Satu hal yang langsung muncul di kepalaku begitu mengenali perempuan itu adalah melawannya.
Tidak peduli jika aku harus menyakiti diri sendiri lagi, asalkan aku bisa melindungi diriku dari kemunculannya yang sama sekali tidak terduga, maka kucengkeram tangannya sekuat yang kubisa. Bahkan menancapkan kuku jariku di sana hingga dia mulai meringis sakit.
Sontak saja aku melotot sekaligus menyilangkan kedua tanganku di dada sampai harus menahan ngilu. Baru saja ingin mengucapkan terima kasih karena sudah kembali menampungku di tempatnya tapi dia lebih dulu menghancurkan rasa terharuku.
Yang benar saja? Dia mau aku bertelanjang di hadapannya?!
“Sudah pernah kubilang kalau ini semakin mempersulit kita.”
“Turunkan suaramu!”
Aku terbangun saat mendengar suara bersahutan itu. Lalu merasakan kehangatan melingkupi sekujur tubuh. Ada yang memberikan selimut dan sepertinya aku tahu siapa. Maka aku hanya bergerak seakan terusik tanpa membuka mata di mana selanjutnya kepalaku diusap sejenak olehnya.