Aku menahan napasku mendengar ucapannya yang memberat. Adanya kecewa teramat kental di tiap lontaran kalimatnya sehingga aku merasa tak patut membantahnya.</p>

<p>“<em>Aku hadir karena kesalahan mereka, Bella.</em> Aku bahkan jauh tidak pantas berada di sini jika kau ingin mengukur sejauh apa <em>dosa</em> yang sudah mereka lakukan. Jadi bukankah seharusnya aku yang dibuang di sini? Bukankah seharusnya aku yang kau salahkan karena sudah membuatmu menderita seperti ini?”</p>

<p>Seketika, aku berbalik untuk mendapatinya yang berdiri hanya sejauh tiga langkah dariku. Mendapati sorot matanya yang sertamerta menangkap milikku dengan sorot terluka.</p>

<p>Terlalu menyakitkan untuk turut menyayatku teramat dalam.</p>

<p>“Ini bukan soal Anda. Ini soal saya yang sudah membuat keluarga Anda—”</p>

<p>“<em>Of course it&#39;s about you and me. It&#39;s about us who have to bear the sins they don&#39;t want to admit so you have to leave me like this. Don&#39;t you think how cruel they are to make us suffer all this then make you leave when I’ve wanted you? When I’ve needed you this damn much until it’s like killing me slowly, Bella?</em>”</p>

<p>Mulutku terbuka kelu mendengar gemetar suaranya yang sedikit meninggi, penuh emosional sehingga berhasil menohokku. Hatiku bagai tercabik melihatnya menatapku dengan sorot berkaca-kaca, menahan sakit yang baru kusadari bahwa sesungguhnya, dia pun turut hancur di sini.</p>

<p><em>Dia pun turut terpuruk oleh keadaan. Tetapi aku terlalu tenggelam dalam rasa sakitku tanpa lagi peduli bahwa sesungguhnya dia juga telah jatuh seperti aku....</em></p>

<p>“<em>I need you, Bella. I need you to keep breathing amidst all the pressure that comes to me. But you chose to leave because all of this is also my fault. What can I do to get you back, then? What can I do to let you know that I’m getting more suffering because you chose to leave me?</em>”</p>

<p>Kali ini aku menggigit kuat bibirku yang nyaris mencuatkan isakan. Aku tidak kuasa bertahan di tengah tatapannya yang mulai menunjukkan keputusasaan. Menunjukkan derita yang aku sendiri tahu betapa menyiksanya itu.</p>

<p>Karena sesungguhnya, kami harus sama-sama berpijak di atas tanah yang siap menggugurkan kami ke dalam jurang mati rasa bersamaan.</p>

<p>“Maafkan saya....”</p>

<p>“<em>Then don’t leave me. Don’t run away from me and come back to me. Even though I have to give up my throne, my titles, my everything, I will throw them away as long as you come back to me.</em>”</p>

<p>Aku menggeleng pelan. Tidak siap dengan desakannya yang terlalu berlumurkan permohonan. Membuatku tidak sanggup melakukan pilihan untuk menolaknya.</p>

<p>“Saya tidak bisa membuat Anda harus merelakan semua itu hanya untuk saya, Arthur.”</p>

<p>“<em>Do you love me, Bella?</em>”</p>

<p>Pertanyaan tiba-tiba yang membuat tenggorokanku semakin perih. Sebagaimana dengan mataku yang kian merebak menyakitkan terlebih dia kembali mengajukan pertanyaan sama.</p>

<p>“<em>Do you love me? Or have you ever loved me?</em>”</p>

<p>“Arthur, saya mohon—”</p>

<p>“<em>Because I do love you.</em>”</p>

<p>Untuk sesaat, segalanya di sekitarku bagai berhenti.</p>

<p>“<em>I love you, Bella.</em>”</p>

<p>Sesaat, aku merasakan jantungku tak berdetak sebagaimana dengan diriku lupa untuk bernapas mendengar pengakuannya yang kupikir itu hanya akan selamanya menjadi anganku.</p>

<p>“<em>I love you. So much. So damn much until it hurts me since I can’t hold you. I love you even since I tried to not love you. I have loved you since I tried to hate this marriage but I can’t help it because everything about you makes me fall this crazy. I desperately want you.</em>”</p>

<p>Entah sejak kapan air mataku sudah mengalir jatuh. Menyaksikan bagaimana dia mengungkapkan segalanya tanpa jeda dan penuh frustasi hingga serak suaranya berhiaskan getar merana.</p>

<p>Betapa dia sungguh-sungguh mengutarakan untuk bersikeras menghancurkan pendirianku, sehingga aku melebur dalam tangis yang tak lagi dapat kubendung.</p>

<p>“<em>So tell me if you love me too. Tell me I&#39;m not the only one who’s in love here. Tell me if I still can hold you. If you don’t—</em>” Aku bisa mendengar cekat suaranya kala menjeda. Aku bisa melihatnya memejam kuat untuk rela mengatakannya, “<em>If you don’t love me, I promise to leave from here  and I will not look for you again.</em>”</p>

<p>Bahwa mungkin kami juga sama-sama tahu, bahwa itu bukanlah pilihan yang ingin diwujudkan.</p>

<p>Bahwa tidak ada satupun dari kami yang menginginkan pilihan terburuk itu sungguh-sungguh terjadi.</p>

<p>Oleh karenanya, aku benar-benar runtuh dalam tangis menyerah, tertunduk bersama isakan yang tak lagi terbendung lantaran akupun tak rela ini berakhir dengan cara setragis ini.</p>

<p>“<em>I do....</em>”</p>

<p>Aku memutuskan menyerah untuk bertahan dengan keteguhanku.</p>

<p>“<em>I do love you, too, Arthur....</em>”</p>

<p>Menyerah untuk melarikan diri dari kenyataan bahwa akupun membutuhkannya. Menginginkannya tetap bersamaku dan terus menggenggamku.</p>

<p>“<em>I love you..., maybe from the first time I saw you in your garden. Or maybe from the first time you kissed me. I&#39;ve fallen in love with you and I can&#39;t hold back this feeling anymore since I&#39;ve been immersed in this marriage.</em>”</p>

<p>Pandanganku mengabur oleh air mataku yang tumpah teramat deras. Oleh rasa yang mati-matian kupendam namun kini kucurahkan bersama sesak teramat pedih di dada.</p>

<p>“<em>I do love you and it hurts me, a lot, Arthur.... I love you so much it hurts, and I—</em>”</p>

<p>Aku tak dapat menyelesaikan pengakuanku.</p>

<p>Semuanya terjadi begitu cepat, dia mendekat dalam langkah lebar, lebih cepat dari kedipan mataku, merangkum wajahku untuk kemudian satu kecupan hadir tepat di bibirku yang bergetar hebat, membungkam isakanku melalui ciuman dalam yang seketika menghanyutkanku pada terjangan emosi membuncah.</p>

<p>Pada akhirnya, aku patut mengakui bahwa aku tidak dapat lari darinya. Katakan bahwa aku memanglah lemah. Sebab hanya dengan satu kecupan darinya, hatiku luluh lantak dengan membalas tiap gerak sapuannya yang merindu.</p>

<p>“<em>I love you...,</em>” dia berbisik tepat di bibirku, “<em>Sincerely,</em>” mengucapkannya lagi untuk kemudian mengecup sudut bibirku, “<em>And deeply,</em>” lalu kembali menciumku, sembari ibu jarinya mengusapi air mataku yang tiada henti mengalir. “<em>I love you like I need to breathe, Bella....</em>”</p>

<p>Aku bahkan tidak sanggup untuk menghitungnya. Seakan sudah begitu lama dia ingin mengatakannya, sehingga kini dia menghujaniku dengan tiga kata magis yang membuatku tak lagi meragu untuk memeluknya, membalasnya.</p>

<p>“<em>I need you, Bella. I want—and I will make everything right for us. I want to keep you with me so please don&#39;t leave me again. I can’t lose you. I can’t lose both of you. I want you, I want us so please....</em>”</p>

<p>Aku tidak ingin mendengarnya memohon terlalu jauh. Tidak ingin menyiksa dirinya maupun diriku lebih banyak lagi. Sehingga kini giliranku yang mengecupnya, beberapa kali, di mana aku merasakan balasannya yang tak kalah mendamba, tak kalah merindu.</p>

<p>Di mana itu berhasil membawa angin segar di benakku. Layaknya gelombang oase yang menerjangku begitu besar sehingga aku ingin seterusnya terhanyut oleh kelegaan ini.</p>

<p>“<em>I know....</em>” ucapku seraya menyatukan kening kami. “<em>I want you and I want us as well, Arthur. I love you....</em>”</p>

<p>Ingin sekali diriku mendekapnya seerat yang kubisa. Menghirup seluruh dirinya yang ternyata masihlah sama seperti yang kuingat. Mengabadikan raup napasnya di sisi kepalaku yang teramat jelas mengatakan betapa dia membutuhkanku.</p>

<p>Namun aku terpaksa menarik diri dengan rintihan pelan. Merasakan nyeri tiba-tiba hadir melingkupi hingga spontan aku memegangi perutku. Di mana tidak kukira akan mendapatkan reaksi cepat darinya berupa rangkulan kuat di bahuku dan ikut menangkup perutku.</p>

<p>“<em>What’s wrong? Are you hurt?</em>”</p>

<p>Aku perlu mengatur napasku, berusaha tetap tenang membiarkan keram yang muncul berlangsung sebagaimana yang telah aku alami semenjang ia tumbuh.</p>

<p>“<em>Cheesecake,</em>” ujarku sembari mencari sorot matanya. “<em>The baby ate too much strawberry cheesecake earlier.</em>”</p>

<p>Tanpa kuduga, dia melontarkan kekeh kecil sembari mengeratkan dekapannya padaku. Memberi kecupan penuh kasih di dahiku, sebelum bibirnya berlabuh di pelipisku sembari berbisik, “<em>Cheesecake,</em>” dan mulai mengelusi perutku. “<em>We should prepare a lot for our cheesecake.</em>”</p>

<p>“Perlu Anda tahu bahwa dia sudah sebesar <em>sweet potato.</em>”</p>

<p>“<em>We’ll still call it cheesecake.</em>”</p>

<p>Menjadi giliranku yang terkekeh bersama sisa-sisa tangisku. Kini aku tidak lagi mengelak, tidak lagi mendorongnya menjauh. Sebab aku tidak ingin membohongi diri terlalu lama.</p>

<p><em>Aku sangat mencintainya.</em></p>

<p>“Sebentar lagi saya akan mengetahui jenis kelaminnya.”</p>

<p><em>Dan aku tidak akan melepaskannya lagi.</em></p>

<p>“<em>We have to see it together.</em>”</p>

<p>Kali ini..., aku sungguh berjanji.</p>

<p>“<em>Together....</em>”</p>

<p>—:)</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://elvbr-wp.writeas.com/because-i-do-love-you</guid>
      <pubDate>Mon, 14 Oct 2024 12:15:46 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Ellana, masih dengan usahanya</title>
      <link>https://elvbr-wp.writeas.com/ellana-masih-dengan-usahanya?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[h4✎__Mingyu as Kalandra, The Bodyguard - Pt.31/h4&#xA;&#xA;•••&#xA;&#xA;&#34;Taruh di situ aja.&#34;&#xA;&#xA;Beberapa kantung belanjaan Kalandra letakkan di meja konter. Sedari tadi, matanya begitu sibuk mengamati secara bergantian; pada Laras, lalu pada Ellana. Rasa khawatirnya juga terbagi untuk Laras yang tampak tidak menunjukkan kemarahan, lalu pada Ellana yang tampak lebih banyak diam. !--more--&#xA;&#xA;Suasana yang begitu canggung terlalu jelas mengudara dan Kalandra tahu bahwa dia tidak mungkin diam saja. Maka ketika Laras menghilang ke dalam kamar mandi, menjadi kesempatan Kalandra untuk mendekati Ellana, bermaksud memastikan keadaannya.&#xA;&#xA;Gadis itu hanya diam berdiri di sana, mengamati dinding dekat pintu masuk di mana beberapa foto dirinya bersama keluarga terpajang. Kalandra pikir, Ellana akan menunjukkan kelemahannya begitu dia berdiri di sampingnya. Namun sepertinya, Kalandra terlalu diselimuti kecemasan sebab ternyata Ellana lebih tertarik mengambil salah satu bingkai foto dari meja hias di hadapannya, menunjukkannya pada Kalandra.&#xA;&#xA;Ada sirat tidak mengerti di sana, pun dari kernyit di dahinya menjelaskan bahwa Ellana kebingungan. Mengapa ada foto dirinya di tengah potret-potret keluarga Kalandra?&#xA;&#xA;Mengapa Ellana tidak tahu bahwa dirinya pernah dipotret dengan ekspresi semanis ini? Kapan dia pernah tampak sebahagia ini? Apakah ini saat dia sedang berkencan dengan Kalandra?&#xA;&#xA;Mengapa Ellana tidak pernah melihatnya ada di sini sebelumnya?&#xA;&#xA;&#34;Kamu mau makan apa, Andra?&#34;&#xA;&#xA;Tetapi belum sempat percakapan mereka terjalin, Laras sudah lebih dulu keluar dari kamar mandi. Suara kucuran air dari flush toilet mengalun beberapa saat sebelum digantikan oleh Laras yang mulai menyibukkan diri di dapur.&#xA;&#xA;&#34;Apa aja yang mau Mama masak.&#34;&#xA;&#xA;Bersamaan dengan jawabannya, Kalandra menggamit tangan Ellana, menggenggamnya agar melangkah bersamanya, menuntunnya agar kemudian duduk di salah satu kursi di meja makan.&#xA;&#xA;Di mana tentu tindakannya tertangkap oleh mata Laras, dan Kalandra tidak memusingkan tatapan menilai itu sebab dia memang ingin menunjukkan bahwa dia tidak mau Ellana merasa diabaikan di sini.&#xA;&#xA;&#34;Mama mau sirup atau teh?&#34;&#xA;&#xA;Laras kembali memilih kembali melakukan tugasnya seraya menjawab, &#34;Apa aja. Asal jangan dingin.&#34;&#xA;&#xA;Lalu hening yang sedikit aneh itu kembali mengudara. Hanya ada suara kesibukan keduanya yang telah memenuhi dapur mengingat luasnya tidak sebesar milik rumah Ellana.&#xA;&#xA;Apalagi, tanpa mereka duga, Ellana akan datang bergabung, berdiri di hadapan Laras yang telah mengeluarkan segala bahan masakan dari kantungnya.&#xA;&#xA;&#34;Kalau gitu, aku boleh tahu gimana caranya buatin makanan kesukaan Kalan?&#34;&#xA;&#xA;Sedikit ketegangan hadir yang membuat Kalandra lekas menengahi. &#34;Ellana - &#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamu bahkan belum tahu caranya memasak karena terbiasa menerima apa yang tinggal kamu makan saja.&#34;&#xA;&#xA;Dan jawaban telak Laras sekiranya semakin menambahkan atmosfer yang sesungguhnya tidak Kalandra sukai. &#34;Mama - &#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi kalau nggak dicoba, aku nggak akan pernah tahu gimana caranya masak. Jadi kalau aku mau belajar dari mamanya Kalan langsung, apa itu nggak boleh?&#34;&#xA;&#xA;Kali ini tidak ada panggilan dari Kalandra. Pun tidak ada balasan langsung dari Laras dan Kalandra tidak dapat melihat bagaimana ekspresi sang mama saat ini.&#xA;&#xA;Hanya saja melihat bagaimana Ellana tidak bergeming dari tempatnya, tidak ada gentar di matanya yang bahkan terlalu murni untuk dikatakan bahwa Ellana mencoba mencari muka, sepertinya Kalandra mulai mengerti mengapa pada akhirnya Laras mengembuskan napas panjang.&#xA;&#xA;&#34;Untuk saat ini, kamu cuma bisa mengamati apa yang saya kerjakan. Karena saya tidak yakin kalau kamu bahkan mampu memegang pisau dengan benar.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku bisa potong daun bawang, kok. Soalnya aku suka bikin ramen atau topokki.&#34;&#xA;&#xA;Jawaban polos Ellana bukan hanya mengundang dengkus geli dari Kalandra, tetapi secara mengejutkan, Laras juga tergeletik oleh itu.&#xA;&#xA;&#34;Kalau begitu, besok kamu mulai belajar cara memotong sayur lainnya.&#34;&#xA;&#xA;Jawaban tandas Laras tidak hanya mengembangkan binar senyum Ellana - bahkan gadis itu tanpa menunggu lama, mengambil kursi tinggi untuk dia duduki - tetapi juga mengejutkan Kalandra sehingga tanpa mampu dicegah, hatinya berbunga dengan cepatnya.&#xA;&#xA;Menyaksikan bagaimana Laras tidak keberatan bersuara menjelaskan apapun yang dia lakukan untuk Ellana yang memerhatikan. Padahal yang Kalandra tahu, sang mama tidak pernah suka banyak bicara jika sudah berkuasa di dapur.&#xA;&#xA;-:)]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h4>✎__Mingyu as Kalandra, The Bodyguard - Pt.31</h4>

<p>•••</p>

<p>“Taruh di situ aja.”</p>

<p>Beberapa kantung belanjaan Kalandra letakkan di meja konter. Sedari tadi, matanya begitu sibuk mengamati secara bergantian; pada Laras, lalu pada Ellana. Rasa khawatirnya juga terbagi untuk Laras yang tampak tidak menunjukkan kemarahan, lalu pada Ellana yang tampak lebih banyak diam. </p>

<p>Suasana yang begitu canggung terlalu jelas mengudara dan Kalandra tahu bahwa dia tidak mungkin diam saja. Maka ketika Laras menghilang ke dalam kamar mandi, menjadi kesempatan Kalandra untuk mendekati Ellana, bermaksud memastikan keadaannya.</p>

<p>Gadis itu hanya diam berdiri di sana, mengamati dinding dekat pintu masuk di mana beberapa foto dirinya bersama keluarga terpajang. Kalandra pikir, Ellana akan menunjukkan kelemahannya begitu dia berdiri di sampingnya. Namun sepertinya, Kalandra terlalu diselimuti kecemasan sebab ternyata Ellana lebih tertarik mengambil salah satu bingkai foto dari meja hias di hadapannya, menunjukkannya pada Kalandra.</p>

<p>Ada sirat tidak mengerti di sana, pun dari kernyit di dahinya menjelaskan bahwa Ellana kebingungan. Mengapa ada foto dirinya di tengah potret-potret keluarga Kalandra?</p>

<p>Mengapa Ellana tidak tahu bahwa dirinya pernah dipotret dengan ekspresi semanis ini? Kapan dia pernah tampak sebahagia ini? Apakah ini saat dia sedang berkencan dengan Kalandra?</p>

<p>Mengapa Ellana tidak pernah melihatnya ada di sini sebelumnya?</p>

<p>“Kamu mau makan apa, Andra?”</p>

<p>Tetapi belum sempat percakapan mereka terjalin, Laras sudah lebih dulu keluar dari kamar mandi. Suara kucuran air dari flush toilet mengalun beberapa saat sebelum digantikan oleh Laras yang mulai menyibukkan diri di dapur.</p>

<p>“Apa aja yang mau Mama masak.”</p>

<p>Bersamaan dengan jawabannya, Kalandra menggamit tangan Ellana, menggenggamnya agar melangkah bersamanya, menuntunnya agar kemudian duduk di salah satu kursi di meja makan.</p>

<p>Di mana tentu tindakannya tertangkap oleh mata Laras, dan Kalandra tidak memusingkan tatapan menilai itu sebab dia memang ingin menunjukkan bahwa dia tidak mau Ellana merasa diabaikan di sini.</p>

<p>“Mama mau sirup atau teh?”</p>

<p>Laras kembali memilih kembali melakukan tugasnya seraya menjawab, “Apa aja. Asal jangan dingin.”</p>

<p>Lalu hening yang sedikit aneh itu kembali mengudara. Hanya ada suara kesibukan keduanya yang telah memenuhi dapur mengingat luasnya tidak sebesar milik rumah Ellana.</p>

<p>Apalagi, tanpa mereka duga, Ellana akan datang bergabung, berdiri di hadapan Laras yang telah mengeluarkan segala bahan masakan dari kantungnya.</p>

<p>“Kalau gitu, aku boleh tahu gimana caranya buatin makanan kesukaan Kalan?”</p>

<p>Sedikit ketegangan hadir yang membuat Kalandra lekas menengahi. “Ellana - ”</p>

<p>“Kamu bahkan belum tahu caranya memasak karena terbiasa menerima apa yang tinggal kamu makan saja.”</p>

<p>Dan jawaban telak Laras sekiranya semakin menambahkan atmosfer yang sesungguhnya tidak Kalandra sukai. “Mama - ”</p>

<p>“Tapi kalau nggak dicoba, aku nggak akan pernah tahu gimana caranya masak. Jadi kalau aku mau belajar dari mamanya Kalan langsung, apa itu nggak boleh?”</p>

<p>Kali ini tidak ada panggilan dari Kalandra. Pun tidak ada balasan langsung dari Laras dan Kalandra tidak dapat melihat bagaimana ekspresi sang mama saat ini.</p>

<p>Hanya saja melihat bagaimana Ellana tidak bergeming dari tempatnya, tidak ada gentar di matanya yang bahkan terlalu murni untuk dikatakan bahwa Ellana mencoba <em>mencari muka,</em> sepertinya Kalandra mulai mengerti mengapa pada akhirnya Laras mengembuskan napas panjang.</p>

<p>“Untuk saat ini, kamu cuma bisa mengamati apa yang saya kerjakan. Karena saya tidak yakin kalau kamu bahkan mampu memegang pisau dengan benar.”</p>

<p>“Aku bisa potong daun bawang, kok. Soalnya aku suka bikin <em>ramen</em> atau <em>topokki.</em>“</p>

<p>Jawaban polos Ellana bukan hanya mengundang dengkus geli dari Kalandra, tetapi secara mengejutkan, Laras juga tergeletik oleh itu.</p>

<p>“Kalau begitu, besok kamu mulai belajar cara memotong sayur lainnya.”</p>

<p>Jawaban tandas Laras tidak hanya mengembangkan binar senyum Ellana - bahkan gadis itu tanpa menunggu lama, mengambil kursi tinggi untuk dia duduki - tetapi juga mengejutkan Kalandra sehingga tanpa mampu dicegah, hatinya berbunga dengan cepatnya.</p>

<p>Menyaksikan bagaimana Laras tidak keberatan bersuara menjelaskan apapun yang dia lakukan untuk Ellana yang memerhatikan. Padahal yang Kalandra tahu, sang mama tidak pernah suka banyak bicara jika sudah berkuasa di dapur.</p>

<p>-:)</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://elvbr-wp.writeas.com/ellana-masih-dengan-usahanya</guid>
      <pubDate>Sat, 05 Oct 2024 13:37:09 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Seharusnya Ellana....</title>
      <link>https://elvbr-wp.writeas.com/seharusnya-ellana?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[h4✎__Mingyu as Kalandra, The Bodyguard - Pt.31/h4&#xA;&#xA;•••&#xA;&#xA;&#34;Ini humpback karena warnanya lebih pucat. Sering dibilang salmon pink. Tapi rasanya biasa aja. Lebih enak yang warna pekat ini karena bisa jadi sashimi.&#34; !--more--&#xA;&#xA;Ellana menjelaskan sembari memegang dua jenis potongan daging salmon yang telah terbungkus rapi dengan plastic wrap. Di mana itu diperhatikan dengan seksama oleh Laras yang akan memandangi gadis itu penuh menilai.&#xA;&#xA;&#34;Menurut kamu, Andra lebih suka yang mana?&#34;&#xA;&#xA;Ellana terdiam sembari memandangi keduanya. Lebih suka yang mana? Selama ini Ellana hanya tahu bahwa Kalandra akan memakan apa yang Ellana sukai sehingga dia memutuskan daging salmon berwarna oranye pekat itu untuk dimasukkan ke dalam troli belanja.&#xA;&#xA;&#34;Kalan pasti suka sama yang ini.&#34;&#xA;&#xA;Laras menaikkan alisnya. Tidak ada komentar keluar dari mulutnya. Sebab kebetulan, Ellana sudah berlari ke bagian perdagingan sapi untuk kemudian mengambil dua jenis daging yang sudah Ellana hapal pula jenis dan bentuknya.&#xA;&#xA;&#34;Kalan pernah buat ini di rumah. Katanya, sirloin lebih tebal dagingnya dan lebih gurih. Kalau tenderloin lebih lembut jadi lebih gampang dipotongnya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Andra lebih suka yang mana?&#34;&#xA;&#xA;Pertanyaan sama yang membuat Ellana kembali termenung. Sebelum kemudian memilih yang menurutnya lebih sering dia makan bersama Kalandra, yaitu tenderloin.&#xA;&#xA;Untuk sesaat Laras hanya mengamati Ellana yang kembali meletakkan bahan pilihannya ke dalam troli. Laras tahu bahwa Ellana sedang berusaha memberi kesan yang baik padanya. Menebar senyum manis yang sesungguhnya begitu lugu dan mudah ternilai oleh Laras akan betapa gadis ini hanya melakukan apa yang menurutnya benar.&#xA;&#xA;Sehingga Laras perlu memberi tahu, dengan mengembalikan salmon maupun tenderloin itu ke tempat asalnya, yang mana tindakannya berhasil melunturkan senyum Ellana dan diam-diam gadis itu mengeratkan pegangannya pada gagang troli yang sedari awal dia ambil sebagai keputusan bulatnya untuk meluluhkan hati sang mama Kalandra.&#xA;&#xA;Laras menarik troli tersebut sehingga mau tak mau Ellana mengikuti. Berhenti di bagian perkumpulan seafood untuk mengambil salah satu bingkisan daging cumi-cumi.&#xA;&#xA;&#34;Andra lebih suka memakan cumi daripada salmon. Cumi goreng asam adalah kesukaannya,&#34; ucap Laras seraya meletakkan daging tersebut ke dalam troli. &#34;Tetapi lebih dari itu, dia jauh lebih senang mengonsumsi olahan ayam karena menurutnya lebih mudah dicari dan dimasak.&#34;&#xA;&#xA;Ellana tidak mengelak ketika Laras kembali menarik troli belanja mereka bergerak menuju kumpulan daging ayam yang telah dikemas sesuai bagiannya. Memilih potongan tanpa daging sebanyak dua kemasan untuk bergabung ke dalam troli juga.&#xA;&#xA;&#34;Dia suka bagian dada yang sudah di-fillet seperti ini. Katanya, kalau lagi lakukan diet untuk olahraga, dia akan makan ini karena menurutnya lebih simpel.&#34;&#xA;&#xA;Barulah Laras menatap Ellana kembali. Adanya renungan terpancar di sana, menjelaskan bahwa Ellana memang belum mengetahui perihal ini. Akan tetapi, secara mengejutkan, tidak ada sorot menghakimi dari Laras.&#xA;&#xA;&#34;Apa yang kamu pilih adalah makanan kesukaan kamu. Karena Andra bekerja menjaga kamu, maka dia berusaha mengimbangi kamu agar kamu tidak merasa sendiri.&#34;&#xA;&#xA;Aah, begitu….&#xA;&#xA;Ellana tidak menyadari hal itu. Tetapi kini dia tersadar bahwa selama ini, Kalandra memang hanya mengikuti apapun yang dia mau. Apapun yang dia makan. Apapun yang ingin dia lakukan. Kalandra hanya akan mengikuti karena dia harus menjaganya.&#xA;&#xA;&#34;Jika kamu ingin menyenangkan Andra, kamu juga perlu tahu apa makanan kesukaan dia. Bukan hanya makanan, tetapi setidaknya kamu juga tahu apa yang Andra senangi di luar kesenangan kamu.&#34;&#xA;&#xA;Benar, seharusnya Ellana lakukan hal yang sama seperti yang selama ini Kalandra lakukan untuknya.&#xA;&#xA;&#34;Dengan begitu, kamu juga akan tahu caranya mengenal dan menyayangi Andra. Seperti yang sudah Andra lakukan untuk kamu.&#34;&#xA;&#xA;Walau tiada senyum, tutur kata Laras begitu lembut dan tak ada kesan menuding. Akan tetapi, itu jauh lebih cukup untuk menohok hati Ellana sehingga yang dia lakukan hanya terdiam.&#xA;&#xA;Kalandra lebih banyak tahu soal dirinya, tetapi Ellana belum banyak tahu soal Kalandra.&#xA;&#xA;Kalandra lebih banyak memahami soal dirinya, tetapi Ellana belum melakukan hal sama untuk Kalandra.&#xA;&#xA;Mungkinkah karena itu, Laras belum bisa menerima kenyataan bahwa Ellana adalah gadis pilihan putranya?&#xA;&#xA;Mungkinkah karena itu, Laras tidak percaya bahwa pria penuh pengertian seperti Kalandra harus menaruh hatinya pada gadis seperti Ellana?&#xA;&#xA;Sesi berbelanja bersama itu tetap memberi hasil yang tidak sesuai harapan Ellana. Sisa dari waktu yang ada, Ellana hanya mendorong troli membiarkan Laras melakukan pilihannya yang Ellana tahu bahwa semua itu untuk Kalandra.&#xA;&#xA;Terlebih ketika dia menemukan sosok Kalandra datang menyusul, tidak ada rasa lega maupun senang yang menggugahnya. Apalagi, Laras membiarkan Kalandra membawa seluruh belanjaan itu sehingga tiada waktu bagi Ellana untuk menggenggam tangan pria itu demi meminta pertolongan.&#xA;&#xA;Tiada waktu bagi mereka untuk saling bertukar sapa. Hanya ada kesempatan bagi Ellana untuk menyadari bahwa dirinya hanya mampu memandangi Kalandra di bangku belakang.&#xA;&#xA;Sebab kursi yang biasa Ellana duduki di sebelah Kalandra, kini harus dia relakan untuk Laras, sang mama yang lebih pantas berada di sisi putranya.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h4>✎__Mingyu as Kalandra, The Bodyguard - Pt.31</h4>

<p>•••</p>

<p>“Ini <em>humpback</em> karena warnanya lebih pucat. Sering dibilang salmon pink. Tapi rasanya biasa aja. Lebih enak yang warna pekat ini karena bisa jadi <em>sashimi</em>.” </p>

<p>Ellana menjelaskan sembari memegang dua jenis potongan daging salmon yang telah terbungkus rapi dengan <em>plastic wrap.</em> Di mana itu diperhatikan dengan seksama oleh Laras yang akan memandangi gadis itu penuh menilai.</p>

<p>“Menurut kamu, Andra lebih suka yang mana?”</p>

<p>Ellana terdiam sembari memandangi keduanya. <em>Lebih suka yang mana?</em> Selama ini Ellana hanya tahu bahwa Kalandra akan memakan apa yang Ellana sukai sehingga dia memutuskan daging salmon berwarna oranye pekat itu untuk dimasukkan ke dalam troli belanja.</p>

<p>“Kalan pasti suka sama yang ini.”</p>

<p>Laras menaikkan alisnya. Tidak ada komentar keluar dari mulutnya. Sebab kebetulan, Ellana sudah berlari ke bagian perdagingan sapi untuk kemudian mengambil dua jenis daging yang sudah Ellana hapal pula jenis dan bentuknya.</p>

<p>“Kalan pernah buat ini di rumah. Katanya, <em>sirloin</em> lebih tebal dagingnya dan lebih gurih. Kalau <em>tenderloin</em> lebih lembut jadi lebih gampang dipotongnya.”</p>

<p>“Andra lebih suka yang mana?”</p>

<p>Pertanyaan sama yang membuat Ellana kembali termenung. Sebelum kemudian memilih yang menurutnya lebih sering dia makan bersama Kalandra, yaitu <em>tenderloin.</em></p>

<p>Untuk sesaat Laras hanya mengamati Ellana yang kembali meletakkan <em>bahan pilihannya</em> ke dalam troli. Laras tahu bahwa Ellana sedang berusaha memberi kesan yang baik padanya. Menebar senyum manis yang sesungguhnya begitu lugu dan mudah ternilai oleh Laras akan betapa gadis ini hanya melakukan apa yang menurutnya benar.</p>

<p>Sehingga Laras perlu memberi tahu, dengan mengembalikan salmon maupun tenderloin itu ke tempat asalnya, yang mana tindakannya berhasil melunturkan senyum Ellana dan diam-diam gadis itu mengeratkan pegangannya pada gagang troli yang sedari awal dia ambil sebagai keputusan bulatnya untuk <em>meluluhkan hati sang mama Kalandra.</em></p>

<p>Laras menarik troli tersebut sehingga mau tak mau Ellana mengikuti. Berhenti di bagian perkumpulan seafood untuk mengambil salah satu bingkisan daging cumi-cumi.</p>

<p>“Andra lebih suka memakan cumi daripada salmon. Cumi goreng asam adalah kesukaannya,” ucap Laras seraya meletakkan daging tersebut ke dalam troli. “Tetapi lebih dari itu, dia jauh lebih senang mengonsumsi olahan ayam karena menurutnya lebih mudah dicari dan dimasak.”</p>

<p>Ellana tidak mengelak ketika Laras kembali menarik troli belanja mereka bergerak menuju kumpulan daging ayam yang telah dikemas sesuai bagiannya. Memilih potongan tanpa daging sebanyak dua kemasan untuk bergabung ke dalam troli juga.</p>

<p>“Dia suka bagian dada yang sudah di-<em>fillet</em> seperti ini. Katanya, kalau lagi lakukan diet untuk olahraga, dia akan makan ini karena menurutnya lebih simpel.”</p>

<p>Barulah Laras menatap Ellana kembali. Adanya renungan terpancar di sana, menjelaskan bahwa Ellana memang belum mengetahui perihal ini. Akan tetapi, secara mengejutkan, tidak ada sorot menghakimi dari Laras.</p>

<p>“Apa yang kamu pilih adalah makanan kesukaan kamu. Karena Andra bekerja menjaga kamu, maka dia berusaha mengimbangi kamu agar kamu tidak merasa sendiri.”</p>

<p><em>Aah, begitu….</em></p>

<p>Ellana tidak menyadari hal itu. Tetapi kini dia tersadar bahwa selama ini, Kalandra memang hanya mengikuti apapun yang dia mau. Apapun yang dia makan. Apapun yang ingin dia lakukan. Kalandra hanya akan mengikuti karena dia harus menjaganya.</p>

<p>“Jika kamu ingin menyenangkan Andra, kamu juga perlu tahu apa makanan kesukaan dia. Bukan hanya makanan, tetapi setidaknya kamu juga tahu apa yang Andra senangi di luar kesenangan kamu.”</p>

<p><em>Benar, seharusnya Ellana lakukan hal yang sama seperti yang selama ini Kalandra lakukan untuknya.</em></p>

<p>“Dengan begitu, kamu juga akan tahu caranya mengenal dan menyayangi Andra. Seperti yang sudah Andra lakukan untuk kamu.”</p>

<p>Walau tiada senyum, tutur kata Laras begitu lembut dan tak ada kesan menuding. Akan tetapi, itu jauh lebih cukup untuk menohok hati Ellana sehingga yang dia lakukan hanya terdiam.</p>

<p>Kalandra lebih banyak tahu soal dirinya, tetapi Ellana belum banyak tahu soal Kalandra.</p>

<p>Kalandra lebih banyak memahami soal dirinya, tetapi Ellana belum melakukan hal sama untuk Kalandra.</p>

<p>Mungkinkah karena itu, Laras belum bisa menerima kenyataan bahwa Ellana adalah gadis pilihan putranya?</p>

<p>Mungkinkah karena itu, Laras tidak percaya bahwa pria penuh pengertian seperti Kalandra harus menaruh hatinya pada gadis seperti Ellana?</p>

<p>Sesi berbelanja bersama itu tetap memberi hasil yang tidak sesuai harapan Ellana. Sisa dari waktu yang ada, Ellana hanya mendorong troli membiarkan Laras melakukan pilihannya yang Ellana tahu bahwa semua itu untuk Kalandra.</p>

<p>Terlebih ketika dia menemukan sosok Kalandra datang menyusul, tidak ada rasa lega maupun senang yang menggugahnya. Apalagi, Laras membiarkan Kalandra membawa seluruh belanjaan itu sehingga tiada waktu bagi Ellana untuk menggenggam tangan pria itu demi meminta pertolongan.</p>

<p>Tiada waktu bagi mereka untuk saling bertukar sapa. Hanya ada kesempatan bagi Ellana untuk menyadari bahwa dirinya hanya mampu memandangi Kalandra di bangku belakang.</p>

<p>Sebab kursi yang biasa Ellana duduki di sebelah Kalandra, kini harus dia relakan untuk Laras, sang mama yang lebih pantas berada di sisi putranya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://elvbr-wp.writeas.com/seharusnya-ellana</guid>
      <pubDate>Sat, 05 Oct 2024 13:32:17 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>This is me trying</title>
      <link>https://elvbr-wp.writeas.com/this-is-me-trying?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[h4Arthur, The Hidden Prince - Pt.19/h4&#xA;&#xA;. . .&#xA;&#xA;“Dia terlihat cukup sehat. Dia pasti merasa nyaman sekali berada bersama Anda.”&#xA;&#xA;Pujian yang sedikitnya membuatku tersenyum. Tangan-tanganku berusaha untuk tetap tenang, tetapi sepertinya sulit untuk tidak terus-terusan mengepal atas usahaku menahan tangis. !--more--&#xA;&#xA;Menyaksikan layar kecil yang tengah menampilan penampakan buah hati yang telah tumbuh sebesar buah jeruk di dalam perutku.&#xA;&#xA;“Detak jantungnya pun sangat stabil. Sangat menakjubkan karena dia begitu kuat bersama sang ibu.” Wanita bersneli putih itu tak lelah memberikan senyum apresiasi kepadaku di tengah menggerakkan transducer di permukaan perutku. “Dia pasti akan tumbuh menjadi anak yang kuat.”&#xA;&#xA;Entah apakah dia mengatakannya dengan sungguh-sungguh atau sekadar menghiburku, tetapi aku tetap menunjukkan senyum berterima kasih atas segala sanjungannya.&#xA;&#xA;Sesi kontrol yang lagi-lagi menyentuh hati kecilku hingga berkali-kali pula aku harus menguatkan diri. Aku berusaha untuk tetap tenang dan menunjukkan bahwa aku bahagia. Aku hanya mengajukan keluhan selayaknya yang dialami oleh para ibu hamil kebanyakan lalu mendapat masukan seperlunya.&#xA;&#xA;Tetapi sepertinya, aku masih terlalu jelas menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya. Sehingga sang dokter kandungan yang sudah beberapa kali menanganiku kini menatapku dengan serius.&#xA;&#xA;“Saya cukup memahami bahwa kesendirian Anda saat ini mungkin terasa sulit. Tetapi saya harap Anda tetap menjaga kesehatan dan ketenangan Anda. Mungkin untuk kedepannya, Anda bisa datang bersama pendamping agar ada yang memahami keperluan Anda dan Anda tidak menanggungnya sendirian.”&#xA;&#xA;Tangan-tanganku mengepal di pangkuan. Masih berusaha tetap tegar dan mengangguk kecil seakan itu bukan suatu masalah serius.&#xA;&#xA;“Perhatikan pola makan dan perbanyak istirahat. Mulailah kurangi kegiatan agar Anda tidak mudah kelelahan. Jatuh pingsan yang pernah Anda alami adalah salah satu akibat dari Anda terlalu memaksakan diri.”&#xA;&#xA;Kini aku meringis malu. Mengingat kejadian yang pernah menimpaku di awal-awal aku pindah kemari, rasanya cukup memalukan sebab di situlah aku mulai mendapat pertanyaan mengapa aku seorang diri dan aku harus membuat cerita bahwa aku sudah pisah ranjang dengan suamiku.&#xA;&#xA;Walau memang kenyataannya seperti itu.&#xA;&#xA;Sepanjang sesi konsultasi yang akhirnya membawaku pada keputusan bahwa aku perlu menjalani kontrol tiga minggu lagi, aku terus mengusapi perutku yang memang sudah kurasakan betapa ia mulai berkembang di dalam sana. Sungguh, untuk saat ini aku hanya menginginkan yang terbaik baginya sehingga aku terus berusaha memastikan dia masih menjadi alasanku untuk tetap melangkah maju.&#xA;&#xA;Begitu keluar dari ruang pemeriksaan, aku disambut oleh senyum hangat wanita yang sedari tadi menunggu. Wanita yang sudah menemaniku belakangan ini, bahkan bersedia merawatku di saat aku begitu kehilangan arah hingga aku merasa sedikit lebih baik untuk sekarang.&#xA;&#xA;“Apakah semuanya baik-baik saja?”&#xA;&#xA;Aku mengangguk diiringi senyum kecil untuk Madam Lily yang lekas menggamit lenganku.&#xA;&#xA;“Sungguh baik-baik saja?”&#xA;&#xA;Madam Lily selalu mengulang pertanyaannya hanya demi memastikan bahwa aku berkata jujur. Mungkin karena aku sudah terlalu banyak menyembunyikan rasa sakit seorang diri, Madam Lily tidak dapat sepenuhnya langsung percaya dengan tiap jawaban yang kukerahkan.&#xA;&#xA;“Semuanya baik-baik saja, Madam Lily. Dia tumbuh dengan sangat baik dan Dokter mengatakan bahwa saya sudah bisa melihat jenis kelaminnya tiga minggu lagi.”&#xA;&#xA;“Oh, thank goodness. Sepertinya di saat itu aku harus ikut masuk ke dalam agar tidak terlambat terkejut mendengarnya.”&#xA;&#xA;Aku terkekeh menanggapi ucapan seriusnya. Lalu beliau turut mengusapi perutku, mematri antusias di wajahnya yang sudah paruh baya namun masih begitu bugar itu ditujukan kepadaku. Kepada kami.&#xA;&#xA;“Kau harus tumbuh menjadi anak berbakti karena ibumu sudah berjuang untukmu, Nak.”&#xA;&#xA;Sekali lagi, aku terkekeh pada Madam Lily yang berbicara pada perutku. Lalu ia membawa tanganku ke dalam lingkup genggam hangatnya, mendongak padaku yang memang sedikit lebih tinggi darinya dan tak lupa senyum sehangat ibu merekah di bibirnya.&#xA;&#xA;“Tidak disangka bahwa aku akan berada di masa bisa menemanimu seperti ini.” Madam Lily kemudian menangkup sisi wajahku agar ibu jarinya membelaiku lembut. “Kau benar-benar hebat karena sudah berada di sini, Bella. Kau akan baik-baik saja dan percayalah padaku; kau bisa melewati semuanya.”&#xA;&#xA;Aku berusaha untuk tidak menangis mengingat kami masih berada di rumah sakit. Kupegangi tangan Madam Lily yang masih setia menopangku, satu-satunya tangan yang masih bersedia memelukku di saat sesungguhnya aku masih begitu rapuh untuk saat ini.&#xA;&#xA;Rasanya menakjubkan sekali bahwa aku berhasil sampai di sini. Mungkin karena semesta sedang berpihak kepadaku sehingga semuanya terasa begitu lancar sekaligus asing.&#xA;&#xA;Aku sudah singgah di rumah Madam Lily. Di sudut kota kecil Avon dan berdampingan dengan bentangan sungai yang mengalir tenang. Konon, sungai ini menjadi salah satu destinasi wisata kecil sehingga tak pelak aku akan menemukan perahu-perahu kecil yang didayung santai akan melewati rumah ini, tepatnya di akhir pekan.&#xA;&#xA;Dan itu sudah menjadi pemandangan kesukaanku selama hampir dua bulan menetap di sini.&#xA;&#xA;“Menyingkirlah, Princess Bella. Berapa kali kukatakan padamu untuk tidak menyentuh daerah kekuasaanku?”&#xA;&#xA;Aku hanya menunjukkan cengiran atas teguran lugas Madam Lily muncul bersama wujudnya yang tengah memasang sarung tangan sebelum membuka oven. Aku tidak punya pilihan selain menyingkir dan menyaksikan beliau mengambil baking tray besar berisikan potongan-potongan chocolate cookies yang cukup besar.&#xA;&#xA;Madam Lily gemar sekali memasak sehingga tak terhitung lagi berapa banyak jenis masakan yang masuk ke mulutku. Beliau selalu memastikan aku tidak melewatkan waktu makan, bahkan aku dipaksakan menyantap tiga suap minimal meski aku tidak berkenan.&#xA;&#xA;“Ibu hamil tidak boleh mengosongkan perutnya karena sekarang dia tidak lagi sendiri. Jika kau tidak mau makan, ingatlah bahwa anakmu di dalam sana sedang kelaparan,” begitulah kalimat andalan Madam Lily saat mengomeliku jika aku tak bisa menemukan nafsu makanku.&#xA;&#xA;“Aku akan memetik jamur setelah ini dan kau!” Madam Lily menunjukku, menahanku yang sudah bersiap-siap untuk mengikutinya dalam tudingan tegasnya, “Tetaplah di sini dan istirahatkan tubuhmu, Princess Bella. Aku sungguh melarangmu keluar dari kediamanku kecuali kau memang ingin aku mengikatmu di dalam kamar.”&#xA;&#xA;Lagi, aku terkekeh atas omelannya dan mau tidak mau aku menurut padanya. Bukan maksudku untuk tidak mendengar titahannya. Hanya saja, aku sudah sangat merepotkannya sehingga rasanya tidak tahu diri sekali jika aku hanya bersantai di sini.&#xA;&#xA;Madam Lily ternyata memiliki ladang pertanian yang masih sering dia kerjakan dengan kedua tangannya sendiri. Beliau menceritakan bagaimana hasil pertaniannya akan dikirimkan ke pasar-pasar terdekat dan itu sudah sangat mencukupi kebutuhan hidupnya yang menurutnya sangatlah sederhana.&#xA;&#xA;Menjaga kediaman lama Arthur sudah menjadi pekerjaan sampingannya. Hanya sesekali dia akan datang untuk sekadar memeriksa keadaan sebelum kembali pulang kemari. Madam Lily bilang, dia akan selalu siaga karena mungkin saja Arthur akan pulang ke sana untuk menumpahkan rindu masa kecilnya.&#xA;&#xA;Arthur..., apakah dia baik-baik saja...?&#xA;&#xA;Dua bulan berlalu secara mengejutkan dan aku masih tidak percaya bahwa aku meninggalkan kastil serta kehidupan lamaku semudah itu. Aku bahkan tidak berpamitan secara langsung pada Ibu dan sehingga beliau berulang kali mencoba menghubungiku. Mengirim banyak pesan singkat yang mengatakan bahwa beliau merasa bersalah sekaligus merindukanku.&#xA;&#xA;Aku tahu bahwa keputusanku mungkin telah merugikan banyak orang. Tetapi aku sungguh memerlukan waktu untuk mencerna semuanya seorang diri. Walau sebenarnya, aku tidak dapat menampik bahwa wajahnya masih dan terus membayangiku di tiap tidurku.&#xA;&#xA;Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana obsidian kelamnya memancarkan pilu mendalam. Masih ingat bagaimana dia terus menggelengkan kepala menolak permintaanku yang tidak kuhiraukan kala itu. Dan aku masih ingat bagaimana dia terus memohon dalam memanggil namaku di tiap ketukan pada pintu sementara aku menangis kesakitan di baliknya.&#xA;&#xA;Aku telah mengingkari janjiku di malam itu.&#xA;&#xA;Mengingkari tekadku untuk tetap bertahan di sisinya.&#xA;&#xA;Mengingkari sumpahku sendiri untuk tidak lagi melepaskannya.&#xA;&#xA;Aku telah menghancurkan ikatan suci yang kuharapkan berlangsung selamanya ini karena ketidakberdayaanku dalam menampung semua nasib yang dijatuhkan kepadaku.&#xA;&#xA;Dua bulan berlalu semenjak aku berhasil keluar dari kastilnya, selama itu pula aku berharap dia sungguh mengabulkan permintaanku.&#xA;&#xA;Dia tidak mengejarku, tidak pula mencariku yang sesungguhnya membuatku berpikir bahwa dia memang telah menyerah. Tetapi itu tidak sertamerta membuatku tenang.&#xA;&#xA;Aku sendiri tidak memahami arti dari kegelisahanku. Apakah karena aku merindukannya? Ataukah karena dia ternyata tidak memperjuangkanku? Atau karena dia tidak kunjung menyatakan bahwa dia bersedia berpisah dariku...?&#xA;&#xA;Semua itu bercampur aduk hingga kini aku memegangi kepalaku yang mendadak pening. &#xA;&#xA;Terlalu banyak memikirkan hal yang membuatku menangis lagi hanya akan berakhir merepotkan diriku sendiri. Aku tidak boleh membuat Madam Lily khawatir dan mengomeliku lagi....&#xA;&#xA;“Apakah Anda berdua memiliki selera yang sama? Mungkin bisa diceritakan dari segi hobi atau ketertarikan pada sesuatu?”&#xA;&#xA;Niatku untuk mengistirahatkan pikiranku justru sirna. Baru saja mendudukkan diri pada sofa ruang tengah, aku harus terdiam kaku menyaksikan sosoknya muncul paling pertama begitu televisi dinyalakan. &#xA;&#xA;“Arthur...,” bahkan hanya dengan mulutku menggumamkan namanya, hatiku bergolak tak mampu berbohong bahwa aku memang merindukannya.&#xA;&#xA;Seperti biasa, dia begitu menawan. Membuat jantungku dengan lancangnya berdebar lantaran lagi dan lagi, aku jatuh hati hanya dengan melihat rupanya. Aku begitu lancang mengagumi senyumnya yang secerah mentari hingga terlalu cepat menghangatkan pipiku.&#xA;&#xA;Namun hal yang lebih mengejutkan dari semua itu adalah dia lemparkan reaksi tersebut pada pria yang turut duduk di sampingnya; Pangeran Willard, dengan gestur yang bagai mengatakan bahwa mereka baik-baik saja.&#xA;&#xA;“Saya rasa kami memiliki banyak kesamaan karena hampir menghabiskan masa kecil bersama-sama. Seperti berlatih bela diri bersama, berlatih anggar, berlatih—”&#xA;&#xA;“Bukankah kita ditanyakan soal hobi bukan rutinitas bersama?”&#xA;&#xA;Tawa geli mengalun di studio rekaman itu. Aku pun mendengkus lalu tersenyum tidak percaya bahwa mereka akan menunjukkan keakraban yang entah itu memang sungguh-sungguh, atau hanya sandiwara.&#xA;&#xA;“Aku rasa dengan adanya rutinitas itu bisa berakhir menjadi sebuah hobi. Apakah kau tidak menyukai berkuda pada akhirnya?”&#xA;&#xA;“Mungkin lebih kepada aku suka saat kita akan bertaruh siapa yang lebih dulu dipanggil oleh Ibu karena kita sama-sama melarikan diri saat hendak latihan berkuda.”&#xA;&#xA;“Ya, tapi kita sama-sama tahu bahwa sesungguhnya Ibu akan selalu memanggil kami dari yang tertua dulu jadi kau akan menceburkanku ke kolam lalu melarikan diri tanpaku.”&#xA;&#xA;Tawa renyah mengalun nyaring di antara mereka. Baik dirinya maupun Pangeran Willard tak segan untuk saling menepuk bahu layaknya kakak beradik yang begitu akrab dan senang melempar canda-tawa. Apapun intensi di baliknya, aku turut senang melihat mereka bersedia datang dan memberi impresi baik kepada publik.&#xA;&#xA;“Oh, mungkin soal selera musik. Arthur mempunyai selera musik yang cukup unik karena dia lebih senang mendengarkan musik tahun 90-an. Sedangkan saya mengikuti pop masa kini.”&#xA;&#xA;“Lebih tepatnya Kakak senang mendengarkan musik balada sampai terkadang aku berpikir apakah kau sedang putus cinta atau apa.”&#xA;&#xA;“Balada tidak selalu tentang putus cinta, Arthur. Bisa juga karena sedang meratapi hidup.”&#xA;&#xA;“Oh, apakah ini sebuah petunjuk kalau—”&#xA;&#xA;“Tidak, tidak, jangan asumsikan apapun.”&#xA;&#xA;“Dia hanya terlalu gugup karena aku sering mendengar keluhannya.”&#xA;&#xA;Aku turut terkekeh menyaksikan perdebatan kecil mereka kembali mengundang tawa. Pangeran Willard bahkan tidak segan meninju pelan bahu Arthur yang malah membuatnya semakin tergelak seakan begitu puas menggoda saudaranya itu.&#xA;&#xA;Mereka terlihat berkharisma dan akur sekali....&#xA;&#xA;“Kalau begitu, apakah mungkin Anda berdua memiliki kesamaan dalam mencari tipe ideal untuk pendamping di kemudian hari?”&#xA;&#xA;Pertanyaan yang sedikitnya menimbulkan sorak kecil di antara mereka yang seketika saling bertukar tatap.&#xA;&#xA;“Wow, pertanyaan yang kita tunggu-tunggu.”&#xA;&#xA;“Dia terlalu bersemangat karena baru dikenalkan dengan seseorang.”&#xA;&#xA;“Arthur!”&#xA;&#xA;“Sorry, Brother, we should face this together. I can’t handle it alone.”&#xA;&#xA;Mereka kembali tertawa yang menular pada sang pembawa acara. Sedangkan aku perlu mencerna pembicaraan mereka kali ini yang kelihatannya memang saling menyimpan rahasia sama.&#xA;&#xA;“Jadi, dari mana kita harus memulai?”&#xA;&#xA;“Aku rasa Arthur harus membayar ini karena dia yang memulainya terlebih dahulu.”&#xA;&#xA;“Brother, that’s not fair!”&#xA;&#xA;“It would be fair if you told us first since I respect my brother who is missing his darling.”&#xA;&#xA;Lalu studio berubah heboh mengiringi ucapan Pangeran Willard yang sudah senyum lebar dan penuh arti. Mendukung Arthur yang tiba-tiba seperti kehilangan kata meski masih tertawa, salah tingkah.&#xA;&#xA;“Jadi yang pernah dikatakan oleh Pangeran Arthur adalah benar?”&#xA;&#xA;“Sepertinya dia harus mengatakannya lebih jelas agar tidak ada lagi rumor aneh beredar.”&#xA;&#xA;Rumor...?&#xA;&#xA;Rumor apa? Apakah aku melewatkan sesuatu?&#xA;&#xA;Memangnya dia pernah mengatakan apa sebelum ini…?&#xA;&#xA;“Saat itu saya memang belum bisa mengatakannya secara gamblang karena saya ingin menjaga privasinya. Tetapi, itu memang benar bahwa saya sudah menemukan pasangan dan saya harus mendahului Pangeran Willard yang masih senang sendiri.”&#xA;&#xA;Bahkan sang pembawa acara tampak terkejut atas pengakuannya. Sementara dia bersama Pangeran Willard hanya tersenyum seakan memang seperti ini jalan segmen yang mereka rencanakan.&#xA;&#xA;Apa yang sedang dia pikirkan? Mengapa dia harus mengatakan hal itu...?&#xA;&#xA;“Saya harus mengakui bahwa warga Inggris sangatlah pandai dalam menggali informasi yang ingin mereka ketahui. Tetapi sedikit membingungkan karena tiba-tiba muncul berita bahwa kami memperebutkan satu perempuan.”&#xA;&#xA;“Itu sangat tidak benar karena perlu diketahui bahwa Arthur sangat memperhatikan kenyamanan pasangannya. Jadi saya pun hanya beberapa kali bersapa dengannya.”&#xA;&#xA;“Bisa diceritakan sedikit bagaimana sosok pasangan Anda, Pangeran Arthur?”&#xA;&#xA;“Tentu saja dia perempuan luar biasa. Dia memiliki ketertarikan pada bunga karena dia adalah seorang florist dan bagi saya, dia adalah filosofi cinta yang saya idamkan karena dia jauh lebih indah daripada bunga-bunga yang sudah dia pegangi.”&#xA;&#xA;Jantungku berhenti berdetak untuk beberapa saat mendengar penjelasan lugasnya. &#xA;&#xA;Apakah dia diperkenankan mengatakan itu? Tidakkah dia berpikir bahwa ucapannya mampu memicu berita baru kedepannya?&#xA;&#xA;Bagaimana jika setelah ini dia mendapat amarah dari Ratu Margaret?&#xA;&#xA;“Dia sedikit keras kepala, tetapi sesungguhnya karena dia terlalu memikirkan kepentingan orang lain sehingga terkadang itu membuat saya begitu frustasi jika dia mulai melarikan diri. Walau begitu, caranya justru membuat saya sungguh-sungguh jatuh cinta padanya.”&#xA;&#xA;Apa yang dia bicarakan...?&#xA;&#xA;Dia... dia sedang membicarakan aku...?&#xA;&#xA;“Apa maksud Anda dalam melarikan diri? Apakah pasangan Anda sering menjauh dari Anda?”&#xA;&#xA;“Ini akan terdengar klise tetapi pada kenyataannya, dia perempuan yang tidak terbiasa dengan kehidupan yang saya jalani. Ada banyak perbedaan yang membuatnya merasa terpaksa untuk bisa sejajar dengan saya dan saya tidak senang melihatnya tersiksa seperti itu. Karenanya saya selalu berusaha datang sendiri dan mengejarnya dengan cara saya sendiri pula.”&#xA;&#xA;“Lantas bagaimana Anda bisa meyakinkan dia untuk akhirnya bersedia bersama Anda?”&#xA;&#xA;Dia tidak langsung menjawab. Menciptakan hening yang membuatku menahan napas terlebih kemudian, dia menunjukkan seutas senyum yang menohokku sebab aku tahu artinya....&#xA;&#xA;“Sesungguhnya saya belum bisa meyakinkannya karena saat ini dia masih menjauh dari saya.” Dia membuat jeda untuk mengambil napas. “Saya telah membuat kesalahan sehingga untuk saat ini, saya tidak dapat melakukan apapun selain membiarkannya pergi dari saya.”&#xA;&#xA;Lalu hening kembali mengalun, kali ini terasa lebih senyap sebab tidak ada interupsi dari siapapun seakan membiarkannya larut dalam suasana yang mendadak berubah kelabu. Mungkin, mereka juga terkejut dengan pengakuannya, termasuk aku.&#xA;&#xA;Sehingga menyambarku untuk turut merasakan sesak yang entah mengapa, itu terbaca jelas di wajahnya meski dia berusaha menyembunyikannya dengan senyum.&#xA;&#xA;“Saya ingin meminta maaf padanya karena telah menempatkan dirinya di situasi yang membingungkan. Pertemuan kami bisa dikatakan terjadi di waktu yang salah sehingga saya harus membuatnya kewalahan karena posisi saya saat ini. Dan….”&#xA;&#xA;Dia membasahi bibirnya. Sedangkan aku menggigit bibir menahan gelegak menyakitkan di tenggorokanku. Menyaksikan dirinya ternyata sedang berusaha tegar di balik tiap kata yang terucap dengan suaranya yang memberat parau....&#xA;&#xA;“Saya ingin dia tahu bahwa sesungguhnya, saya pun kewalahan di saat saya sudah berjanji untuk terus menjaganya. Dan sekarang, saya harus menanggung rasa bersalah luar biasa karena harus merelakannya pergi hanya agar dia hidup lebih baik dan tenang.”&#xA;&#xA;Mataku memanas begitu saja. Tidak kuasa melihatnya tak lagi segan menunjukkan kelemahannya di depan banyak pasang mata. Dengan menyatakan kejujuran yang terlalu mudah menyayat hatiku hingga perih seketika merebak basah.&#xA;&#xA;“Jadi, Anda sudah merelakan dia…?”&#xA;&#xA;Sang pembawa acara bertanya hati-hati. Di mana itu membuat jantungku yang sudah berdenyut sakit semakin ketakutan menunggu jawabannya. &#xA;&#xA;“Rasanya tidak tepat jika mengatakan bahwa saya sudah merelakannya, karena saya tidak pernah menganggap bahwa hubungan kami selesai. Saya hanya memberi kami waktu untuk menenangkan diri. Entah sampai kapan. Mungkin sampai akhirnya saya tidak lagi dapat menahan kerinduan saya padanya.”&#xA;&#xA;Jika dia mengatakannya diiringi kekeh berat bagai menyemangati diri, lain denganku yang justru berdesir hebat mendengar pengakuannya.&#xA;&#xA;Jadi, dia tidak sepenuhnya menyetujui permintaanku untuk berpisah darinya…?&#xA;&#xA;Apa yang kupikirkan bahwa dia menyerah soal aku itu ... adalah salah?&#xA;&#xA;“Bella…”&#xA;&#xA;Aku terhenyak, merasakan jantungku sekali lagi terjun lalu bergolak di perutku lantaran menyadari bahwa dia baru saja memanggilku.&#xA;&#xA;Dia menyebut namaku....&#xA;&#xA;“I wish I could make it up faster but I know that you&#39;ve been in too much of a rush when we were together. So just take your time until I can find you again. Until I can say many things to you when I finally meet you again.”&#xA;&#xA;Aku membekap mulutku. Tidak percaya bahwa dia akan sungguh mengatakannya di sebuah acara ternama, bahkan disaksikan oleh banyak orang, oleh para masyarakatnya, termasuk aku di sini....&#xA;&#xA;“I just want you to know that I&#39;m still trying to fix everything so you can come back to me with your lovely, and enchanting  smile. And please never think that I really let you go.”&#xA;&#xA;Mataku mengabur oleh perih merebak yang terlalu cepat meleleh. Sebagaimana dengan pengakuannya yang terlalu sulit untuk mampu kucerna bahwa dia—sungguh—melakukannya dengan frustasi yang terbalut oleh ketulusan yang terlalu keras menamparku.&#xA;&#xA;“I will come to you and take you back to my side again.”&#xA;&#xA;Tangisku pecah seketika, melebur bersama hatiku yang luluh lantak atas guncangan yang dia berikan melalui tiap kata lembutnya.&#xA;&#xA;Betapa sesungguhnya dia masih mempertahankanku dengan caranya.&#xA;&#xA;Betapa sesungguhnya dia masih menggenggamku dengan caranya.&#xA;&#xA;Betapa sesungguhnya dia memiliki rasa yang sama menyiksanya seperti yang telah menggerayangiku selama ini.&#xA;&#xA;“I miss you, Bella.”&#xA;&#xA;Merindukannya hingga begitu menyakitkan....&#xA;&#xA;—to be continued&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h4>Arthur, The Hidden Prince - Pt.19</h4>

<p>. . .</p>

<p>“Dia terlihat cukup sehat. Dia pasti merasa nyaman sekali berada bersama Anda.”</p>

<p>Pujian yang sedikitnya membuatku tersenyum. Tangan-tanganku berusaha untuk tetap tenang, tetapi sepertinya sulit untuk tidak terus-terusan mengepal atas usahaku menahan tangis. </p>

<p>Menyaksikan layar kecil yang tengah menampilan penampakan buah hati yang telah tumbuh sebesar buah jeruk di dalam perutku.</p>

<p>“Detak jantungnya pun sangat stabil. Sangat menakjubkan karena dia begitu kuat bersama sang ibu.” Wanita bersneli putih itu tak lelah memberikan senyum apresiasi kepadaku di tengah menggerakkan <em>transducer</em> di permukaan perutku. “Dia pasti akan tumbuh menjadi anak yang kuat.”</p>

<p>Entah apakah dia mengatakannya dengan sungguh-sungguh atau sekadar menghiburku, tetapi aku tetap menunjukkan senyum berterima kasih atas segala sanjungannya.</p>

<p>Sesi kontrol yang lagi-lagi menyentuh hati kecilku hingga berkali-kali pula aku harus menguatkan diri. Aku berusaha untuk tetap tenang dan menunjukkan bahwa aku bahagia. Aku hanya mengajukan keluhan selayaknya yang dialami oleh para ibu hamil kebanyakan lalu mendapat masukan seperlunya.</p>

<p>Tetapi sepertinya, aku masih terlalu jelas menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya. Sehingga sang dokter kandungan yang sudah beberapa kali menanganiku kini menatapku dengan serius.</p>

<p>“Saya cukup memahami bahwa kesendirian Anda saat ini mungkin terasa sulit. Tetapi saya harap Anda tetap menjaga kesehatan dan ketenangan Anda. Mungkin untuk kedepannya, Anda bisa datang bersama pendamping agar ada yang memahami keperluan Anda dan Anda tidak menanggungnya sendirian.”</p>

<p>Tangan-tanganku mengepal di pangkuan. Masih berusaha tetap tegar dan mengangguk kecil seakan itu bukan suatu masalah serius.</p>

<p>“Perhatikan pola makan dan perbanyak istirahat. Mulailah kurangi kegiatan agar Anda tidak mudah kelelahan. Jatuh pingsan yang pernah Anda alami adalah salah satu akibat dari Anda terlalu memaksakan diri.”</p>

<p>Kini aku meringis malu. Mengingat kejadian yang pernah menimpaku di awal-awal aku pindah kemari, rasanya cukup memalukan sebab di situlah aku mulai mendapat pertanyaan mengapa aku <em>seorang diri</em> dan aku harus membuat cerita bahwa aku sudah pisah ranjang dengan suamiku.</p>

<p><em>Walau memang kenyataannya seperti itu.</em></p>

<p>Sepanjang sesi konsultasi yang akhirnya membawaku pada keputusan bahwa aku perlu menjalani kontrol tiga minggu lagi, aku terus mengusapi perutku yang memang sudah kurasakan betapa ia mulai berkembang di dalam sana. Sungguh, untuk saat ini aku hanya menginginkan yang terbaik baginya sehingga aku terus berusaha memastikan dia masih menjadi alasanku untuk tetap melangkah maju.</p>

<p>Begitu keluar dari ruang pemeriksaan, aku disambut oleh senyum hangat wanita yang sedari tadi menunggu. Wanita yang sudah menemaniku belakangan ini, bahkan bersedia merawatku di saat aku begitu kehilangan arah hingga aku merasa sedikit lebih baik untuk sekarang.</p>

<p>“Apakah semuanya baik-baik saja?”</p>

<p>Aku mengangguk diiringi senyum kecil untuk Madam Lily yang lekas menggamit lenganku.</p>

<p>“Sungguh baik-baik saja?”</p>

<p>Madam Lily selalu mengulang pertanyaannya hanya demi memastikan bahwa aku berkata jujur. Mungkin karena aku sudah terlalu banyak menyembunyikan rasa sakit seorang diri, Madam Lily tidak dapat sepenuhnya langsung percaya dengan tiap jawaban yang kukerahkan.</p>

<p>“Semuanya baik-baik saja, Madam Lily. Dia tumbuh dengan sangat baik dan Dokter mengatakan bahwa saya sudah bisa melihat jenis kelaminnya tiga minggu lagi.”</p>

<p>“<em>Oh, thank goodness.</em> Sepertinya di saat itu aku harus ikut masuk ke dalam agar tidak terlambat terkejut mendengarnya.”</p>

<p>Aku terkekeh menanggapi ucapan seriusnya. Lalu beliau turut mengusapi perutku, mematri antusias di wajahnya yang sudah paruh baya namun masih begitu bugar itu ditujukan kepadaku. <em>Kepada kami.</em></p>

<p>“Kau harus tumbuh menjadi anak berbakti karena ibumu sudah berjuang untukmu, Nak.”</p>

<p>Sekali lagi, aku terkekeh pada Madam Lily yang berbicara pada perutku. Lalu ia membawa tanganku ke dalam lingkup genggam hangatnya, mendongak padaku yang memang sedikit lebih tinggi darinya dan tak lupa senyum sehangat <em>ibu</em> merekah di bibirnya.</p>

<p>“Tidak disangka bahwa aku akan berada di masa bisa menemanimu seperti ini.” Madam Lily kemudian menangkup sisi wajahku agar ibu jarinya membelaiku lembut. “Kau benar-benar hebat karena sudah berada di sini, Bella. Kau akan baik-baik saja dan percayalah padaku; kau bisa melewati semuanya.”</p>

<p>Aku berusaha untuk tidak menangis mengingat kami masih berada di rumah sakit. Kupegangi tangan Madam Lily yang masih setia menopangku, <em>satu-satunya</em> tangan yang masih bersedia memelukku di saat sesungguhnya aku masih begitu rapuh untuk saat ini.</p>

<p>Rasanya menakjubkan sekali bahwa aku berhasil sampai di sini. Mungkin karena semesta sedang berpihak kepadaku sehingga semuanya terasa begitu lancar sekaligus asing.</p>

<p>Aku sudah singgah di rumah Madam Lily. Di sudut kota kecil Avon dan berdampingan dengan bentangan sungai yang mengalir tenang. Konon, sungai ini menjadi salah satu destinasi wisata kecil sehingga tak pelak aku akan menemukan perahu-perahu kecil yang didayung santai akan melewati rumah ini, tepatnya di akhir pekan.</p>

<p>Dan itu sudah menjadi pemandangan kesukaanku selama hampir dua bulan menetap di sini.</p>

<p>“Menyingkirlah, Princess Bella. Berapa kali kukatakan padamu untuk tidak menyentuh daerah kekuasaanku?”</p>

<p>Aku hanya menunjukkan cengiran atas teguran lugas Madam Lily muncul bersama wujudnya yang tengah memasang sarung tangan sebelum membuka oven. Aku tidak punya pilihan selain menyingkir dan menyaksikan beliau mengambil <em>baking tray</em> besar berisikan potongan-potongan <em>chocolate cookies</em> yang cukup besar.</p>

<p>Madam Lily gemar sekali memasak sehingga tak terhitung lagi berapa banyak jenis masakan yang masuk ke mulutku. Beliau selalu memastikan aku tidak melewatkan waktu makan, bahkan aku dipaksakan menyantap tiga suap minimal meski aku tidak berkenan.</p>

<p>“Ibu hamil tidak boleh mengosongkan perutnya karena sekarang dia tidak lagi sendiri. Jika kau tidak mau makan, ingatlah bahwa anakmu di dalam sana sedang kelaparan,” begitulah kalimat andalan Madam Lily saat mengomeliku jika aku tak bisa menemukan nafsu makanku.</p>

<p>“Aku akan memetik jamur setelah ini dan kau!” Madam Lily menunjukku, menahanku yang sudah bersiap-siap untuk mengikutinya dalam tudingan tegasnya, “Tetaplah di sini dan istirahatkan tubuhmu, Princess Bella. Aku sungguh melarangmu keluar dari kediamanku kecuali kau memang ingin aku mengikatmu di dalam kamar.”</p>

<p>Lagi, aku terkekeh atas omelannya dan mau tidak mau aku menurut padanya. Bukan maksudku untuk tidak mendengar titahannya. Hanya saja, aku sudah sangat merepotkannya sehingga rasanya tidak tahu diri sekali jika aku hanya bersantai di sini.</p>

<p>Madam Lily ternyata memiliki ladang pertanian yang masih sering dia kerjakan dengan kedua tangannya sendiri. Beliau menceritakan bagaimana hasil pertaniannya akan dikirimkan ke pasar-pasar terdekat dan itu sudah sangat mencukupi kebutuhan hidupnya yang menurutnya sangatlah sederhana.</p>

<p>Menjaga kediaman lama Arthur sudah menjadi pekerjaan sampingannya. Hanya sesekali dia akan datang untuk sekadar memeriksa keadaan sebelum kembali pulang kemari. Madam Lily bilang, dia akan selalu siaga karena mungkin saja Arthur akan pulang ke sana untuk menumpahkan rindu masa kecilnya.</p>

<p><em>Arthur..., apakah dia baik-baik saja...?</em></p>

<p>Dua bulan berlalu secara mengejutkan dan aku masih tidak percaya bahwa aku meninggalkan kastil serta kehidupan lamaku semudah itu. Aku bahkan tidak berpamitan secara langsung pada Ibu dan sehingga beliau berulang kali mencoba menghubungiku. Mengirim banyak pesan singkat yang mengatakan bahwa beliau merasa bersalah sekaligus merindukanku.</p>

<p>Aku tahu bahwa keputusanku mungkin telah merugikan banyak orang. Tetapi aku sungguh memerlukan waktu untuk mencerna semuanya seorang diri. Walau sebenarnya, aku tidak dapat menampik bahwa wajahnya masih dan terus membayangiku di tiap tidurku.</p>

<p>Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana obsidian kelamnya memancarkan pilu mendalam. Masih ingat bagaimana dia terus menggelengkan kepala menolak permintaanku yang tidak kuhiraukan kala itu. Dan aku masih ingat bagaimana dia terus memohon dalam memanggil namaku di tiap ketukan pada pintu sementara aku menangis kesakitan di baliknya.</p>

<p>Aku telah mengingkari janjiku di malam itu.</p>

<p>Mengingkari tekadku untuk tetap bertahan di sisinya.</p>

<p>Mengingkari sumpahku sendiri untuk tidak lagi melepaskannya.</p>

<p>Aku telah menghancurkan ikatan suci yang kuharapkan berlangsung selamanya ini karena ketidakberdayaanku dalam menampung semua nasib yang dijatuhkan kepadaku.</p>

<p>Dua bulan berlalu semenjak aku berhasil keluar dari kastilnya, selama itu pula aku berharap dia sungguh mengabulkan permintaanku.</p>

<p>Dia tidak mengejarku, tidak pula mencariku yang sesungguhnya membuatku berpikir bahwa dia memang telah menyerah. Tetapi itu tidak sertamerta membuatku tenang.</p>

<p>Aku sendiri tidak memahami arti dari kegelisahanku. Apakah karena aku merindukannya? Ataukah karena dia ternyata tidak memperjuangkanku? Atau karena dia tidak kunjung menyatakan bahwa dia bersedia berpisah dariku...?</p>

<p>Semua itu bercampur aduk hingga kini aku memegangi kepalaku yang mendadak pening.</p>

<p>Terlalu banyak memikirkan hal yang membuatku menangis lagi hanya akan berakhir merepotkan diriku sendiri. Aku tidak boleh membuat Madam Lily khawatir dan mengomeliku lagi....</p>

<p><em>“Apakah Anda berdua memiliki selera yang sama? Mungkin bisa diceritakan dari segi hobi atau ketertarikan pada sesuatu?”</em></p>

<p>Niatku untuk mengistirahatkan pikiranku justru sirna. Baru saja mendudukkan diri pada sofa ruang tengah, aku harus terdiam kaku menyaksikan sosoknya muncul paling pertama begitu televisi dinyalakan.</p>

<p>“Arthur...,” bahkan hanya dengan mulutku menggumamkan namanya, hatiku bergolak tak mampu berbohong bahwa aku memang merindukannya.</p>

<p>Seperti biasa, dia begitu menawan. Membuat jantungku dengan lancangnya berdebar lantaran lagi dan lagi, aku jatuh hati hanya dengan melihat rupanya. Aku begitu lancang mengagumi senyumnya yang secerah mentari hingga terlalu cepat menghangatkan pipiku.</p>

<p>Namun hal yang lebih mengejutkan dari semua itu adalah dia lemparkan reaksi tersebut pada pria yang turut duduk di sampingnya; Pangeran Willard, dengan gestur yang bagai mengatakan bahwa mereka baik-baik saja.</p>

<p><em>“Saya rasa kami memiliki banyak kesamaan karena hampir menghabiskan masa kecil bersama-sama. Seperti berlatih bela diri bersama, berlatih anggar, berlatih—”</em></p>

<p><em>“Bukankah kita ditanyakan soal hobi bukan rutinitas bersama?”</em></p>

<p>Tawa geli mengalun di studio rekaman itu. Aku pun mendengkus lalu tersenyum tidak percaya bahwa mereka akan menunjukkan <em>keakraban</em> yang entah itu memang sungguh-sungguh, atau hanya <em>sandiwara.</em></p>

<p><em>“Aku rasa dengan adanya rutinitas itu bisa berakhir menjadi sebuah hobi. Apakah kau tidak menyukai berkuda pada akhirnya?”</em></p>

<p><em>“Mungkin lebih kepada aku suka saat kita akan bertaruh siapa yang lebih dulu dipanggil oleh Ibu karena kita sama-sama melarikan diri saat hendak latihan berkuda.”</em></p>

<p><em>“Ya, tapi kita sama-sama tahu bahwa sesungguhnya Ibu akan selalu memanggil kami dari yang tertua dulu jadi kau akan menceburkanku ke kolam lalu melarikan diri tanpaku.”</em></p>

<p>Tawa renyah mengalun nyaring di antara mereka. Baik dirinya maupun Pangeran Willard tak segan untuk saling menepuk bahu layaknya <em>kakak beradik</em> yang begitu akrab dan senang melempar canda-tawa. Apapun intensi di baliknya, aku turut senang melihat mereka bersedia datang dan memberi impresi baik kepada publik.</p>

<p><em>“Oh, mungkin soal selera musik. Arthur mempunyai selera musik yang cukup unik karena dia lebih senang mendengarkan musik tahun 90-an. Sedangkan saya mengikuti pop masa kini.”</em></p>

<p><em>“Lebih tepatnya Kakak senang mendengarkan musik balada sampai terkadang aku berpikir apakah kau sedang putus cinta atau apa.”</em></p>

<p><em>“Balada tidak selalu tentang putus cinta, Arthur. Bisa juga karena sedang meratapi hidup.”</em></p>

<p><em>“Oh, apakah ini sebuah petunjuk kalau—”</em></p>

<p><em>“Tidak, tidak, jangan asumsikan apapun.”</em></p>

<p><em>“Dia hanya terlalu gugup karena aku sering mendengar keluhannya.”</em></p>

<p>Aku turut terkekeh menyaksikan perdebatan kecil mereka kembali mengundang tawa. Pangeran Willard bahkan tidak segan meninju pelan bahu Arthur yang malah membuatnya semakin tergelak seakan begitu puas menggoda saudaranya itu.</p>

<p><em>Mereka terlihat berkharisma dan akur sekali....</em></p>

<p><em>“Kalau begitu, apakah mungkin Anda berdua memiliki kesamaan dalam mencari tipe ideal untuk pendamping di kemudian hari?”</em></p>

<p>Pertanyaan yang sedikitnya menimbulkan sorak kecil di antara mereka yang seketika saling bertukar tatap.</p>

<p><em>“Wow, pertanyaan yang kita tunggu-tunggu.”</em></p>

<p><em>“Dia terlalu bersemangat karena baru dikenalkan dengan seseorang.”</em></p>

<p><em>“Arthur!”</em></p>

<p><em>“Sorry, Brother, we should face this together. I can’t handle it alone.”</em></p>

<p>Mereka kembali tertawa yang menular pada sang pembawa acara. Sedangkan aku perlu mencerna pembicaraan mereka kali ini yang kelihatannya memang saling menyimpan rahasia sama.</p>

<p><em>“Jadi, dari mana kita harus memulai?”</em></p>

<p><em>“Aku rasa Arthur harus membayar ini karena dia yang memulainya terlebih dahulu.”</em></p>

<p><em>“Brother, that’s not fair!”</em></p>

<p><em>“It would be fair if you told us first since I respect my brother who is missing his darling.”</em></p>

<p>Lalu studio berubah heboh mengiringi ucapan Pangeran Willard yang sudah senyum lebar dan penuh arti. Mendukung Arthur yang tiba-tiba seperti kehilangan kata meski masih tertawa, salah tingkah.</p>

<p><em>“Jadi yang pernah dikatakan oleh Pangeran Arthur adalah benar?”</em></p>

<p><em>“Sepertinya dia harus mengatakannya lebih jelas agar tidak ada lagi rumor aneh beredar.”</em></p>

<p><em>Rumor...?</em></p>

<p>Rumor apa? Apakah aku melewatkan sesuatu?</p>

<p>Memangnya dia pernah mengatakan apa sebelum ini…?</p>

<p><em>“Saat itu saya memang belum bisa mengatakannya secara gamblang karena saya ingin menjaga privasinya. Tetapi, itu memang benar bahwa saya sudah menemukan pasangan dan saya harus mendahului Pangeran Willard yang masih senang sendiri.”</em></p>

<p>Bahkan sang pembawa acara tampak terkejut atas pengakuannya. Sementara dia bersama Pangeran Willard hanya tersenyum seakan memang seperti ini jalan segmen yang mereka rencanakan.</p>

<p>Apa yang sedang dia pikirkan? Mengapa dia harus mengatakan hal itu...?</p>

<p><em>“Saya harus mengakui bahwa warga Inggris sangatlah pandai dalam menggali informasi yang ingin mereka ketahui. Tetapi sedikit membingungkan karena tiba-tiba muncul berita bahwa kami memperebutkan satu perempuan.”</em></p>

<p><em>“Itu sangat tidak benar karena perlu diketahui bahwa Arthur sangat memperhatikan kenyamanan pasangannya. Jadi saya pun hanya beberapa kali bersapa dengannya.”</em></p>

<p><em>“Bisa diceritakan sedikit bagaimana sosok pasangan Anda, Pangeran Arthur?”</em></p>

<p><em>“Tentu saja dia perempuan luar biasa. Dia memiliki ketertarikan pada bunga karena dia adalah seorang</em> florist <em>dan bagi saya, dia adalah filosofi cinta yang saya idamkan karena dia jauh lebih indah daripada bunga-bunga yang sudah dia pegangi.”</em></p>

<p>Jantungku berhenti berdetak untuk beberapa saat mendengar penjelasan lugasnya.</p>

<p>Apakah dia diperkenankan mengatakan itu? Tidakkah dia berpikir bahwa ucapannya mampu memicu berita baru kedepannya?</p>

<p>Bagaimana jika setelah ini dia mendapat amarah dari Ratu Margaret?</p>

<p><em>“Dia sedikit keras kepala, tetapi sesungguhnya karena dia terlalu memikirkan kepentingan orang lain sehingga terkadang itu membuat saya begitu frustasi jika dia mulai melarikan diri. Walau begitu, caranya justru membuat saya sungguh-sungguh jatuh cinta padanya.”</em></p>

<p>Apa yang dia bicarakan...?</p>

<p>Dia... dia sedang membicarakan aku...?</p>

<p><em>“Apa maksud Anda dalam melarikan diri? Apakah pasangan Anda sering menjauh dari Anda?”</em></p>

<p><em>“Ini akan terdengar klise tetapi pada kenyataannya, dia perempuan yang tidak terbiasa dengan kehidupan yang saya jalani. Ada banyak perbedaan yang membuatnya merasa terpaksa untuk bisa sejajar dengan saya dan saya tidak senang melihatnya tersiksa seperti itu. Karenanya saya selalu berusaha datang sendiri dan mengejarnya dengan cara saya sendiri pula.”</em></p>

<p><em>“Lantas bagaimana Anda bisa meyakinkan dia untuk akhirnya bersedia bersama Anda?”</em></p>

<p>Dia tidak langsung menjawab. Menciptakan hening yang membuatku menahan napas terlebih kemudian, dia menunjukkan seutas senyum yang menohokku sebab aku tahu artinya....</p>

<p><em>“Sesungguhnya saya belum bisa meyakinkannya karena saat ini dia masih menjauh dari saya.”</em> Dia membuat jeda untuk mengambil napas. <em>“Saya telah membuat kesalahan sehingga untuk saat ini, saya tidak dapat melakukan apapun selain membiarkannya pergi dari saya.”</em></p>

<p>Lalu hening kembali mengalun, kali ini terasa lebih senyap sebab tidak ada interupsi dari siapapun seakan membiarkannya larut dalam suasana yang mendadak berubah kelabu. Mungkin, mereka juga terkejut dengan pengakuannya, termasuk aku.</p>

<p>Sehingga menyambarku untuk turut merasakan sesak yang entah mengapa, itu terbaca jelas di wajahnya meski dia berusaha menyembunyikannya dengan senyum.</p>

<p><em>“Saya ingin meminta maaf padanya karena telah menempatkan dirinya di situasi yang membingungkan. Pertemuan kami bisa dikatakan terjadi di waktu yang salah sehingga saya harus membuatnya kewalahan karena posisi saya saat ini. Dan….”</em></p>

<p>Dia membasahi bibirnya. Sedangkan aku menggigit bibir menahan gelegak menyakitkan di tenggorokanku. Menyaksikan dirinya ternyata sedang berusaha tegar di balik tiap kata yang terucap dengan suaranya yang memberat parau....</p>

<p><em>“Saya ingin dia tahu bahwa sesungguhnya, saya pun kewalahan di saat saya sudah berjanji untuk terus menjaganya. Dan sekarang, saya harus menanggung rasa bersalah luar biasa karena harus merelakannya pergi hanya agar dia hidup lebih baik dan tenang.”</em></p>

<p>Mataku memanas begitu saja. Tidak kuasa melihatnya tak lagi segan menunjukkan kelemahannya di depan banyak pasang mata. Dengan menyatakan kejujuran yang terlalu mudah menyayat hatiku hingga perih seketika merebak basah.</p>

<p><em>“Jadi, Anda sudah merelakan dia…?”</em></p>

<p>Sang pembawa acara bertanya hati-hati. Di mana itu membuat jantungku yang sudah berdenyut sakit semakin ketakutan menunggu jawabannya.</p>

<p><em>“Rasanya tidak tepat jika mengatakan bahwa saya sudah merelakannya, karena saya tidak pernah menganggap bahwa hubungan kami selesai. Saya hanya memberi kami waktu untuk menenangkan diri. Entah sampai kapan. Mungkin sampai akhirnya saya tidak lagi dapat menahan kerinduan saya padanya.”</em></p>

<p>Jika dia mengatakannya diiringi kekeh berat bagai menyemangati diri, lain denganku yang justru berdesir hebat mendengar pengakuannya.</p>

<p><em>Jadi, dia tidak sepenuhnya menyetujui permintaanku untuk berpisah darinya…?</em></p>

<p>Apa yang kupikirkan bahwa dia menyerah soal aku itu ... adalah salah?</p>

<p><em>“Bella…”</em></p>

<p>Aku terhenyak, merasakan jantungku sekali lagi terjun lalu bergolak di perutku lantaran menyadari bahwa dia baru saja memanggilku.</p>

<p><em>Dia menyebut namaku....</em></p>

<p><em>“I wish I could make it up faster but I know that you&#39;ve been in too much of a rush when we were together. So just take your time until I can find you again. Until I can say many things to you when I finally meet you again.”</em></p>

<p>Aku membekap mulutku. Tidak percaya bahwa dia akan sungguh mengatakannya di sebuah acara ternama, bahkan disaksikan oleh banyak orang, <em>oleh para masyarakatnya,</em> termasuk aku di sini....</p>

<p><em>“I just want you to know that I&#39;m still trying to fix everything so you can come back to me with your lovely, and enchanting  smile. And please never think that I really let you go.”</em></p>

<p>Mataku mengabur oleh perih merebak yang terlalu cepat meleleh. Sebagaimana dengan pengakuannya yang terlalu sulit untuk mampu kucerna bahwa dia—<em>sungguh</em>—melakukannya dengan frustasi yang terbalut oleh ketulusan yang terlalu keras menamparku.</p>

<p><em>“I will come to you and take you back to my side again.”</em></p>

<p>Tangisku pecah seketika, melebur bersama hatiku yang luluh lantak atas guncangan yang dia berikan melalui tiap kata lembutnya.</p>

<p>Betapa sesungguhnya dia masih mempertahankanku dengan caranya.</p>

<p>Betapa sesungguhnya dia masih menggenggamku dengan caranya.</p>

<p>Betapa sesungguhnya dia memiliki rasa yang sama menyiksanya seperti yang telah menggerayangiku selama ini.</p>

<p><em>“I miss you, Bella.”</em></p>

<p><em>Merindukannya hingga begitu menyakitkan....</em></p>

<p><em>—to be continued</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://elvbr-wp.writeas.com/this-is-me-trying</guid>
      <pubDate>Sun, 18 Aug 2024 12:45:53 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>