elvbr

Satu hal yang langsung muncul di kepalaku begitu mengenali perempuan itu adalah melawannya.

Tidak peduli jika aku harus menyakiti diri sendiri lagi, asalkan aku bisa melindungi diriku dari kemunculannya yang sama sekali tidak terduga, maka kucengkeram tangannya sekuat yang kubisa. Bahkan menancapkan kuku jariku di sana hingga dia mulai meringis sakit.

Read more...

“Buka bajumu.”

Sontak saja aku melotot sekaligus menyilangkan kedua tanganku di dada sampai harus menahan ngilu. Baru saja ingin mengucapkan terima kasih karena sudah kembali menampungku di tempatnya tapi dia lebih dulu menghancurkan rasa terharuku.

Yang benar saja? Dia mau aku bertelanjang di hadapannya?!

Read more...

“Sudah pernah kubilang kalau ini semakin mempersulit kita.”

“Turunkan suaramu!”

Aku terbangun saat mendengar suara bersahutan itu. Lalu merasakan kehangatan melingkupi sekujur tubuh. Ada yang memberikan selimut dan sepertinya aku tahu siapa. Maka aku hanya bergerak seakan terusik tanpa membuka mata di mana selanjutnya kepalaku diusap sejenak olehnya.

Read more...

“Susul aku di persimpangan Sosabon. Ada tujuh belas anggota geng motor mengepung. Aku tunggu sepuluh menit.”

Dia berbicara melalui ponselnya. Tanpa menunggu jawaban di seberang, dia langsung mematikan panggilan dan kembali menatapku.

“Aku akan periksa ke luar. Tetap di sini sampai aku kembali.”

Read more...

Tidak semua rumah bisa dijadikan tempat untuk pulang.

Tidak semua rumah bisa dijadikan zona nyaman.

Tidak semua rumah bisa dikatakan sebagai rumah.

Read more...

Cerita dihapus

Untuk membaca versi lengkapnya, silahkan buka di Wattpad :: elvabari

Mohon maaf atas ketidaknyamanannya dan terima kasih untuk perhatiannya!